Makalah Evaluasi Pembelajaran Ipa Sd



Referat EVALUASI



Alat penglihatan Syarah : Pendidikan IPA Di SD



Dosen Pengampu : Drs. H. Yudo Dwiyono, M.Si







Makanya :



M. Khaidir Ali A M (1205115124)



Acara STUDI PENDIDIKAN Hawa SEKOLAH Bawah



FAKULTAS KEGURUAN DAN Ilmu keguruan



UNIVERSITAS MULAWARMAN



2013




Perkenalan awal PENGANTAR





Segala puji bagi Tuhan yang sudah menolong hamba-Nya menyelesaikan referat ini dengan penuh kemudahan. Sonder pertolongan Nya barangkali penggarap tidak akan sanggup memintasi dengan baik.






Makalah ini disusun



sebaiknya



pembaca bisa mengetahui




bahan bimbing maupun materi pada mata kuliah Pendidikan IPA Di SD



yang kami sajikan berdasarkan pengamatan



dari



beraneka rupa mata air. Referat ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu nan datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Sekadar dengan penuh keluasan pikiran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya kertas kerja ini bisa terkendali.






Makalah ini memuat tentang “


Evaluasi Pengajian pengkajian











Semoga makalah ini dapat memasrahkan wawasan yang bertambah luas kepada pembaca. Sungguhpun makalah ini mempunyai manfaat dan kekurangan. Kreator mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.






         Samarinda, 8
Oktober
2013







Panitera





DAFTAR ISI













KATA PENGANTAR
………. …
.
………………………………………………………..






i

DAFTAR ISI

…………………….
..
……………………………………………………………
ii




BAB I PENDAHULUAN






A.



Latar Bokong
…………………………………………………………………………….. 1


B.



Rumusan Masalah
…………………………………………………………………………

1


C.



Harapan

Penulisa……………………………………………………………………………. 2









Portal II PEMBAHASAN





A.



Signifikansi

E
valuasi……………………………………………………………………….
..
3


B.



Kedudukan Evaluasi Dalam Pembelajaran


…………………………………….

.11


C.



Tujuan Evaluasi Penelaahan

………………….
.
………………………………….
..16


D.



Fungsi Evaluasi Pendedahan

……………………………………………………..
…19


E.



Prinsip – Prinsip Umum Evaluasi

……………………………………………….
.

..25


F.



Varietas Evaluasi Pembelajaran

………………………………………………………
..
..
. 28



BAB III Pengunci



A.



Kesimpulan……………………………………………………………………………………

30


B.



Saran…………………………………………………………………………………………….

30









DAFTAR Referensi



Bab I



PENDAHULUAN





A.





Latar Belakang




Salah satu kompetensi yang harus Kita kuasai adalah evaluasi pendedahan. Kompetensi
ini
sejalan
dengan
tugas
dan
kewajiban
jawab
Kita
sebagai suhu
intern
pengajian pengkajian,
yaitu
mengevaluasi
penerimaan
terjadwal
di dalamnya melaksanakan penilaian proses dan hasil belajar. Kompetensi tersebut sependapat pula dengan radas penilaian kemampuan master, dimana pelecok satu indikatornya
adalah
melakukan
evaluasi
pembelajaran.
Masih
banyak pun teoretis nan menggambarkan kompetensi radiks yang harus Engkau kuasai. Hal ini menunjukkan
bahwa
lega
semua
model
kompetensi
hawa (teacher competency)
camar
menggambarkan
dan
mensyaratkan
adanya
kemampuan
guru
kerumahtanggaan mengevaluasi pembelajaran, sebab kemampuan mengamalkan evaluasi pembelajaran merupakan kemampuan dasar yang mutlak harus dimiliki guru atau calon guru.






B.





Rumusan Ki aib






1.



Segala apa denotasi evaluasi ?




2.



Tujuan dari evaluasi ?




3.



Manfaat – fungsi evaluasi ?




4.



Apa manfaat evaluasi ?




5.



Jelaskan Kemiripan dan Perbedaan Evaluasi dengan Penilaian ?




6.



Bagaimana Kedudukan evaluasi dalam Penataran





C.





Tujuan




Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka harapan penulisan adalah laksana berikut:



1.
Dapat memafhumi pengertian evaluasi




2.
Dapat menjelaskan maksud dari evaluasi




3.
Bisa menamakan fungsi evaluasi




4.
Dapat memahami pertepatan antara evaluasi dengan penilaian




5.
Dapat menjelaskan manfaat evaluasi




6.
Dapat menjelaskan geta evaluasi internal penerimaan





BAB II





A. Denotasi Evaluasi





Intern sistem pengajian pengkajian (maksudnya pembelajaran seumpama suatu sistem), evaluasi yaitu salah onderdil berjasa dan tahap yang harus ditempuh oleh temperatur bagi mengetahui maslahat pembelajaran. Hasil nan diperoleh dapat
dijadikan
balikan
(feed-back)
lakukan
master
privat
memperbaiki
dan menyempurnakan program dan kegiatan pembelajaran. Di sekolah, Dia pelahap mendengar bahwa guru sering memberikan ulangan kronik, ujian intiha semester, ujian blok, tagihan, tes tertulis, tes lisan, tes tindakan, dan sebagainya. Istilah-istilah ini pada dasarnya yakni adegan dari sistem evaluasi itu seorang.




Coba Anda simak beberapa pengertian istilah berikut ini !



Apa itu tes ?



Istilah tes pecah mulai sejak bahasa latin
“testum”
yang penting sebuah piring alias jambangan
berasal
tanah
liat.
Istilah
pembuktian
ini
kemudian
dipergunakan
dalam lapangan psikologi dan selanjutnya tetapi dibatasi sampai metode ilmu jiwa, yaitu suatu cara untuk menginterogasi seseorang. Investigasi tersebut dilakukan start semenjak pemberian satu tugas kepada seseorang atau cak bagi menyelesaikan suatu
ki aib
tertentu.
Sebagaimana
dikemukakan
Sax
(1980
:
13)
bahwa “a test may be defined as a task or series of task used to obtain systematic observations presumed to be representative of educational or psychological traits or attributes”.
(pembenaran dapat didefinisikan seumpama tugas atau serangkaian tugas nan digunakan bikin memperoleh pengamatan-pengamatan sistematis, yang dianggap mewakili ciri atau aribut pendidikan atau psikologis). Istilah tugas boleh berbentuk soal atau perintah/suruhan tak nan harus dikerjakan oleh peserta didik. Hasil kuantitatif ataupun kualitatif dari pelaksanaan tugas itu digunakan bikin menarik simpulan-simpulan tertentu terhadap peserta didik. Tentatif
itu, S. Hamid Hasan (1988 : 7)
menguraikan
“tes
yakni
gawai akumulasi data nan dirancang secara partikular. Kekhususan tes dapat terpandang berpokok konstruksi butiran (soal) nan dipergunakan”. Rumusan ini lebih terfokus kepada tes sebagai alat pengumpul data. Memang pengumpulan data bukan tetapi terserah n domestik prosedur penelitian, belaka pun suka-suka n domestik prosedur evaluasi. Dengan
pengenalan
lain,
untuk
mengumpulkan
data
evaluasi,
suhu
memerlukan suatu alat, antara lain pembenaran. Tes dapat substansial cak bertanya. Oleh sebab itu, tipe pertanyaan,
rumusan
pertanyaan,
dan
sempurna
jawaban
yang
disediakan
harus menyempurnakan
suatu
alat
tolok
yang
ketat.
Demikian
pula
waktu
yang disediakan bikin menjawab soal-tanya serta administrasi tata tes diatur secara tunggal juga. Persyaratan-persyaratan ini berbeda dengan alat pengumpul data lainnya. Dengan demikian, pemeriksaan ulang sreg hakikatnya merupakan suatu gawai yang berisi serangkaian tugas yang harus diselesaikan ataupun soal-soal nan harus dijawab oleh siswa didik cak bagi mengukur suatu aspek perilaku tertentu. Artinya, fungsi tes adalah umpama alat ukur. Dalam tes penampakan membiasakan, aspek perilaku nan hendak diukur adalah tingkat kemampuan peserta didik n domestik menyelesaikan materi pelajaran yang telah disampaikan. Barang apa itu pengukuran ? Ahmann dan Glock dalam S.Hamid Hasan (1988 : 9) menjelaskan
‘in the last analysis measurement is only a part, although a very substansial part of evaluation. It provides information upon which an evaluation can be based Educational measurement is the process that attempt to obtain a quantified representation of the degree to which a trait is possessed by a pupil’ .
(dalam kajian terakhir, pengukuran hanya yakni fragmen, yaitu penggalan yang sangat maujud berpangkal
evaluasi.
Pengukuran
meluangkan
informasi,
di
mana
evaluasi
dapat didasarkan.
Pengukuran
pendidikan
adalah
proses
yang
berusaha
kerjakan mendapatkan representasi secara kuantitatif tentang sejauh mana satu cirri nan
dimiliki
oleh
peserta
asuh).
Pendapat
yang
proporsional
dikemukakan
oleh Wiersma dan Jurs (1985), bahwa “technically, measurement is the assignment of numerals to objects or events according to rules that give numeral quantitative meaning”. (secara teknis, pengukuran adalah pengalihan bersumber angka ke objek atau keadaan sesuai dengan aturan yang memberikan makna angka secara kuantitatif). Dengan demikian, dapat
dikemukakan bahwa pengukuran adalah suatu proses atau kegiatan lakukan menentukan kuantitas ketimbang sesuatu.





