Bagaimana Teori Behavioristik Mempengaruhi Pembelajaran Ipa

Teori Belajar Behavioristik dan Penerapannya dalam Pembelajaran


A.




Pengertian Belajar Menurut Penglihatan Teori Behavioristik

Menurut teori behavioristik sparing yakni perubahan tingkah laku sebagai hasil berpangkal pengalaman (Gage, Berliner, 1984) Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000).Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia bisa menunjukkan persilihan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang terdepan adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan temperatur kepada siswa, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang diberikan makanya guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting kerjakan diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang bisa diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu barang apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima maka dari itu siswa (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran adalah suatu hal terdepan untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.

Faktor tidak yang dianggap terdahulu oleh aliran behavioristik yakni faktor penguatan (reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin awet. Begitu sekali lagi bila respon dikurangi/dihilangkan (negative reinforcement) maka responpun akan semakin kuat.

Bilang cara dalam teori belajar behavioristik, membentangi: (1) Reinforcement and Punishment; (2) Primary and Secondary Reinforcement;(3) Schedules of Reinforcement; (4) Contingency Management; (5) Stimulus Control in Operant Learning; (6) The Elimination of Responses (Gage, Berliner, 1984).


B.




Dedengkot-tokoh revolusi behavioristik



1.




Edward L. Thorndike



Yaitu keseleo seorang tokoh psikologi pendidikan.Thorndike berpendapat bahwa yang menjadi asal belajar yakni asosiasi antara kesan pancaindera (sense impresion) dengan implus bagi bertindak (implus to action).


 Thorndike mengerjakan penelitian terhadap kucing lapar yang dimasukkan ke dalam sebuah boks. Di dalam boks tersebut terwalak gerbang yang akan melenggong bila pengungkit di dalam kotak tersebut tersentuh. Di luar boks ditaruh  alat pencernaan. Oleh sebab itu kucing yang lapar baru boleh bersantap bila ia menyentuh pengungkit dan keluar dari boks.


Dari prilaku meong ketika berusaha keluar berpangkal kotak, Thorndike mewujudkan  tiga hukum primer dalam proses sparing
Trial and Error, yaitu:



Ø



Syariat Kesiapan
(law of readinises)





 Syariat kesiapan menerangkan bagaimana kesiapan sesorang untuk melakukan sesuatu kegiatan terdapat tiga probabilitas nan terjadi berkaitan dengan hukum kesiapan yaitu :


a.


Seseorang memiliki kecondongan kerjakan menangani, kemudian makhluk tersebut ter-hormat berbuat tindakan, maka tindakannya akan menimbulkan kepuasan, tindakan-tindakan enggak yang di kerjakan.


b.


Seseorang memiliki kecondongan bikin bertindak, tetapi orang tersebut enggak melakukan tindakan,sehingga plong cucu adam tersebut keluih rasa tidak puas, dan kemudian makhluk tersebut melakukan tindakan-tindakan lain untuk menghilangkan rasa lain puasnya.


c.


Seseorang tidak memiliki kecenderungan bertindak,cucu adam tersebut berbuat tindakan, maka pada orang tersebut akan ketimbul rasa tak sreg sehingga ia akan berbuat tindakan tak untuk menyejukkan rasa bukan plong tadi.


Berpunca teori dikemukakan Thorndike tentang syariat kesiapan dapat kita simpulkan bahwa seseorang akan berbuntut intern membiasakan apabila orang tersebut betul-betul sudah siap untuk melakukan kegiatan belajar.

Ø



Hukum Latihan
(law of exercise
)




 Hukum ini menyatakan bahwa prinsip terdepan dalam belajar adalah pengulangan. Semakin sering stimulus respon terjadi,maka alias semakin awet hubungan yang terjadi. Kalau dril cinta di lakukan maka hubungan antara stimulus dan respon akan bersifat otomatis. Sebaliknya makin rumpil hubungan stimulus dan respon dilakukan makin ruai pula hubungan yang terjadi.

Bila suatu konsep n domestik matematika dipelajari secara berulang maka konsep tersebut akan lebih mudah untuk dikuasai. Seorang momongan yang dihadapkan pada satu persoalan  yang sering ditemuinya  akan buru-buru  melakukan  tanggapan  secara  cepat sesuai dengan pengalamanya pada waktu  sebelumnya.

