Teori Piaget Dan Penerapannya Dalam Pembelajaran Ipa Sd




Assalamu’alaikum warahmatullahiwabarakatuh






Bagaimana kabar anda hari ini? Semoga belalah fit-sehat doang, dan saya do’akan kepada bisa jadi sekali lagi yang telah membaca kata sandang ini, kendati:

  1. Nan belum bisa jodoh, sepatutnya segera dapat oponen. Aamiin….
  2. Yang belum boleh pekerjaan, semoga mendapatkan tiang penghidupan. Aamiin….
  3. Yang sedang berkreasi, mudah-mudahan rezkinya bertambah melimpah. Aamiin….
  4. Yang sedang bersekolah, mudah-mudahan sekolahnya berkah dan mendapatkan aji-aji yang berarti. Aamiin….

Teori Piaget mempunyai nama lengkap Jean Piaget, lahir di Swiss tepatnya di Neuchatel sreg masa 1869. Dari kecil Piaget terbawa dengan masalah biologi terutama tentang hewan (zoology). Puas usia 11 tahun sira telah menggambar karya ilmiah mengenai burung pipit andan, dan pada usia antara 15 – 18 tahun beliau banyak menulis akan halnya satwa bertubuh panjang usus (moluska) seperti siput terutama tentang struktur susunan tubuhnya yang dihubungkan dengan tempat tinggalnya.


A. Teori Piaget

Teori Piaget adalah bersendikan pada jalan serebral anak, dan menurut piaget proses belajar itu akan terjadi apabila terdapat aktivitas antara hamba allah dengan lingkungannya, baik itu lingkungan sosialnya maupun lingkungan fisiknya. Maka itu, Piaget mengungkapkan bahwa perkembangan kognitif anak memiliki peran nan terlampau utama intern proses penerimaan.

Dan menurut Piaget perkembangan kognitif mengarah kepada kemampuan nan dimiliki makanya koteng anak untuk memahami sesuatu. Selain itu, menurut Piaget cara berpikir anak asuh-anak itu farik dengan orang dewasa. Oleh sebab itu, psikologis anak sangat teradat dikembangkan dan pula diterapkan disetiap pangkat pendidikan.

Ada 4 pangkat perkembangan mental anak secara berurutan, diataranya:


1. Tahap Sensori Dedengkot

Tahap ini merupakan tahap mula-mula. Tahap ini dimulai sejak lahir sampai usia 2 tahun. Pada tahap ini, bayi membangun satu pemahaman mengenai marcapada dengan mengkoordinasikan camar duka-pengalaman sensor (seperti melihat dan mendengar) dengan tindakan-tindakan fisik.


2. Tahap Pemikiran Pra-Operasional

Tahap ini berada sreg uluran sukma antara 2-7 hari. Sreg tahap ini anak asuh mulai melukiskan dunia dengan pengenalan-kata dan tulangtulangan-tulang beragangan atau huruf angka. Menurut Piaget, walaupun momongan-anak pra sekolah bisa secara simbolis mencitrakan mayapada, namun mereka masih belum kaya untuk melaksanakan “ Operation (kampanye) ”, merupakan tindakan mental yang diinternalisasikan yang memungkinkan anak-momongan mengerjakan secara mental yang sebelumnya dilakukan secara raga.Perbedaan tahap ini dengan tahap sebelumnya adalah “ kemampuan anak mempergunakan tanda baca”. Pengusahaan fon buat anak pada tahap ini kelihatan dalam lima gejala berikut:


a. Imitasi tidak serempak

Anak mulai dapat menggambarkan sesuatu kejadian yang dialami atau dilihat, yang saat ini bendanya sudah tidak terserah kembali. Jadi pemikiran momongan sudah tidak dibatasi waktu sekarang dan enggak pula dibatasi maka itu tindakan-tindakan indrawi waktu ini.

Ideal: anak dapat bermain kue-kuean sendiri atau bermain pasar-kodian. Ini adalah hasil imitasi.


b. Permainan Metaforis

Sifat permainan alegoris ini sekali lagi imitatif, yaitu anak menyedang ki belajar peristiwa yang pernah dialami.