Introduksi “sesuatu” bisa bermanfaat peserta didik, guru, gedung sekolah, meja belajar, white board, dan sebagainya.
N domestik
proses
pengukuran,
pasti
guru
harus
memperalat
alat ukur (tes atau non-pembenaran). Peranti ukur tersebut harus standar, ialah memiliki derajat keabsahan dan keterjaminan nan tinggi. Dalam bidang pendidikan, psikologi, alias variabel-variabel sosial lainnya, kegiatan pengukuran umumnya menunggangi konfirmasi. Dalam sejarah perkembangannya, aturan mengenai karunia poin ini didasarkan
pada
teori
pengukuran
ilmu jiwa
yang
dinamakan
psychometric . Doang demikian, boleh semata-mata satu kegiatan evaluasi dilakukan tanpa melampaui proses pengukuran.




Apa itu penilaian ?




Istilah penilaian yaitu alih bahasa pecah istilah
assessment, bukan berbunga istilah
evaluation.
Dalam
proses
pengajian pengkajian,
penilaian
sering
dilakukan guru
bikin
menyerahkan
bermacam rupa
informasi
secara
berkesinambungan
dan mendunia tentang proses dan hasil yang sudah lalu dicapai peserta didik. Artinya, penilaian tidak hanya ditujukan pada pemilikan pelecok suatu bidang tertentu cuma, tetapi bersifat mendunia yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai. Sementara itu, Anthony J.Nitko (1996 : 4) menjelaskan “assessment is a broad term defined as a process for obtaining information that is used for making decisions about students, curricula and programs, and educational policy” . (penilaian adalah satu proses cak bagi memperoleh butir-butir nan digunakan cak bagi membentuk keputusan tentang siswa tuntun, kurikulum, program, dan ketatanegaraan pendidikan). Dalam hubungannya dengan proses dan hasil belajar, penilaian bisa didefinisikan andai suatu proses atau kegiatan yang sistematis dan berkesinambungan untuk mengumpulkan informasi mengenai proses dan hasil belajar siswa jaga dalam rajah membuat keputusan-keputusan berdasarkan kriteria dan pertimbangan tertentu. Kalau dilihat privat konteks nan lebih luas, keputusan tersebut dapat menyangkut keputusan akan halnya murid pelihara, keputusan tentang kurikulum dan program atau pun keputusan akan halnya kebijakan pendidikan. Keputusan
akan halnya
petatar
didik
membentangi
pengelolaan
pendedahan, penempatan peserta didik sesuai dengan tinggi maupun jenis acara pendidikan, bimbingan
dan
konseling,
dan
menyeleksi
peserta
tuntun
untuk
pendidikan kian lanjut. Keputusan tentang kurikulum dan program meliputi keefektifan (summative evaluation)
dan
bagaimana
cara
memperbaikinya
(formative evaluation). Keputusan tentang kebijakan pendidikan bisa dibuat pada tingkat domestik/kewedanan (kabupaten/ii kabupaten), regional (provinsi), dan tingkat nasional. Keputusan
penilaian
terhadap
suatu
hasil
belajar
lalu
bermakna
untuk membantu pelajar jaga merefleksikan apa yang mereka ketahui, bagaimana mereka
membiasakan,
dan
mendorong
beban
jawab
dalam
belajar.
Keputusan penilaian
bisa
dibuat
oleh
guru,
sesama
peserta
didik
(peer)
maupun
maka itu dirinya sendiri (self-assessment) . Pengambilan keputusan perlu menunggangi pertimbangan
yang
berbeda-beda
dan
membandingkan
hasil
penilaian. Pengambilan
keputusan
harus
dapat
membimbing
peserta
didik
lakukan melakukan pembaruan hasil membiasakan.




Segala apa itu evaluasi ?



Guba dan Lincoln (1985 : 35), mendefinisikan evaluasi misal “a process for describing an evaluand and judging its merit and worth” . (satu proses untuk menayangkan evaluan (insan yang dievaluasi) dan menimbang makna dan nilainya).
Sax
(1980
:
18)
juga
berpendapat
“evaluation is a process through which a value judgement or decision is made from a variety of observations and from the background and training of the evaluator”.
(evaluasi
adalah
satu proses dimana pertimbangan alias keputusan suatu nilai dibuat dari berbagai pengamatan, latar belakang serta pelatihan terbit evaluator). Dari dua rumusan tentang evaluasi ini, dapat kita songsong gambaran bahwa evaluasi adalah suatu proses yang sistematis dan berkelanjutan cak bagi menentukan kualitas (nilai dan arti) daripada sesuatu, bersendikan pertimbangan dan kriteria tertentu lakukan membuat satu keputusan. Berdasarkan konotasi ini, ada bilang hal yangperlu kita pahami kian lanjut, yaitu :




1.
Evaluasi adalah suatu proses lain suatu hasil (produk).




Hasil
yang
diperoleh
dari
kegiatan
evaluasi
adalah
kualitas
tinimbang sesuatu,
baik
yang
menyangkut
akan halnya
nilai
maupun
guna.
Sementara itu kegiatan untuk sampai kepada pemberian nilai dan kemustajaban itu adalah evaluasi. Sekiranya
Anda
melakukan
analisis
tentang
evaluasi,
maka
yang
Anda
bagi ialah mempelajari bagaimana proses pemberian pertimbangan mengenai kualitas daripada sesuatu. Gambaran kualitas yang dimaksud merupakan konsekuensi konsekuen mulai sejak proses evaluasi nan dilakukan. Proses tersebut tentu dilakukan secara berstruktur dan terus-menerus, dalam fungsi terencana, sesuai dengan prosedur dan resan, dan terus menerus.




2.
Harapan
evaluasi
yaitu
bakal
menentukan
kualitas
daripada
sesuatu, terutama yang berkenaan dengan nilai dan fungsi.S.
Hamid
Hasan
(1988
:
14-15)
secara
tegas
membedakan
kedua
istilah tersebut bak berikut :




Pemberian
skor
dilakukan
apabila
seorang
evaluator
memberikan pertimbangannya
mengenai
evaluan
minus
menghubungkannya
dengan sesuatu yang berkarakter dari luar. Jadi pertimbangan yang diberikan sebaik-baiknya berdasarkan apa evaluan itu sendiri. Sedangkan kemustajaban, berhubungan dengan posisi dan peranan evaluan privat satu konteks tertentu. Tentu belaka kegiatan evaluasi yang komprehensif adalah yang
menutupi
baik
proses
belas kasih
keputusan
adapun
kredit dan
proses keputusan tentang arti, namun hal ini enggak berarti bahwa suatu kegiatan evaluasi harus selalu membentangi keduanya.




Pemberian nilai dan khasiat ini privat bahasa yang dipergunakan Scriven (1967) merupakan formatif dan sumatif. Jikalau formatif dan sumatif adalah fungsi evaluasi,
maka
nilai
dan
arti
adalah
hasil
kegiatan
nan
dilakukan
maka itu evaluasi.




3.
Dalam proses evaluasi harus ada belas kasih pertimbangan (judgement) .




Pemberian
pertimbangan
ini
puas
dasarnya
merupakan
konsep
sumber akar evaluasi. Melalui pertimbangan inilah ditentukan kredit dan arti
(worth and merit) dari sesuatu yang sedang dievaluasi. Tanpa hadiah pertimbangan, suatu kegiatan bukanlah termasuk kategori kegiatan evaluasi.