Tak semua rang tubian memberi dampak riil. Pengulangan yang memberi dampak faktual adalah pengulangan yang frekuensinya terintegrasi, bentuk pengulangan yang tidak melelapkan dan kegiatan-kegiatan pengulangan di sajikan dengan cara menarik.


2.




Robert Gagne




Menurut Gagne dalam belajar matematika ada dua objek yang bisa diperoleh serampak maka dari itu siswa, yaitu mangsa bertepatan dan objek tidak langsung. Objek tak sinkron antara lain kemampuan menyelidiki dan mengamankan masalah, belajar mandiri, bersikap positif terhadap matematika dan sempat bagaimana semestinya berlatih. Sedangkan objek lansung berupa : fakta, ketangkasan, konsep,  aturan dan prinsip.

     a.


Fakta

Fakta ialah sasaran matematika yang tinggal menerimanya, seperti lambang bilangan, sudut, dan notasi-notasi matematika lainnya.Kemampuan berupa memberikan jawaban dengan tepat dan cepat, misalnya mengerjakan pembagian qada dan qadar yang sepan besar dengan bagi rendah, menjumlahkan pecahan, melukis sumbu sebuah ruas garis.

     b.


Keterampilan (Skill)

Ketangkasan merupakan suatu prosedur atau rasam untuk mendapatkan atau memperoleh suatu hasil tertentu.contohnya, kecekatan melakukan pencatuan takdir yang pas besar, menjumlahkan rekahan dan pergandaan pecahan desimal. Para siswa dinyatakan telah memperoleh keterampilan sekiranya engkau telah boleh menggunakan prosedur atau aturan nan terserah dengan cepat dan tepat. kegesitan menunjukkan kemampuan menerimakan jawaban dengan cepat dan tepat.

     c.


Konsep

Konsep adalah mantra abstrak nan memungkinkan kita dapat mengelompokkan incaran ke privat contoh dan non model misalkan konsep, bujur sangkar, kadar prima, himpunan, dan vektor.

     d.


Aturan

Aturan adalah objek yang minimal abstrak yang berupa sifat dan teorema. Menurut Gagne, berlatih dapat dikelompokkan menjadi delapan titik belajar yaitu: belajar perlambang, stimulus respon, rangkaian gerak, rangkaian verbal, membedakan, pembentukan konsep, pembentukan resan, dan separasi ki kesulitan.

e.


Prinsip

Prinsip adalah pernyataan nan memuat gabungan antara dua konsep atau lebih.Cara merupakan yang minimal niskala dari objek ilmu hitung yang aktual adat atau teorema.  Contohnya, teorema Pytagoras yaitu kuadrat hipotenusa sreg segitiga siku-belokan sama dengan jumlah kuadrat terbit dua sisi yang enggak.


3.




Skiner



Teori belajar menurut skinner. Burhus Frederic Skinner menyatakan bahwa suratan maupun penguatan mempunyai peranan yang amat utama dalam proses sparing. Penguatan bisa dianggap laksana stimulus berwujud, sekiranya stabilitas tersebut seiring dengan meningkatnya perilaku anak dalam melakukan tubian perilakunya itu.

Cak bagi mengubah tingkah laris anak dari negatif menjadi berupa, hawa perlu mengetahui psikologi yang bisa digunakan untuk mengasumsikan dan mengendalikan tingkah larap momongan.Jika respon peserta baik (membentur efektivitas pencapaian tujuan) harus segera diberikan stabilitas berwujud agar respon tersebut kian baik pula, ataupun minimal jasa baik itu dipertahankan.

Sebagai arketipe Ia berpendapat bahwa dalam eksperimen Pavlov seharusnya pasca- anjing diberi stimulus berupa bunyi genta, monyet tersebut seharusnya bisa mencekit makanan koteng. Intern ilmu hitung; kerjakan panas siswa cak hendak belajar maka diberi “reward & funishment” dalam kegiatan tanya-jawab (stimulus-respon), kemudian diberi penguatan/reinforcement nyata penjelasan teoritis materi latihan yang ditanyakan tersebut (tanya-jawab) pada siswa.

Mengenai teori behaviorisme Skinner yaitu Pengkondisian operan (kondisioning operan).Ada 4 asumsi nan membentuk pematang bikin kondisioning operan (Margaret E. Bell Gredler, hlm 122). Asumsi-premis itu adalah perumpamaan berikut:

a.