Lengkap: anak cewek nan dolan dengan bonekanya, seakan-akan bonekanya merupakan adiknya.


c. Menggambar

Pada tahap ini yaitu geretak antara permainan simbolis dengan paparan mental. Anasir pada permainan asosiatif terletak pada segi “kegembiraan” pada diri anak yang sedang menggambar. Padahal unsur gambaran mentalnya terletak pada “persuasi anak asuh kerjakan memulai meniru sesuatu yang riel”.

Kamil: anak mulai menggambar sesuatu dengan potlot atau alat tulis lainnya.


d. Paparan Mental

Merupakan penggambaran secara pikiran suatu sasaran alias pengalaman yang lewat. Gambaran mental anak pada tahap ini rata-rata statis. Anak masih mempunyai kesalahan yang sistematis dalam mengambarkan sekali lagi kampanye atau transmutasi yang sira amati.

Pola yang digunakan Piaget adalah deretan lima kelici tahir dan hitam.


e. Bahasa Ucapan

Anak menggunakan kritik alias bahasa seumpama representasi benda maupun kejadian. Melalui bahasa momongan dapat berkomunikasi dengan orang tak mengenai keadaan kepada orang lain.


3. Tahap Usaha berfikir Kongkret

Tahap ini rani puas juluran usia 7-11 tahun.tahap ini dicirikan dengan perkembangan system pemikiran yang didasarkan sreg aturan-rasam yang konsekuen. Momongan sudah melebarkan manuver logis.

Proses-proses berfaedah selama tahapan ini yakni:


a. Pengurutan

Adalah kemampuan kerjakan mengurutkan objek menurut ukuran, bentuk, ataupun ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda format, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil.


b. Klasifikasi

Kemampuan untuk membagi nama dan mengenali serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, alias karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda boleh menyertakan benda lainnya ke dalam afiliasi tersebut. Anak lain kembali n kepunyaan keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan).


c. Decentering

Anak mulai mempertimbangkan sejumlah aspek bermula suatu permasalahan bakal dapat memecahkannya. Perumpamaan kamil momongan lain akan lagi menganggap gelas gempal tapi pendek lebih kurang isinya dibanding gelas kerdil yang tinggi.


d.Reversibility

Anak mulai mengarifi bahwa besaran atau benda-benda bisa diubah, kemudian kembali ke keadaan sediakala. Bagi itu, anak bisa dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sebagaimana 8, 8-4 akan sebagai halnya 4, kuantitas sebelumnya.


e. Konservasi

Mengerti bahwa kuantitas, strata, ataupun jumlah benda-benda adalah enggak berhubungan dengan dominasi atau tampilan berpunca objek atau benda-benda tersebut. Perumpamaan contoh, bila anak asuh diberi gelas yang seukuran dan isinya sepadan banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke kaca enggak yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tegar proporsional banyak dengan isi gelas lain.


f. Penghilangan sifat Egosentrisme

Kemampuan untuk melihat sesuatu berusul sudut pandang orang lain (malah ketika orang tersebut berpikir dengan cara nan salah). Andai komplet, Lala menyimpan boneka di kerumahtanggaan peti, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Baim memindahkan anak-anakan itu ke intern laci, setelah itu baru Lala juga ke kolom. Anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Lala akan tetap menganggap anak-anakan itu cak semau di intern peti walau anak itu sempat bahwa anak-anakan itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Baim.


4. Tahap Operasi berfikir Formal

Tahap operasional protokoler adalah periode terakhir jalan serebral internal teori Piaget. Tahap ini tiba dialami anak privat usia 11 masa dan terus berlangsung setakat dewasa. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan cak bagi berpikir dalam-dalam secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan berpangkal informasi nan tersedia.


B. Kelebihan dan Kesuntukan Teori Piaget

 Kelebihan Teori Piaget:

  1. Pengajian pengkajian berpusat di otak.
  2. Siswa membiasakan sesuai tahap perkembangannya
  3. Bisa meningkatkan kemampuan peserta didik buat memecahkan ki kesulitan
  4. Dapat meningkatkan ki dorongan

 Kesuntukan Teori Piaget:

  1. Kemampuan fungsi kognisi dari setiap siswa dianggap sama
  2. Siswa tidak dapat menemukan gaya belajarnya sendiri.
  3. Kuantitas kognisi kian ditekankan ketimbang kualitas.

Source: https://www.wahyudiansyah.com/2021/10/kelebihan-dan-kekurangan-teori-piaget-pada-pembelajaran-ipa-di-sd.html

Posted by: likeaudience.com