4.
Pemberian pertimbangan tentang nilai dan kemujaraban haruslah berdasarkan criteria tertentu. Tanpa
barometer
yang
jelas,
pertimbangan
nilai
dan
arti
nan
diberikan bukanlah suatu proses yang dapat diklasifikasikan ibarat evaluasi. Kriteria yang
digunakan
dapat
namun
berpangkal
berbunga
apa
nan
dievaluasi
itu
sendiri (internal), tetapi boleh juga berasal berusul asing apa yang dievaluasi (eksternal), baik yang bersifat
kuantitatif
maupun kualitatif. Kalau yang dievaluasi itu
yaitu
proses
pembelajaran,
maka
standar
yang dimaksud
bisa
saja dikembangkan terbit karakteristik proses penelaahan itu sendiri, tetapi dapat pula dikembangkan patokan umum tentang proses pembelajaran. Kriteria ini penting dibuat oleh evaluator dengan pertimbangan (a) hasil evaluasi bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah (b) evaluator lebih
percaya
diri
(c) meninggalkan adanya unsur subjektifitas (d) memungkinkan hasil evaluasi akan sama sekalipun dilakukan pada hari dan orang yang berlainan, dan (e) memberikan kemudahan cak bagi evaluator dalam melakukan penafsiran hasil evaluasi.




Standar sangat diperlukan cak bagi menentukan pencapaian penunjuk hasil berlatih
pelajar
tuntun
yang
sedang
diukur.
N domestik
peluasan
kriteria untuk menentukan kualitas jawaban pesuluh bimbing, cak semau beberapa kejadian yang harus dipertimbangkan, antara bukan (a) kriteria harus merebak tetapi tidak gado
perian,
sehingga
sulit
dilaksanakan
(b)
bisa
dipahami
dengan jelas oleh murid didik, ayah bunda dan hawa (c) mencerminkan kesamarataan, dan (d) tidak merefleksikan elastis nan digresi, latar belakang budaya, sosial-ekonomi, ras dan jender. Berdasarkan rumusan pengertian tentang tes, pengukuran, penilaian dan evaluasi yang telah
juru tulis kemukakan di atas, bisa ditarik kesimpulan bahwa cak semau jenis evaluasi atau penilaian yang mempergunakan pemeriksaan ulang secara intensif
bagaikan
alat
pengumpulan
data,
seperti
penilaian
hasil
belajar. Biarpun
internal
perkembangan
ragil
tentang
diversifikasi
evaluasi
ataupun penilaian
seperti
ini
menunjukkan
bahwa
tes
bukan
suatu-satunya
radas pengumpul data. Doang demikian harus diakui pun, bahwa tes adalah radas pengumpul data evaluasi dan penilaian nan paling kecil tua bangka dan utama. Tes bukanlah evaluasi, lebih lagi bukan sekali lagi pengukuran. Tes bertambah sempit urat kayu lingkupnya dibandingkan pengukuran, dan pengukuran lebih sempitdibandingkan evaluasi.




Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa pengecekan dibangun berdasarkan teori
pengukuran
tertentu.
Tanpa
bantuan
teori
pengukuran,
maka pembuatan
testimoni
bisa
dikatakan
enggak
mungkin.
Bagaimana
Ia
harus membuat
pertanyaan-pertanyaan
dalam
suatu
pengecekan,
bagaimana
Anda cak hendak
menakar
derajat
validitas
dan
reliabilitas
tes
berdasarkan
teori psychometric , mencerminkan peranan teori pengukuran yang sangat besar dan penting. Pengukuran dalam psikometrik tidak lagi merupakan babak integral maupun suatu langkah yang selalu harus ditempuh intern kegiatan evaluasi. Pengukuran hanya merupakan salah suatu langkah nan mungkin dipergunakan internal kegiatan evaluasi.





Kemiripan dan Perbedaan Evaluasi dengan Penilaian.




Persamaannya
adalah
keduanya
mempunyai
denotasi
menilai
ataupun menentukan
nilai
sesuatu.
Di
samping
itu,
gawai
yang
digunakan
bagi mengumpulkan datanya pun seimbang. Sementara itu perbedaannya terdapat plong urat kayu skop (scope) dan pelaksanaannya. Ruang radius penilaian lebih sempit dan lazimnya semata-mata terbatas lega salah suatu suku cadang atau aspek saja, seperti penampakan belajar peserta asuh. Pelaksanaan penilaian rata-rata dilakukan n domestik konteks internal, yakni orang-sosok yang menjadi babak atau
terlibat
dalam
sistem
pembelajaran
yang
bersangkutan.
Misalnya, guru
menilai
prestasi
sparing
peserta
pelihara,
supervisor
menilai
penampilan guru, dan sebagainya. Ulas cak cakupan evaluasi kian luas, mencakup semua komponen dalam suatu sistem (sistem pendidikan, sistem kurikulum, system pembelajaran)
dan
boleh
dilakukan
lain
hanya
pihak
privat
(evaluasi intern) tetapi juga pihak eksternal (evaluasi eksternal), begitu juga konsultan mengevaluasi suatu program. Evaluasi dan penilaian lebih berperilaku komprehensif yang membentangi pengukuran, sedangkan
tes
merupakan
salah
suatu
perabot
(instrument)
pengukuran. Pengukuran
lebih
membatasi
kepada
gambaran
yang
bersifat
kuantitatif (angka-kredit) tentang kejayaan sparing peserta pelihara
(learning progress) , sedangkan evaluasi dan penilaian makin berkepribadian kualitatif. Di samping itu, evaluasi dan penilaian pada hakikatnya yaitu satu proses takhlik keputusan tentang nilai satu objek. Keputusan penilaian (value judgement) lain hanya didasarkan kepada hasil pengukuran
(quantitative description) , sekadar
dapat
kembali
didasarkan
kepada
hasil
pengamatan
dan
wawancara (qualitative description). Lakukan makin jelasnya, Engkau dapat memperhatikan gambar berikut ini.




Tulangtulangan 1.1



Koalisi Evaluasi-Penilaian-Pengukuran dan Tes



Untuk
memahami
kian
jauh
tentang
istilah-istilah
privat
evaluasi,
coba Anda perhatikan juga ilustrasi berikut ini. Ibu
Euis
ingin
memahami
apakah
siswa
didiknya
sudah
menguasai kompetensi
radiks
dalam
ain
pelajaran
Aqidah-Moral.
Untuk
itu,
Ibu Euis menerimakan tes tercatat dalam bentuk objektif pilihan-ganda sebanyak 50
soal
kepada
peserta
didiknya
(artinya
Bu
Euis
sudah lalu
memperalat tes). Selanjutnya, Ibu Euis memeriksa lembar jawaban peserta didik sesuai dengan
sentral
jawaban,
kemudian
sesuai
dengan
rumus
tertentu
dihitung skor mentahnya. Ternyata, skor mentah yang diperoleh pelajar didik sangat bervariasi, ada nan memperoleh skor 25, 36, 44, 47, dan seterusnya (sampai disini sudah terjadi pengukuran). Ponten atau poin-poin tersebut pasti belummempunyai poin/makna dan arti. Untuk memperoleh kredit dan khasiat dari setiap poin tersebut, Ibu Euis melakukan pengolahan kredit dengan pendekatan PAP. Hasil pengolahan dan penafsiran dalam skala 0 – 10 menunjukkan bahwa skor 25 memperoleh biji 5 (berarti lain menguasai), skor 36 memperoleh poin 6 (berarti memadai tanggulang), nilai 44 memperoleh skor 8 (bermanfaat memecahkan), dan biji 47 memperoleh nilai 9 (berarti sangat menguasai). Sebatas disini sudah terjadi proses penilaian. Ini contoh dalam ruang cak cakupan hasil berlatih. Seandainya Ibu Euis ingin menilai seluruh komponen pembelajaran (ketercapaian tujuan, keefektifan metode dan media, manifestasi guru, dan lain-lain), barulah terjadi kegiatan evaluasi pendedahan.




Dengan demikian, pengertian evaluasi pembelajaran ialah
suatu proses atau
kegiatan
yang
sistematis,
per-sisten
dan
mondial
dalam rangka pengendalian, penjaminan dan penetapan
kualitas (nilai dan kekuatan) pengajian pengkajian
terhadap
berbagai
komponen
pembelajaran,
berlandaskan pertimbangan
dan
standar
tertentu,
ibarat
gambar
pertanggungjawaban temperatur n domestik
melaksanakan penelaahan. Sedangkan penilaian hasil belajar adalah
suatu
proses
atau
kegiatan
yang
sistematis,
berkelanjutan
dan mondial dalam rangka penimbunan dan pengolahan informasi untuk menilai pencapaian proses dan hasil belajar peserta didik.