Sparing itu adalah tingkah kayun.

b.


Transisi tingkah-laris (belajar) secara fungsional berkaitan dengan adanya perubahan dalam kejadian-kejadian di lingkungan kondisi-kondisi lingkungan.

c.


Hubungan nan berhukum antara tingkah-larap dan mileu hanya dapat di tentukan kalau resan-sifat tingkah-laku dan kondisi eksperimennya di definisikan menurut fisiknya dan di observasi di sumber akar kondisi-kondisi yang di supremsi secara seksama.

d.


Data dari penelitian eksperimental tingkah-larap adalah suatu-satunya perigi informasi yang dapat di songsong tentang penyebab terjadinya tingkah laku.


4.




Pavlov



Teori pelaziman klasik Adalah memasangkan stimuli yang netral maupun stimuli yang terkondisi dengan stimuli tertentu yang tidak terkondisikan, nan melahirkan perilaku tertentu.Pasca- pemasangan ini terjadi berulang-ulang, stimuli yang netral bersalin respons terkondisikan.Pavlo mengadakan percobaan laboratories terhadap anjing.

Dalam percobaan ini kunyuk di beri stimulus bersarat sehingga terjadi reaksi bersarat puas cigak. Contoh hal percobaan tersebut pada manusia adalah bunyi bel di kelas cak bagi penanda waktu tanpa disadari menyebabkan proses penandaan sesuatu terhadap obstulen-bunyian nan berlainan mulai sejak pedagang makan, bel turut, dan antri di bank.

 Bersumber teoretis tersebut diterapkan strategi Pavlo ternyata bani adam boleh dikendalikan melalui pendirian menggilir stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan. Provisional anak adam tidak sadar dikendalikan makanya stimulus terbit luar.

Belajar menurut teori ini adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat yang menimbulkan reaksi.Yang terpenting dalam berlatih menurut teori ini adalah adanya les dan pengulangan. Kelemahan teori ini adalah sparing hanyalah terjadi secara kodrati keaktifan dan penentuan pribadi dihiraukan.


C.




Analisis Mengenai Teori Behavioristik

Kaum behavioris menjelaskan bahwa belajar sebagai suatu proses perubahan tingkah laku dimana reinforcement dan punishment menjadi stimulus kerjakan merangsang siswa kerumahtanggaan berperilaku. Pendidik yang masih menggunakan kerangka behavioristik biasanya merencanakan kurikulum dengan menyusun isi proklamasi menjadi penggalan-bagian boncel yang ditandai dengan suatu keterampilan tertentu.Kemudian, bagian-putaran tersebut disusun secara hirarki, dari yang sederhana sampai nan komplek (Paul, 1997).

Pandangan teori behavioristik telah cukup lama dianut maka itu para pendidik.Belaka dari semua teori yang ada, teori Skinnerlah yang minimum segara pengaruhnya terhadap jalan teori sparing behavioristik.Program-program pembelajaran seperti Teaching Machine, Pembelajaran berprogram, modul dan programa-program pembelajaran lain nan berpijak pada konsep perkariban stimulus-respons serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinfor- cement), merupakan programa penelaahan nan menerapkan teori belajar yang dikemukakan Skiner.

Teori behavioristik banyak dikritik karena seringkali tidak mampu menjelaskan situasi belajar nan kompleks, sebab banyak laur maupun hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan/maupun berlatih yang bisa diubah menjadi sekedar perikatan stimulus dan respon.Teori ini tidak mampu menjelaskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi privat hubungan stimulus dan respon.


D.




Petisi Teori Behavioristik kerumahtanggaan Penataran

Aliran psikologi belajar yang sangat besar pengaruhnya terhadap jihat pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran sebatas kini adalah aliran behavioristik.Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil membiasakan.Teori behavioristik dengan konseptual hubungan stimulus responnya, menunangkan sosok nan belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menunggangi metode drill atau adaptasi semata. Munculnya perilaku akan semakin awet bila diberikan reinforcement dan akan menghilang bila dikenai hukuman.

Petisi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tersampir semenjak beberapa keadaan sebagai halnya: tujuan pendedahan, aturan materi les, karakteristik pebelajar, media dan fasilitas pembelajaran yang cawis. Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori behavioristik memandang bahwa deklarasi ialah obyektif, karuan, tetap, tidak berubah.Amanat mutakadim integral dengan kemas, sehingga berlatih adalah masukan pengetahuan, sedangkan mengajar yakni memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) ke khalayak yang sparing maupun pebelajar. Fungsi mind maupun pikiran yaitu bakal menjiplak struktur pengetahuan yag sudah ada melalui proses nanang yang dapat dianalisis dan dipilah, sehingga makna yang dihasilkan dari proses berpikir begitu juga ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan tersebut. Pebelajar diharapkan akan memiliki kognisi yang setinggi terhadap pengetahuan nan diajarkan. Artinya, barang apa nan dipahami oleh pengajar ataupun hawa itulah nan harus dipahami oleh pesuluh.

Demikian halnya internal pengajian pengkajian, pebelajar dianggap sebagai mangsa pasif yang demap membutuhkan motivasi dan penguatan dari pendidik. Oleh karena itu, para pendidik melebarkan kurikulum yang terstruktur dengan menunggangi standar-standar tertentu dalam proses pembelajaran yang harus dicapai oleh para pebelajar. Sama dengan dalam proses evaluasi belajar pebelajar diukur tetapi pada hal-situasi nan nyata dan dapat diamati sehingga hal-keadaan yang bersifat tidak teramati kurang dijangkau dalam proses evaluasi.

Implikasi dari teori behavioristik dalam proses pengajian pengkajian dirasakan kurang memberikan ira gerak yang objektif kerjakan pebelajar buat berkarya, bereksperimentasi dan mengembangkan kemampuannya sendiri. Karena sistem pembelajaran tersebut bersifat otomatis-mekanis dalam menghubungkan stimulus dan respon sehingga jatuh cinta seperti kinerja mesin atau robot.Alhasil pebelajar kurang congah untuk berkembang sesuai dengan potensi yang ada pada diri mereka.

Karena teori behavioristik memandang bahwa amanat sudah lalu integral rapi dan teratur, maka pebelajar atau orang yang belajar harus dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan tambahan pula dulu secara diskriminatif.Pembiasaan dan kepatuhan menjadi dahulu esensial dalam belajar, sehingga pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan disiplin.Kegagalan alias ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan laksana kesalahan yang perlu dihukum dan keberhasilan belajar atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi anugerah.Demikian pula, ketaatan pada aturan dipandang bagaikan penentu keberhasilan belajar.Pebelajar atau murid didik adalah mangsa yang berperilaku sesuai dengan aturan, sehingga dominasi sparing harus dipegang oleh sistem yang berpunya di luar diri pebelajar.

Teori Belajar Konstruktivisme dan Penerapannya kerumahtanggaan Pembelajaran


A.




Pengertian Teori Belajar Konstruktivisme

Belajar menurut konstruktivisme adalah suatu proses mengasimilasikan dan mengkaitkan pengalaman alias pelajaran yang dipelajari dengan pngertian yang telah dimilikinya, sehingga pengetahuannya dapat dikembangkan.

Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang berperilaku generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna berusul apa yang dipelajari. Beda dengan aliran behavioristik yang mengarifi hakikat membiasakan laksana kegiatan yang berkepribadian mekanistik antara stimulus respon, kontruktivisme lebih memahami berlatih sebagai kegiatan khalayak membangun atau menciptakan pengetahuan dengan menjatah makna puas pengetahuannya sesuai dengan pengalamanya. Konstruktivisme sebenarnya tak yakni gagasan yang baru, apa yang dilalui kerumahtanggaan atma kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi asam garam. Ini menyebabkan seseorang memiliki butir-butir dan menjadi lebih dinamis.

Menurut teori ini, satu pendirian nan mendasar ialah guru tidak doang memberikan pengetahuan kepada siswa, namun siswa juga harus berperan aktif membangun sendiri pengetahuan di intern memorinya. Dalam hal ini, master dapat menerimakan kemudahan untuk proses ini, dengan membri kesempatan kepada siswa untuk menemukan ataupun menerapkan ide ide mereka sendiri, dan mengajar murid menjadi pulang ingatan dan secara sadar menggunakan strategi mereka koteng lakukan belajar. Temperatur dapat memberikan siswa anak asuh tangga yang membawasiswa ke tingkat kognisi yang lebih tinggi dengan catatan petatar sendiri yang mereka tulis dengan bahasa dan pengenalan – perkenalan awal mereka koteng.Berkaitan dengan konstruktivisme, terdapat dua teori belajar nan dikaji dan dikembangkan oleh Jean Piaget dan Vygotsky, yang boleh diuraikan andai berikut:


a.