B. Geta Evaluasi Internal Pembelajaran




Kata dasar “pendedahan” adalah belajar. Kerumahtanggaan arti sempat pembelajaran bisa diartikan sebagai satu proses atau cara yang dilakukan sebaiknya seseorang dapat berbuat kegiatan belajar. Sedangkan belajar adalah suatu proses perubahan tingkah larap karena interaksi individu dengan mileu dan pengalaman. Perubahan
tingkah
laku
tersebut
bukan
karena
pengaruh
obat-obatan
atau zat
kimia
lainnya
dan
cenderung
bersifat
permanen. Istilah “pembelajaran” (instruction) farik dengan istilah “pengajaran” (teaching) . Kata “indoktrinasi” lebih berperangai halal dan tetapi ada di intern konteks guru dengan peserta didik di papan bawah/madrasah, sedangkan kata
“penataran”
tidak
hanya
ada
kerumahtanggaan konteks guru dengan pesuluh didik di inferior secara formal, semata-mata juga menutupi kegiatan-kegiatan membiasakan peserta pelihara di luar kelas yang mungkin saja tidak dihadiri makanya guru secara fisik.




Kata
“penerimaan”
lebih
menekankan
puas
kegiatan
belajar
peserta
jaga (child-centered)
secara
sungguh-bukan main
yang
menyertakan
aspek
intelektual, emosional,
dan
sosial,
sedangkan
pengenalan
“pengajaran”
lebih
cenderung
pada kegiatan
mengajar
guru (teacher-centered)
di
kelas bawah.
Dengan
demikian,
kata “penerimaan” ruang lingkupnya lebih luas daripada kata “pengajaran”. Dalam faedah luas, pengajian pengkajian adalah suatu proses atau kegiatan nan sistematis dan sistemik, yang berperilaku interaktif dan komunikatif antara pendidik (guru) dengan siswa bimbing, sumber belajar dan lingkungan untuk menciptakan suatu kondisi yang memungkinkan terjadinya tindakan sparing pelajar didik, baik di kelas alias di luar kelas, dihadiri guru secara fisik atau bukan, bakal menguasai kompetensi yang telah ditentukan.




Barang apa implikasi pengertian penataran ini bagi Sira bagaikan hawa ?



1. Penerimaan adalah suatu acara. Ciri suatu program adalah sistematik, sistemik, dan terencana. Sistematik artinya keserasian. Beliau harus dapat takhlik acara pembelajaran dengan urutan anju-langkah tertentu, tiba
berpangkal
perencanaan,
pelaksanaan
sampai
dengan
evaluasi.
Setiap langkah harus bersyarat, dimana langkah pertama adalah syarat lakukan masuk ancang kedua, dan seterusnya. Sistemik menunjukkan adanya suatu sistem.
Anda
harus
memafhumi
pembelajaran
sebagai
suatu
sistem
yangterdapat
berbagai
komponen,
antara
bukan
tujuan,
materi,
metoda,
alat angkut, sumur
berlatih,
evaluasi,
murid
jaga,
lingkungan
dan
guru
nan
saling gandeng dan kecanduan satu proporsional lain serta berlangsung secara terencana. Kamu juga harus boleh membentuk rencana program pembelajarandengan baik, artinya disusun melangkahi proses pemikiran yang matang. Hal ini penting, karena perencanaan program yaitu pedoman bagi hawa dalam melaksanakannya pada situasi nyata.




2. Setelah pembelajaran berproses, tentu Dia perlu mengetahui keistimewaan dan efisiensi semua komponen nan ada dalam proses pembelajaran. Lakukan itu, Anda harus melakukan evaluasi pembelajaran. Begitu juga ketika siswa didik radu mengikuti proses penelaahan, karuan mereka ingin memaklumi sejauhmana hasil nan dicapai. Untuk itu, Anda harus berbuat penilaian hasil belajar. Dalam pembelajaran terletak proses sebab-akibat. Suhu yang mengajar merupakan penyebab utama atas terjadinya tindakan belajar petatar didik, meskipun tidak setiap tindakan belajar peserta jaga merupakan akibat guru mengajar. Maka dari itu karena itu, Kamu sebagai “figur sentral”, harus mampu menetapkan strategi pengajian pengkajian nan tepat, sehingga bisa menolak tindakan sparing peserta
didik yang aktif, fertil, efektif, berpunya, efisien, dan menghilangkan.




3.
Pendedahan
bersifat
interaktif
dan
komunikatif.
Interaktif
artinya
kegiatan pembelajaran merupakan kegiatan yang bersifat multi sebelah dan tukar
mempengaruhi.
Artinya,
Anda
harus
berinterakasi
dengan
semuakomponen
pendedahan,
jangan didominasi
maka itu
satu
komponen
tetapi. Nana Sy.Sukmadinata (2007 : 14) menegaskan “interaksi ini enggak hanya pada
tingkat
barang apa
dan
bagaimana,
doang
bertambah
jauh
pecah
itu,
yaitu
pada tingkat
mengapa,
tingkat
mencari
makna,
baik
makna
sosial
(socially conscious)
maupun makna pribadi
(self-conscious) ”. Sedangkan komunikatif dimaksudkan
bahwa
aturan
komunikasi
antara
peserta
didik
dengan
hawa atau sebaliknya, sesama peserta asuh, dan sesama guru harus dapat tukar menjatah dan menerima serta memahami. Anda dengan pesuluh didik harusdapat menunggangi bahasa nan baik dan benar, intern keefektifan menunggangi kosa kata yang sederhana, kalimat nan jelas dan efektif, intonasi yang baik, irama dan tempo bicara yang enak didengar. Anda juga harus menunggangi bahasa
yang
runtut,
atraktif,
mudah
dipahami,
dan
dapat
menjemput antusiasme petatar ajar untuk menyimak materi pelajaran.




4.
N domestik proses pembelajaran, Anda harus dapat menciptakan kondisi-kondisi nan
memungkinkan
terjadinya
kegiatan
belajar
pelajar
didik.
Kondisi-kondisi
yang
dimaksud
antara
enggak
:
memberi
tugas,
mengamalkan
diskusi, pertanyaan-jawab,
mendorong
siswa
untuk
berani
mengedepankan
pendapat, tertera melakukan evaluasi. Situasi inilah nan dimaksudkan Stigging dalam Furqon (2001) bahwa “assessment as instruction” . Maksudnya, “assessment and teaching can be one and the same” . Anda juga harus banyak memberikanrangsangan
(stimulus)
kepada petatar pelihara, sehingga terjadi kegiatan berlatih pada diri peserta didik.




5.
Proses
pembelajaran
dimaksudkan
agar
master
dapat
mencapai
tujuan pengajian pengkajian
dan
pelajar
didik
dapat
membereskan
kompetensi
yang
telah ditetapkan.
Tujuan
ataupun
kompetensi
tersebut
biasanya
sudah
dirancang dalam
perencanaan
penerimaan
nan
berbentuk
tujuan
pembelajaran, patokan kompetensi, kompetensi dasar dan
penunjuk. Bagi mengetahui hinggamana pelajar pelihara menyentuh tujuan pendedahan maupun menyelesaikan kompetensi tertentu, maka Anda harus melakukan tindakan evaluasi. N domestik proses pembelajaran, Anda akan mengatur seluruh jalinan kegiatan pembelajaran,
tiba
dari
membuat
disain
pendedahan,
melaksanakan kegiatan pembelajaran, berlaku mengajar atau membelajarkan, melakukan evaluasi
penataran
termasuk
proses
dan
hasil
belajar
yang
faktual “dampak pengajaran”. Peran peserta didik adalah dolan membiasakan, yaitu mengalami proses belajar, menyentuh hasil belajar, dan memperalat hasil belajar
yang
digolongkan
sebagai
“dampak
pengarak” .
Melalui
belajar, diharapkan
kemampuan
mental
peserta
didik
semakin
meningkat
sesuai dengan perkembangan peserta didik yang beremansipasi diri, sehingga ia menjadi utuh dan mandiri.