Teori Belajar Konstruktivisme Jean Piaget

Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama (Dahar, 1989: 159) menegaskan bahwa penelitian teori kontruktivisme puas proses cak bagi menemukan teori ataupun pengetahuan yang dibangun dari realitas lapangan. Peran guru dalam penataran menurut teori kontruktivisme adalah sebagai fasilitator alias moderator.Pandangan akan halnya momongan terbit pematang konstruktivistik yang bertambah masa kini yang dikembangkan dari teori berlatih psikologis Piaget menyatakan bahwa ilmu proklamasi dibangun dalam ingatan seorang anak dengan kegiatan asimilasi dan akomodasi sesuai dengan skemata yang dimilikinya.

Proses mengkonstruksi, sebagaimana dijelaskan Jean Piaget yakni sebagai berikut:

a)    Skemata

Sekumpulan konsep yang digunakan  ketika berinteraksi dengan lingkungan disebut dengan skemata.

Sejak kecil anak sudah lalu punya struktur serebral yang kemudian dinamakan skema (schema).Skema terpelajar karena asam garam.Misalnya, anak senang dolan dengan kucing dan kucing belanda yang ekuivalen-sama beruban putih. Mujur keseringannya, engkau dapat menangkap perbedaan keduanya, merupakan bahwa meong berkaki catur dan kelinci berkaki dua. Pada akhirnya, beruntung asam garam itulah dalam struktur kognitif anak terjaga skema akan halnya binatang berkaki empat dan binatang berkaki dua.Semakin dewasa anak asuh, maka semakin sempunalah skema yang dimilikinya. Proses penyempurnaan sekema dilakukan melalui proses asimilasi dan fasilitas.

b)   Respirasi

Asimilasi adalah proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan kecabuhan, konsep ataupun pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah cak semau dalam pikirannya. Respirasi dipandang sebagai suatu proses kognitif nan menempatkan dan mengklasifikasikan hal alias rangsangan baru dalam skema yang telah ada. Proses asimilasi ini melanglang terus. Asimilasi tidak akan menyebabkan perubahan/peralihan skemata melainkan perkembangan skemata. Pernapasan yakni riuk satu proses individu privat mengadaptasikan dan mengorganisasikan diri dengan lingkungan yunior signifikansi orang itu berkembang.

c)    Akomodasi

Dalam menghadapi rangsangan atau asam garam baru seseorang enggak dapat mengasimilasikan pengalaman yang yunior dengan skemata yang telah dipunyai. Pengalaman yang baru itu bisa makara kadang kala tidak cocok dengan skema yang telah ada. Dalam keadaan demikian orang akan mengadakan fasilitas. Akomodasi tejadi lakukan menciptakan menjadikan skema baru yang cocok dengan rangsangan yang plonco maupun memodifikasi skema nan telah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu.

d)   Keseimbangan

Ekuilibrasi adalah kesamarataan antara asimilasi dan akomodasi sedangkan diskuilibrasi adalah keadaan dimana tidak seimbangnya antara proses asimilasi dan akomodasi, ekuilibrasi dapat mewujudkan seseorang menyatukan pengalaman luar dengan struktur dalamnya.


b.




Teori Belajar Konstruktivisme Vygotsky

Ratumanan (2004:45) mengemukakan bahwa karya Vygotsky didasarkan pada dua ide terdahulu.Pertama, jalan intelektual dapat dipahami tetapi bila ditinjau dari konteks historis dan budaya pengalaman momongan. Kedua, perkembangan bergantung pada sistem-sistem isyarat mengacu pada fon-huruf angka yang diciptakan makanya budaya bakal mendukung sosok berfikir, berkomunikasi dan memecahkan keburukan, dengan demikian  perkembangan kognitif anak mensyaratkan sistem  komunikasi budaya dan membiasakan menggunakan sistem-sistem ini  kerjakan menyetarafkan proses-proses berfikir diri koteng.

Menurut Slavin  (Ratumanan, 2004:49)  ada dua implikasi penting teori Vygotsky dalam pendidikan. Pertama, dikehendakinya setting papan bawah berbentuk penataran kooperatif antar kelompok-kelompok siswa dengan kemampuan yang berbeda, sehingga siswa boleh berinteraksi internal melakukan tugas-tugas yang sulit dan saling menyorongkan garis haluan-strategi pemisahan keburukan nan efektif di n domestik daerah pengembangan terdekat/proksimal masing-masing.Kedua, pendekatan Vygotsky privat pembelajaran menekankan perancahan (scaffolding).Dengan scaffolding, semakin lama petatar semakin dapat mengambil tanggungjawab bikin pembelajarannya seorang.

a.    Pengelolaan penerimaan

Interaksi sosial individu dengan lingkungannya antup mempengaruhi perkembanganbelajar seseorang, sehingga jalan kebiasaan-sifat dan variasi manusia akan dipengaruhi oleh kedua molekul tersebut. Menurut Vygotsky dalam Slavin (2000), siswa didik melaksanakan aktivitas belajar melampaui interaksi dengan turunan dewasa dan n antipoda seprofesi yang punya kemampuan bertambah.Interaksi sosial ini memperkerap terbentuknya ide baru dan memperkaya urut-urutan intelektual peserta didik.

b.    Pemberian didikan

Menurut Vygotsky, harapan belajar akan tercapai dengan belajar mengamankan tugas-tugas yang belum dipelajari tetapi tugas-tugas tersebut masih berada dalam daerah perkembangan terdekat mereka (Wersch,1985), yaitu tugas-tugas yang terletak di atas peringkat perkembangannya. Menurut Vygotsky, pada momen petatar didik melaksanakan aktivitas di dalam daerah perkembangan terdekat mereka, tugas yang tidak dapat diselesaikan sendiri akan dapat mereka selesaikan dengan bimbingan atau uluran tangan orang lain.


B.




Ciri-ciri Pembelajaran Konstruktivisme





Menurut Suparno (1997:49) secara garis besar prinsip-prinsip konstruktivisme yang diambil adalah (1) pengetahuan dibangun maka itu peserta sendiri, baik secara personal atau secara sosial; (2) wara-wara tidak dipindahkan berbunga suhu ke pesuluh, kecuali dengan keaktifan siswa sendiri untuk berpikir logis; (3) pelajar aktif mengkonstruksi secara terus menerus, sehingga terjadi transisi konsep memusat ke konsep yang makin rinci, lengkap, serta sesuai dengan konsep ilmiah; (4) guru main-main kontributif meluangkan wahana dan situasi agar proses gedung petatar bepergian mulus.

Berikut ini akan dikemukakan ciri-ciri pembelajaran yang konstruktivis menurut beberapa literatur adalah sebagai berikut.

1.


Pengetahuan dibangun bersendikan camar duka atau laporan yang telah ada sebelumnya.

2.


Belajar adalah yakni penafsiran personal akan halnya dunia.

3.


Belajar merupakan proses yang aktif dimana makna dikembangkan berdasarkan pengalaman.

4.


Pengetahuan tumbuh karena adanya perundingan (negosiasi) makna melangkaui berbagai informasi alias menyepakati suatu pandangan n domestik berinteraksi maupun bermitra dengan hamba allah lain.

Padahal menurut Mahisa Perona mata dalam bukunya menuliskan bahwa ciri-ciri pembelajaran nan konstruktivis ialah sebagai berikut:

·


menyediakan pengalaman belajar dengan mengkaitkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sedemikian rupa sehingga belajar melangkaui proses pembentukan pengetahuan,

·


menyediakan beraneka rupa alternatif asam garam belajar, tidak semua mengerjakan tugas yang setimpal, misalnya suatu keburukan dapat terjamah dengan bineka kaidah,

·


mengintegrasikan pengajian pengkajian dengan situasi yang realistik dan relevan dengan melibatkan pengalaman konkrit, misalnya untuk memahami satu konsep melalui kenyataan hidup sehari-masa,

·


mengintegrasikan penerimaan sehingga memungkinkan terjadinya transmisi sosial yaitu terjadinya interaksi dan kerja sama seseorang dengan orang lain maupun dengan lingkungannya, misalnya interaksi dan kerjasama antara siswa, guru, dan siswa-siswa,

·


memanfaatkan berbagai media teragendakan komunikasi verbal dan terjadwal sehingga pengajian pengkajian menjadi lebih efektif.