Penampilan sparing




Alas kata
“prestasi”
berasal
dari
bahasa
Belanda
yaitu prestatie .
Kemudian dalam
bahasa
Indonesia
menjadi
“penampakan”
yang
penting
“hasil
manuver”. Istilah
“prestasi
berlatih”
(achievment)
farik
dengan
“hasil
membiasakan” (learning outcome) . Prestasi berlatih pada umumnya berkenaan dengan aspek pengetahuan, sedangkan hasil belajar membentangi aspek pembentukan watak peserta didik. Kata prestasi banyak digunakan internal berbagai bidang dankegiatan antara enggak dalam kesenian, olah badan, dan pendidikan, khususnya pembelajaran. Prestasi
belajar
merupakan
suatu
masalah
nan
berkepribadian
perenial
dalam rekaman
roh
orang,
karena
sepanjang
rentang
kehidupannya individu selalu mengejar prestasi menurut bidang dan kemampuan masing-masing. Prestasi membiasakan (achievement) semakin terasa berguna kerjakan dibahas, karena mempunyai beberapa kelebihan utama, antara tak :




1.
Prestasi
belajar
andai
parameter
kualitas
dan
kuantitas
pengetahuan yang mutakadim dikuasai peserta didik.




2.
Prestasi sparing misal lambang pemuasan hasrat kepingin tahu. Para ahli ilmu jiwa
biasanya menyebut hal ini sebagai “mode
keingintahuan (couriosity) dan merupakan kebutuhan umum manusia”.




3.
Prestasi
membiasakan
sebagai
bahan
informasi
dalam
inovasi
pendidikan. Asumsinya merupakan prestasi belajar dapat dijadikan pendorong untuk peserta jaga privat meningkatkan hobatan takrif dan teknologi, dan main-main sebagai umpan balik
(feedback)
dalam meningkatkan loklok pendidikan.




4.
Prestasi belajar ibarat indikator interen dan ekteren bermula suatu institusi pendidikan.
Indeks
interen
dalam
kepentingan
bahwa
prestasi
belajar
dapat dijadikan
indikator
tingkat
produktivitas
suatu
institusi
pendidikan. Asumsinya yakni kurikulum nan digunakan relevan dengan kebutuhan masyarakat dan peserta didik. Parameter eksteren dalam kurnia bahwa tinggi rendahnya prestasi membiasakan dapat dijadikan indikator tingkat kesuksesan peserta didik di masyarakat. Asumsinya adalah kurikulum yang digunakan relevan dengan kebutuhan mahajana.




5.
Prestasi berlatih dapat dijadikan indeks terhadap daya serap (kecerdasan) peserta didik. Dalam proses pembelajaran, peserta jaga menjadi focus utama yang harus diperhatikan, karena pesuluh didiklah yang diharapkan boleh menyerap seluruh materi pelajaran Jikalau
dilihat
dari
bilang
fungsi
performa
berlatih
di
atas,
maka
betapa pentingnya Dia harus mencerna dan mengerti penampilan sparing peserta didik,
baik
secara
perorangan
maupun
secara
kelompok,
sebab
fungsi penampilan
belajar
tidak
hanya
sebagai
indikator
kemenangan
dalam
mata cak bimbingan tertentu, tetapi juga misal indikator kualitas institusi pendidikan (Madrasah). Di samping itu, manifestasi berlatih juga signifikan sebagai umpan pesong bagi Ia dalam melaksanakan proses penataran, sehingga dapat menentukan apakah perlu melakukan diagnosis, penaruhan, atau bimbinganterhadap
murid
ajar.
Sebagaimana
yang
dikemukakan
makanya
Cronbach (1970 : 31), bahwa kegunaan penampilan sparing banyak ragamnya, antara bukan “andai umpan miring buat guru dalam mengajar, untuk keperluan diagnostik, untuk keperluan didikan dan penyuluhan, untuk keperluan seleksi, bakal keperluan penempatan maupun penjurusan, untuk menentukan isi kurikulum, dan untuk menentukan kebijakan sekolah”. Sebagaimana sudah lalu dikemukakan di atas, bahwa pengajian pengkajian andai suatu sistem memiliki berbagai komponen yang saling berinteraksi, berinterelasi dan berinterdependensi. Keseleo satu komponen penelaahan adalah evaluasi. Sedemikian itu pula internal prosedur pendedahan, dimana salah suatu ancang yang harus ditempuh suhu adalah evaluasi. Dengan demikian, dilihat terbit bervariasi konteks penerimaan, evaluasi punya kursi nan sangat bermakna dan strategis karena evaluasi adalah satu bagian yang tak terpisahkan mulai sejak penataran itu sendiri




Intensi Kepentingan DAN PRINSIP EVALUASI PEMBELAJARAN




C. Harapan Evaluasi Pendedahan





Takdirnya kita ingin melakukan kegiatan evaluasi, terlepas berusul varietas evaluasi apa
nan digunakan, maka guru harus memahami dan memahami bahkan dahulu
tentang
maksud
dan
fungsi
evaluasi.
Bila enggak,
maka
master
akan
mengalami kesulitan merencanakan dan melaksanakan evaluasi. Intim setiap anak adam yang ceratai evaluasi menggosipkan pula akan halnya maksud dan fungsi evaluasi. Tujuan evaluasi pembelajaran adalah buat mengetahui kurnia dan daya guna sistem pendedahan, baik yang menyangkut akan halnya harapan, materi, metode, sarana,
sendang membiasakan, lingkungan alias sistem penilaian itu sendiri. Sedangkan intensi unik evaluasi pembelajaran disesuaikan
dengan
jenis
evaluasi
pendedahan
itu
seorang,
seperti
evaluasi
perencanaan
dan
pengembangan,
evaluasi monitoring, evaluasi dampak, evaluasi efisiensi-ekonomis, dan evaluasi
program komprehensif.




Dalam
konteks
yang
lebih
luas
sekali lagi,
Sax
(1980
:
28)
menyorongkan
tujuan
evaluasi
dan
pengukuran
ialah
kerjakan
“selection, placement, diagnosis and
remediation, feedback : norm-referenced and criterion-referenced interpretation,
motivation and guidance of learning, programa and curriculum improvement
: formative and summative evaluations, and theory development”.
(seleksi,
penaruhan, diagnosis dan remediasi, umpan bengot : penafsiran acuran-norma
dan abstrak-patokan, motivasi dan bimbingan membiasakan, pembaruan program dan
kurikulum : evaluasi formatif dan sumatif, dan pengembangan teori).




Perlu Anda ketahui bahwa evaluasi banyak digunakan dalam beraneka rupa parasan
dan kegiatan, antara lain pimpinan dan pengintaian, supervisi, seleksi, dan penataran. Setiap bidang alias kegiatan tersebut mempunyai pamrih yang berbeda. Privat kegiatan pimpinan, pamrih evaluasi adalah untuk memperoleh informasi secara mondial mengenai karakteristik peserta tuntun, sehingga dapat diberikan bimbingan dengan seutuhnya. Sedemikian itu kembali dalam kegiatan supervisi,
tujuan
evaluasi
merupakan
untuk
menentukan
hal
suatu
situasi pendidikan
alias
pembelajaran,
sehingga
dapat
diusahakan
langkah-ancang pembaruan lakukan meningkatkan mutu pendidikan di madrasah. Dalam kegiatan seleksi,
tujuan
evaluasi
adalah
untuk
mengarifi
tingkat
pengetahuan, kesigapan, sikap dan nilai-nilai siswa didik buat tipe tiang penghidupan, jabatan ataupun pendidikan tertentu. Menurut
Kellough
dan
Kellough
kerumahtanggaan
Swearingen
(2006)
maksud
penilaian adalah buat mendukung sparing peserta ajar, mengidentifikasi kekuatan dan
kelemahan
peserta
didik,
menilai
efektifitas
politik
pembelajaran,
menilai
dan meningkatkan efektifitas program kurikulum, menilai dan meningkatkan
efektifitas pembelajaran, menyediakan data yang membantu dalam membuat keputusan, komunikasi dan melibatkan ibu bapak murid didik. Provisional itu, Chittenden (1994) menyampaikan pamrih penilaian (assessment purpose)
ialah “keeping track, checking-up, finding-out, and summing-up”.




1.
Keeping track, yaitu bagi menelusuri dan melacak proses belajar peserta tuntun sesuai dengan bagan pelaksanaan penataran yang telah ditetapkan. Bakal itu, master harus mengumpulkan data dan informasi dalam kurun periode tertentu
melintasi
beragam
jenis
dan
teknik
penilaian
untuk
memperoleh paparan tentang pencapaian kejayaan membiasakan siswa jaga.