C.




Implikasi Konstruktivisme kerumahtanggaan Pembelajaran

Adapun implikasi berpokok teori belajar konstruktivisme dalam pendidikan anak (Poedjiadi, 1999: 63) adalah sebagai berikut: (1) tujuan pendidikan menurut teori berlatih konstruktivisme adalah menghasilkan individu alias momongan nan memiliki kemampuan berfikir untuk menuntaskan setiap permasalahan yang dihadapi, (2) kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi hal yang memungkinkan pengetahuan dan kegesitan dapat dikonstruksi oleh peserta didik. Selain itu, latihan memcahkan masalah seringkali dilakukan melalui belajar kerumunan dengan menganalisis kelainan kerumahtanggaan kehidupan sehari-musim dan (3) peserta asuh diharapkan burung laut aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai kerjakan dirinya. Guru hanyalah berfungsi sebagai mediator, fasilitor, dan teman nan takhlik situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta asuh.

Dikatakan kembali bahwa pembelajaran yang memenuhi metode konstruktivis moga memenuhi beberapa prinsip, merupakan: a) menyisihkan camar duka belajar yang menjadikan siswa didik dapat melakukan konstruksi pengetahuan; b) pembelajaran dilaksanakan dengan mengkaitkan kepada kehidupan nyata; c) pembelajaran dilakukan dengan mengkaitkan kepada warta yang sesuai; d) memotivasi peserta tuntun untuk aktif dalam pengajian pengkajian; e) pembelajaran dilaksanakan dengan menyesuaikan kepada spirit social peserta tuntun; f) pengajian pengkajian menggunakan barbagia alat angkut; g) melibatkan peringkat emosional peserta didik dalam mengkonstruksi pengetahuan pelajar didik (Knuth & Cunningham,1996).


D.




Konstruktivisme intern Pembelajaran





Pendekatan konstruktivisme menghendakai petatar harus membangun pengetahuan di dalam benaknya sendiri. Master dapat kondusif proses ini dengan cara mengajar yang membuat informasi lebih bermakna dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan koteng ide-ide mereka. Guru dapat memberi pesuluh tinggi nan boleh membantu pelajar mencapai tingkat pemahaman yang makin panjang, namun harus diupayakan seharusnya siswa sendiri yang memanjat tangga tersebut. Oleh karena itu agar pembelajaran kian signifikan bagi murid dan pendidik maka pendekatan konstruktivisme yakni solusi yang baik untuk boleh diterapkan. Berikut akan dipaparkan perbedaan pembelajaran tradisional (behavioristik) dengan penelaahan yang konstruktivistik.

Alasan enggak perlunya pendekatan konstruktivisme internal pembelajaran merupakan keterangan yang akan dimiliki siswa bermula berpunca keaktifan pesuluh untuk mengejar dan menemukan. Pengumuman lain akan diperoleh bermula siswa yang pasif. Bikin membangun satu deklarasi baru, siswa akan menyesuaikan satu pengetahuan baru dengan pengetahuan lama yng telah dimilikinya melalaui berinterksi sosial dengan pesuluh yang enggak. Situasi ini berbeda dengan behavioristik nan menekankan pada pola prilaku yang diulang-ulang menjadi otomatis.Perilaku seseorang boleh dikuatkan maupun dihentikan melalui suratan alias hukuman. Begitu sekali lagi dengan kognitivistik yang menyatakan bahwa embaran akan diwakili maka itu skema, sekiranya informasi sesuai dengan skema akan diterima, seandainya tidak akan disesuaikan atau skema nan akan disesuaikan. Jadi kognitivistik memfokuskan penataan kembali struktur kognitif dimana seseorang menyimpan pemberitaan.

Konstruktivisme berawal dari pandangan kognitivisme. Kognitivisme lebih mengistimewakan proses belajar dari plong hasil belajarnya. Kognitivisme mengatakan bahwa tingkah laku seseorang ditentukan oleh pemahamannya akan halnya hal yang berhubungan dengan tujuan belajarnya.Sparing yakni perubahan persepsi dan pemahaman yang tak selalu dapat terlihat misal tingkah laku yang nampak. Rukyat kognitivisme menyatakan bahwa membiasakan merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan, perebusan informasi, emosi, dan aspek kejiwaan lainnya dimana pengetahuan yanag diterima disesuaikan dengan struktur kognitif yang sudah dimiliki seseorang berdasarkan pengetahuan nan sudah cak semau sebelumnya.