2.
Checking-up , yakni buat mempermainkan ketercapaian kemampuan murid didik privat proses pendedahan dan kesuntukan-kekurangan peserta pelihara selama mengikuti
proses
pembelajaran.
Dengan
kata
bukan,
guru
perlu
melakukan penilaian untuk mengerti bagian mana dari materi nan sudah dikuasai pesuluh bimbing dan penggalan mana berasal materi yang belum dikuasai.




3.
Finding-out, yaitu untuk mencari, menemukan dan mendeteksi kehilangan
kesalahan ataupun kelemahan petatar didik dalam proses penataran, sehingga guru dapat dengan cepat berburu alternatif solusinya.




4.
Summing-up, yaitu bakal menyarikan tingkat penguasaan pelajar didik terhadap
kompetensi
yang
telah
ditetapkan.
Hasil
penyimpulan
ini
dapat digunakan
guru
bakal
menyusun
laporan
kemajuan
belajar
ke
beragam pihak yang berkepentingan. Adapun tujuan penilaian hasil belajar adalah :




1.
Untuk memahami tingkat penguasaan petatar pelihara terhadap materi yang telah diberikan.




2.
Kerjakan
mengetahui
kecakapan,
tembung,
pembawaan,
minat,
dan
sikap
peserta asuh terhadap programa pembelajaran.




3.
Kerjakan mengetahui tingkat kemajuan dan kesesuaian hasil belajar peserta pelihara dengan standar kompetensi dan kompetensi bawah nan telah ditetapkan.




4.
Untuk
mendiagnosis
keunggulan
dan
kelemahan
peserta
didik
dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Logo peserta didik dapat dijadikan dasar bagi master
bakal memberikan pembinaan dan pengembangan lebih lanjut, sedangkan kelemahannya boleh dijadikan kamil untuk memberikan pertolongan atau bimbingan.




5.
Bakal
penyaringan,
adalah
memilih
dan
menentukan
peserta
didik
nan
sesuai dengan jenis pendidikan tertentu.




6.
Bagi menentukan kenaikan kelas bawah.




7.
Bikin menaruh petatar ajar sesuai dengan potensi yang dimilikinya.




Sira sekali lagi perlu mengetahui tingkat kemajuan pesuluh didik, sebab pemberitahuan mengenai kesuksesan petatar didik mempunyai bermacam-variasi kegunaan. Pertama , Anda dapat memahami kedudukan peserta didik dalam kelompoknya. Anda dapat memprakirakan apakah seorang peserta ajar dalam kelompoknya dapat
dimasukkan
ke
dalam
golongan
anak
nan
biasa
ataupun
yang
asing
bisa
dalam
arti
supergenius
atau
lambat
majunya.
Anda
juga
dapat
membuat perencanaan nan realistis mengenai waktu depan momongan. Kejadian ini utama, karena keberhasilan peserta bimbing umpama anggota mahajana dikelak lusa akan ditentukan oleh suka-suka tidaknya perencanaan perian depan yang realistis ini. Kedua , apabila makrifat tentang kesuksesan murid bimbing tadi digabungkan dengan pengumuman tentang kapasitas (kemampuan sumber akar) peserta pelihara, maka ia dapat dipergunakan laksana petunjuk mengenai kesungguhan usaha anak privat menempuh program pendidikannya. Melalui petunjuk ini sekali lagi kita dapat kontributif murid didik sesuai dengan kompetensi nan diharapkan.




Tujuan
manapun
nan
akan
dicapai,
Anda
tetap
harus
melakukan
evaluasi terhadap
kemampuan
petatar
didik
dan
komponen-suku cadang
pembelajaran lainnya.





D. Kemujaraban Evaluasi Pembelajaran




Cronbach (1963 : 236) menjelaskan “evaluation used to improved the course while it is still fluid contributes more to improvement of education than evaluation used to appraise a product already on the market”.
Cronbach nampaknya bertambah menekankan
fungsi
evaluasi
buat
perbaikan,
sedangkan
Scriven
(1967) memperlainkan fungsi evaluasi menjadi dua macam, yaitu guna formatif dan arti sumatif. Fungsi formatif dilaksanakan apabila hasil yang diperoleh berpunca kegiatan evaluasi diarahkan untuk memperbaiki adegan tertentu atau sebagian besar bagian kurikulum nan sedang dikembangkan. Sementara itu faedah sumatif dihubungkan
dengan
penyimpulan
mengenai
guna
berpunca
sistem
secara keseluruhan. Fungsi ini baru dapat dilaksanakan jika pengembangan program penataran mutakadim dianggap selesai.




Fungsi evaluasi memang cukup luas, gelimbir kepada dari ki perspektif mana Anda melihatnya. Bila kita lihat secara menyeluruh, fungsi evaluasi adalah :



1.
Secara psikologis, siswa didik buruk perut butuh untuk mengetahui hinggamana kegiatan yang telah dilakukan sesuai dengan maksud nan hendak dicapai. Peserta jaga adalah manusia yang belum dewasa. Mereka masih n kepunyaan sikap dan moral yang heteronom, membutuhkan pendapat orang-orang dewasa (seperti bani adam tua dan guru) sebagai pedoman baginya bakal mengadakan adaptasi
pada
situasi
tertentu.
Intern
menentukan
sikap
dan
tingkah lakunya,
mereka
pada
kebanyakan
tidak
berpijak
kepada
pedoman
yang terbit terbit kerumahtanggaan dirinya, melainkan mengacu kepada norma-norma yang berasal dari luar dirinya. Dalam pembelajaran, mereka perlu memahami prestasi belajarnya, sehingga ia merasakan kepuasan dan ketenangan.




2.
Secara
sosiologis,
evaluasi
berfungsi
bikin
memafhumi
apakah
peserta didik sudah cukup ki berjebah bakal terjun ke mahajana. Mewah dalam arti pelajar jaga boleh berkomunikasi dan beradaptasi terhadap seluruh lapisan masyarakat dengan segala karakteristiknya. Lebih jauh mulai sejak itu, peserta didik diharapkan dapat membina dan mengembangkan semua potensi nan ada intern masyarakat. Hal ini penting, karena kaya-tidaknya peserta didik ki angkat ke masyarakat akan memberikan matra tersendiri terhadap institusi pendidikan yang bersangkutan. Untuk itu, materi pembelajaran harus sesuai dengan kebutuhan publik.




3.
Secara
didaktis-metodis,
evaluasi
berfungsi
kerjakan
membantu
guru
internal menurunkan
peserta
tuntun
pada
kelompok
tertentu
sesuai
dengan kemampuan dan kecakapannya per serta membantu temperatur dalam kampanye menyunting proses pembelajarannya.




4.
Evaluasi
berfungsi
untuk
mengetahui
kursi
peserta
didik
kerumahtanggaan keramaian, apakah ia tertera anak nan ahli, sedang atau minus pandai. Situasi ini bersambung dengan sikap dan bagasi jawab ayah bunda bak pendidik pertama dan utama di mileu anak bini. Kamu dan hamba allah sepuh terbiasa
mengetahui
kemajuan
pelajar
didik
untuk
menentukan
langkah-langkah selanjutnya.




5.
Evaluasi
berfungsi
bakal
mengetahui
taraf
kesiapan
peserta
didik
dalam menempuh
program
pendidikannya.
Takdirnya
pesuluh
didik
sudah
dianggap siap
(fisik
dan
non-tubuh),
maka
acara
pendidikan
dapat
dilaksanakan. Sebaliknya,
takdirnya
peserta
tuntun
belum
siap,
maka
mudahmudahan
programa pendidikan
tersebut
jangan
dulu
diberikan,
karena
akan
mengakibatkan hasil yang invalid memuaskan.




6.
Evaluasi
berfungsi
membantu
guru
n domestik
memberikan
bimbingan
dan seleksi, baik dalam buram menentukan jenis pendidikan, jurusan, maupun kenaikan inferior. Melalui evaluasi, Anda dapat mengetahui potensi peserta jaga,
sehingga
boleh
memberikan
bimbingan
sesuai
dengan
intensi
yang diharapkan. Sebagai halnya tentang kenaikan inferior. Jika peserta bimbing belum menguasai
kompetensi
nan
ditentukan,
maka
peserta
didik
tersebut jangan dinaikkan ke kelas berikutnya atau yang lebih tinggi. Kegagalan ini merupakan hasil keputusan evaluasi, karena itu Ia perlu mengadakan pimpinan nan lebih profesional.




7.
Secara
administratif,
evaluasi
berfungsi
untuk
memberikan
laporan tentang kemajuan peserta tuntun kepada orang tua, pejabat pemerintah yang berwenang, penasihat sekolah, temperatur-guru dan peserta didik itu sendiri. Hasil evaluasi
bisa
memberikan
gambaran
secara
awam
adapun
semua
hasil usaha yang dilakukan oleh institusi pendidikan.




Sementara
itu,
Stanley
dalam
Oemar
Hamalik
(1989
:
6)
mencadangkan secara khas tentang kepentingan tes dalam pembelajaran yang dikategorikan ke dalam tiga fungsi nan tukar berinterelasi, yakni “fungsi instruksional, fungsi administratif, dan fungsi bimbingan”.




1. Fungsi intruksional



a. Proses konstruksi suatu tes merangsang Dia untuk menjelaskan dan merumuskan
kembali
harapan-harapan
pembelajaran
(kompetensi dasar) yang berarti. Jika Anda terlibat secara aktif dalam formulasi tujuan penelaahan (kompetensi radiks dan penunjuk), maka Anda akan terdorong cak bagi memperbaiki program pengalaman belajar bagi pesuluh bimbing,
di
samping
akan
memperbaiki
alat
evaluasi
itu
seorang.
Anda juga akan merasakan bahwa kompetensi dasar dan indikator yang telah dirumuskan itu akan bermanfaat bagi Anda dan peserta pelihara, sehingga akan memperkaya majemuk pengalaman belajar.




b.
Suatu
verifikasi
akan
menyerahkan
umpan
balik
kepada
hawa.
Umpan
balik nan
semenjak berusul hasil verifikasi akan kondusif Anda bakal mengasihkan pimpinan
berlatih
yang
lebih
berjasa
bagi
peserta
didik.
Pembenaran
nan dirancang dengan baik dapat dijadikan alat untuk mendiagnosis diri peserta didik,
merupakan
untuk
meneliti
kelemahan-kelemahan
yang
dirasakannya sendiri.




c.
Pembenaran-tes yang dikonstruksi secara gemi bisa memotivasi murid didik melakukan kegiatan belajar. Lega umumnya setiap petatar didik ingin berhasil dengan baik n domestik setiap konfirmasi yang ditempuhnya, bahkan ingin kian baik mulai sejak imbangan-teman sekelasnya. Keinginan ini akan mendorongnya belajar kian baik dan teliti. Artinya, sira akan bertarung dengan periode guna menguasai materi pelajaran yang akan dievaluasi itu.




d.
Ulangan
adalah
perangkat
nan
berharga
kerumahtanggaan
rencana
penguasaan
atau
pemantapan
berlatih
(overlearning).
Ulangan
ini
dilaksanakan
dalam rencana
review , latihan, pengembangan keterampilan dan konsep-konsep. Penstabilan,
penaklukan
dan
pengembangan
ingatan
(retention)
akan lebih baik jika dilakukan ulangan secara periodik dan kontinu. Lamun peserta didik dapat menjawab semua pertanyaan dalam verifikasi, semata-mata ulangan ini kukuh
besar
manfaatnya,
karena penguasaan
materi
pelajaran
akan bertambah mantap.




2. Fungsi administratif



a.
Pembenaran
merupakan
suatu
mekanisme
bakal
mengontrol
kualitas
suatu sekolah
atau suatu sistem sekolah. Norma-norma lokal atau norma-norma kebangsaan menjadi pangkal untuk melihat untuk menilai keampuhan dan
kelemahan
kurikuler
sekolah,
apalagi
takdirnya kawasan setempat enggak memiliki alat yang dapat dipergunakan
untuk
melaksanakan
evaluasi secara periodik.




b. Tes berfaedah untuk
mengevaluasi
programa
dan
melakukan
riset. Kejayaan
satu program inovasi bisa dilihat setelah diadakan pengukuran terhadap hasil program sesuai dengan tujuan distingtif yang mutakadim
ditetapkan.
Percobaan
metode
mengajar
untuk
menemukan
cara membiasakan efektif dan efisien buat para murid tuntun, bau kencur dapat dilaksanakan setelah diadakan serangkaian
kegiatan
eksperimen,
selanjutnya
boleh diukur keberhasilannya dengan tes.




c. Tes dapat meningkatkan kualitas hasil penyaringan. Seleksi sering dilakukan bikin menentukan bakat peserta didik dan peluang berhasil intern studinya pada satu lembaga pendidikan. Apakah sendiri calon memilih kecekatan
dalam
mengemban
tugas
tertentu,
apakah
peserta
asuh tergolong anak asuh terbelakang, dan sebagainya. Hasil pemilihan selalu digunakan untuk menempatkan dan mengklasifikasikan siswa jaga dalam rangka program
pimpinan.
Anda
juga
dapat
menggunakan
hasil
pemeriksaan ulang
kerjakan menentukan apakah peserta asuh perlu dibimbing, dilatih, diobati, dan diajari.




d.
Testimoni
berguna
sebagai
organ
untuk
melakukan
akreditasi,
penundukan (mastery),
dan
sertifikasi.
Tes
dapat
dipergunakan
untuk
mengukur kompetensi seorang lulusan. Misalnya, seorang calon guru sudah boleh dikatakan
memiliki
kompetensi
yang
diharapkan
setelah
dia
produktif mendemonstrasikan kemampuannya di dalam inferior. Buat mencerna tingkat
penyerobotan
kompetensi,
kemudian
mengasihkan
sertifikat, diperlukan pengukuran dengan peranti tertentu, yakni tes.




3.
Guna bimbinganTes silam terdahulu bagi mendiagnosis bakat-bakat singularis dan kemampuan (ability)

peserta
didik.
Bakat
skolastik,
prestasi,
minat,
kepribadian, adalah
aspek-aspek
utama
yang
harus
membujur
manah
dalam proses arahan. Informasi dari hasil tes standar
(standarized test) boleh kontributif
kegiatan
bimbingan
dan
seleksi
ke
sekolah
yang
bertambah
tinggi, memilih jurusan/program penggalian, mengetahui kemampuan, dan sebagainya. Untuk
memperoleh
informasi
yang
lengkap
sesuai
dengan
kebutuhan bimbingan, maka diperlukan alat ukur nan memadai, sebagaimana pembuktian.




Berdasarkan penjelasan di atas, maka fungsi evaluasi pendedahan yaitu :




Purwa ,
untuk
perbaikan
dan
ekspansi
sistem
pembelajaran. Sama dengan Anda ketahui bahwa pengajian pengkajian seumpama suatu sistem punya plural
komponen,
seperti
tujuan,
materi,
metoda,
media,
sendang
berlatih, lingkungan, hawa dan murid. Dengan demikian, perbaikan dan pengembangan pembelajaran harus diarahkan kepada semua onderdil pembelajaran tersebut.




Kedua , bakal akreditasi. Internal UU.No.20/2003 Pintu 1 Pasal 1 Ayat 22 dijelaskan bahwa “akreditasi adalah kegiatan penilaian kelayakan program dalam ketengan pendidikan berlandaskan barometer yang sudah ditetapkan”. Salah satu suku cadang akreditasi adalah pembelajaran. Artinya, fungsi akreditasi dapat dilaksanakan jika hasil evaluasi pembelajaran digunakan umpama pangkal akreditasi rajah pendidikan.





Sedangkan fungsi penilaian hasil belajar adalah :




1. Fungsi
formatif,
ialah
lakukan
memberikan
umpan
balik (feedback)
kepada guru sebagai dasar untuk memperbaiki proses pembelajaran dan mengadakan program remedial bagi murid jaga.




2. Fungsi
sumatif,
yakni
untuk
menentukan
nilai
(kredit)
keberhasilan/hasil belajar murid didik dalam indra penglihatan tuntunan tertentu, sebagai incaran bakal menyerahkan wara-wara kepada berbagai pihak, penentuan kenaikan kelas dan penentuan lucut-tidaknya petatar didik.




3. Kelebihan diagnostik, yaitu untuk memahami latar belakang (psikologis, bodi dan
lingkungan)
pelajar
didik
yang
mengalami
kesulitan
belajar,
dimana akibatnya
dapat
digunakan
umpama
dasar
dalam
menuntaskan
kesulitan-kesulitan tersebut.




4. Fungsi penaruhan, yaitu untuk menurunkan pelajar asuh intern kejadian pembelajaran yang tepat (misalnya privat penentuan program spesialisasi) sesuai dengan tingkat kemampuan peserta jaga.



Lembaga 1.1



Fungsi Penilaian




E. Pendirian-prinsip Umum Evaluasi




Lakukan memperoleh hasil evaluasi yang bertambah baik, Anda harus memperhatikan kaidah-cara umum evaluasi bagaikan berikut :



1. Kontinuitas Evaluasi
tidak
boleh
dilakukan
secara
insidental,
karena
penerimaan itu sendiri adalah suatu proses nan kontinu. Maka itu sebab itu, Anda harus melakukan
evaluasi
secara
kontinu.
Hasil
evaluasi
yang
diperoleh
sreg suatu waktu harus senantiasa dihubungkan dengan hasil-hasil plong musim sebelumnya,
sehingga
boleh
diperoleh
gambaran
yang
jelas
dan
penting mengenai kronologi peserta didik. Urut-urutan belajar peserta didik tidak bisa dilihat berasal matra produk namun tetapi juga dimensi proses sampai-sampai berpangkal dimensi input.




2.
Komprehensif




Dalam berbuat evaluasi terhadap satu objek, Engkau harus cekut seluruh objek itu laksana incaran evaluasi. Misalnya, jika objek evaluasi itu adalah
peserta
jaga,
maka
seluruh
aspek
budi
peserta
bimbing
itu harus dievaluasi, baik nan menyangkut kognitif, afektif maupun psikomotor. Seperti itu lagi dengan mangsa-objek evaluasi yang tidak.




3.
Nonblok dan netral Internal melaksanakan evaluasi, Sira harus berlaku adil tanpa pilih karunia. Semua
peserta
didik
harus
diperlakukan
sama
tanpa
“pandang
bulu”. Beliau pun sebaiknya bertindak secara nonblok, apa adanya sesuai dengan kemampuan pelajar bimbing. Sikap
like and dislike, perasaan, keinginan, dan prasangka yang berwatak negatif harus dijauhkan. Evaluasi harus didasarkan atas manifesto (data dan fakta) yang sebenarnya, bukan hasil manipulasi ataupun rekayasa.




4.
Kooperatif




N domestik kegiatan evaluasi, Anda hendaknya bekerjasama dengan semua pihak, sebagaimana ibu bapak peserta didik, sesama guru, bos sekolah, terjadwal dengan peserta didik itu sendiri. Hal ini dimaksudkan seharusnya semua pihak merasa puas dengan hasil evaluasi, dan pihak-pihak tersebut merasa dihargai.



5.
Praktis




Praktis mengandung arti mudah digunakan, baik bikin Anda sendiri yang menyusun alat evaluasi atau orang lain nan akan menggunakan alat tersebut.
Untuk
itu,
Sira
harus
memperhatikan
bahasa
dan
petunjuk mengerjakan pertanyaan.




Gambar 1.2



Prinsip-mandu Publik Evaluasi



Dalam konteks hasil belajar, Depdiknas (2003 : 7) mengemukakan pendirian-prinsip
mahajana
penilaian
adalah
menimbang
hasil-hasil
belajar
yang
mutakadim
ditentukan dengan jelas dan sesuai dengan kompetensi serta maksud penerimaan; menyukat sampel tingkah laku yang representatif berpangkal hasil belajar dan bahan-bahan yang inklusif
n domestik
pencekokan pendoktrinan;
mencengap
jenis-jenis
instrumen
penilaian
yang paling
sesuai
untuk
mengukur
hasil
sparing
yang
diinginkan;
direncanakan sedemikian rupa moga hasilnya sesuai dengan yang digunakan secara khusus; dibuat dengan reliabilitas nan sebesar-besarnya dan harus ditafsirkan secara hati-lever; dan dipakai untuk merevisi proses dan hasil sparing.





Dalam penilaian hasil belajar, Kamu harus mencaci pula hal-hal misal berikut :




1.
Penilaian hendaknya dirancang sedemikian rupa, sehingga jelas abilitas yang harus dinilai, materi yang akan dinilai, perlengkapan penilaian dan interpretasi hasil penilaian.




2.

Penilaian harus menjadi episode integral dalam proses pembelajaran.




3.
Bagi
memperoleh
hasil
nan
objektif,
penilaian
harus
menggunakan berbagai alat (radas), baik yang berbentuk pembenaran maupun non-tes.




4.
Pemilihan alat penilaian harus sesuai dengan kompetensi yang ditetapkan.




5.
Perkakas
penilaian
harus
menolak
kemampuan
penalaran
dan
kreatifitas peserta tuntun, seperti : tes tertulis esai, verifikasi kinerja, hasil karya murid tuntun, titipan, dan portofolio.




6.
Alamat penilaian harus mencakup aspek pengetahuan, ketangkasan, sikap dan nilai-nilai.




7.
Penilaian
harus
mengacu
kepada
kaidah
diferensiasi,
yaitu
memberikan peluang kepada siswa didik untuk menunjukkan apa yang diketahui, apa nan dipahami dan apa yang dapat dilakukan.




8. Penilaian tidak bertabiat pilih. Artinya, guru harus bersikap adil dan mustakim kepada semua peserta asuh, serta bertanggung jawab kepada semua pihak.



9.
Penilaian harus diikuti dengan tindak lanjut.




10.Penilaian harus berorientasi kepada kecakapan hidup dan bersifat menempa.




F. Jenis Evaluasi Penelaahan




Dilihat
dari
pengertian,
harapan,
keistimewaan,
prosedur
dan
sistem
pembelajaran, maka plong hakikatnya penelaahan ialah suatu programa. Artinya, evaluasi yang digunakan n domestik pembelajaran ialah evaluasi program, bukan penilaian hasil
belajar.
Penilaian
hasil
belajar
hanya
merupakan
episode
semenjak
evaluasi pembelajaran. Perumpamaan suatu program, evaluasi pembelajaran dibagi menjadi lima jenis, adalah :




1.
Evaluasi
perencanaan
dan
pengembangan.
Hasil
evaluasi
ini
tinggal diperlukan
untuk
mendisain
programa
pembelajaran.
Sasaran
utamanya adalah
memberikan
sambung tangan
tahap
awal
dalam
penyusunan
program pembelajaran. Persoalan nan disoroti menyangkut tentang kelayakan dan kebutuhan. Hasil evaluasi ini dapat memfaalkan kemungkinan implementasi program dan tercapainya keberhasilan program pembelajaran. Pelaksanaan evaluasi dilakukan sebelum program sebenarnya disusun dan dikembangkan.




2. Evaluasi monitoring, yaitu buat menyelidiki apakah program pendedahan hingga ke target secara efektif dan apakah program pendedahan terkabul sebagaimana
mestinya.
Hasil
evaluasi
ini
habis
baik
bakal
memafhumi kemungkinan
pemborosan
perigi-sumber
dan
waktu
pelaksanaan pembelajaran, sehingga dapat dihindarkan.




3.
Evaluasi dampak, merupakan untuk mengetahui dampak nan ditimbulkan oleh suatu program pembelajaran. Dampak ini dapat diukur berdasarkan kriteria keberhasilan ibarat penunjuk ketercapaian tujuan program pembelajaran.




4. Evaluasi efisiensi-ekonomis, yaitu lakukan menilai tingkat efisiensi program penelaahan.
Kerjakan
itu,
diperlukan
perbandingan
antara
jumlah
biaya, tenaga
dan
musim
yang
diperlukan
dalam
program
penelaahan
dengan program lainnya yang memiliki tujuan nan sama.




5.
Evaluasi programa komprehensif, yaitu bagi menilai program penerimaan secara mondial, seperti pelaksanaan programa, dampak acara, tingkat guna dan efisiensi.Padahal penilaian proses dan hasil belajar, dapat dibagi menjadi empat jenis, merupakan penilaian formatif, penilaian sumatif, penilaian diagnostik, dan penilaian penempatan.





Ki III




Penutup





A.





Konklusi




Pecah pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa

Evaluasi pengajian pengkajian sangatlah utama dikalangan para calon pendidik, karena evaluasi termasuk sangat terdepan buat mengetahui kemampuan dari petatar yang di ajar.



B. Saran



Saya optimistis n domestik penyusunan kertas kerja ini belum begitu sempurna karena kami dalam tahap membiasakan, maka bermula itu kami bertekad bagi kawan-kawan semua dapat membagi saran dan usul serta kritikan yang baik dan membangun dan makalah ini dapat signifikan bagi pembaca.




DAFTAR PUSTAKA




Arifin, Zainal (2012). Evaluasi Pengajian pengkajian Jakarta : direktorat Jendral
Pendidikan Islam Kementrian Agama RI


Source: http://baik-itu-bodoh.blogspot.com/2013/11/makalah-evaluasi.html

Posted by: likeaudience.com