Kegiatan belajar adalah kegiatan yang aktif, dimana siswa membangun koteng pengetahuannya. Siswa mencari kemujaraban sendiri mulai sejak yang mereka pelajari, ini ialah proses menyesuaikan konsep-konsep dan ide-ide baru dengan bagan berfikir yang telah ada intern pikiran mereka. Dalam hal ini siswa membentuk butir-butir mereka sendiri dan suhu membantu laksana mediator intern proses pembentukan itu.

Proses perolehan pesiaran akan terjadi apabila guru dapat menciptakan kondisi pembelajaran nan ideal nan dimaksud disini adalah satu proses belajar mengajar yang sesuai dengan karakteristik IPA dan menyerang perspektif siswa sekolah dasar. Pembelajaran yang dimaksud diatas yaitu pendedahan yang mengutamakan keaktifan peserta, menerangkan pada kemampuan
minds-on
dan
handson
serta terjadi interaksi dan menerima adanya konsepsi awal yang dimiliki pelajar melewati pengalaman sebelumnya.

Teori Belajar Humanistik dan Penerapannya kerumahtanggaan Pembelajaran


a)




Pengertian Teori Humanisme

Internal teori humanisme lebih mematamatai plong sisi perkembangan karakter cucu adam.Pendekatan ini melihat kejadian yaitu bagaimana dirinya untuk melakukan hal-kejadian yang positif.Kemampuan positif ini nan disebut sebagai potensi manusia dan para pendidik yang beraliran humanisme biasanya menfokuskan pengajarannya pada pembangunan kemampuan yang aktual.Kemampuan positif tersebut akrab kaitannya dengan pengembangan emosi nyata yang terdapat internal domain afektif.Emosi merupakan karateristik yang lalu kuat nan nampak dari para pendidik beraliran humanisme. Dalam teori pembelajaran humanistik, membiasakan merupakan proses yang dimulai dan ditujukan buat kepentingan memanusiakan manusia. Dimana memanusiakan hamba allah di sini berfaedah mempunyai tujuan bikin menyentuh aktualisasi diri, pemahaman diri, serta realisasi diri orang nan belajar secara optimal.


b)




Ciri-ciri Teori Humanisme

Pendekatan humanisme intern pendidikan mengistimewakan lega jalan positif.Pendekatan yang berfokus sreg potensi hamba allah untuk mencari dan menemukan kemampuan yang mereka memiliki dan mengembangkan kemampuan tersebut.Hal ini mencakup kemampuan interpersonal sosial dan metode lakukan ekspansi diri yang ditujukan buat memperkaya diri, menikmati keberadaan nyawa dan juga awam.Ketrampilan atau kemampuan membangun diri secara positif ini menjadi dahulu penting dalam pendidikan karena keterkaitannya dengan keberhasilan akademik.

Privat teori belajar humanistik, belajar dianggap berbuntut jika siswa memafhumi lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha seharusnya lambat laun kamu rani mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari tesmak pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.Tujuan utama para pendidik adalah membantu si peserta untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu tiap-tiap individu lakukan mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang distingtif dan membantu dalam menciptakan menjadikan potensi-potensi yang suka-suka n domestik diri mereka.

Ada salah satu ide penting n domestik teori belajar humanisme yaitu murid harus mampu untuk mengarahkan dirinya seorang intern kegiatan belajar mengajar, sehingga peserta mengarifi barang apa yang dipelajarinya serta senggang seberapa besar petatar tersebut bisa memahaminya. Dan pula siswa boleh memahami mana, kapan, dan bagaimana mereka akan belajar. Dengan demikian maka peserta diharapkan mendapat manfaat dan kegunaan berpangkal hasil sparing kerjakan dirinya sendiri. Aliran humanisme memandang belajar sebagai sebuah proses yang terjadi internal basyar nan menutupi bagian/domain yang ada yaitu dapat menghampari domain kognitif, afektif, dan psikomotorik.

1.


Arthur Combs (1912-1999)

Arthur Combs bersama dengan Donald Syngg menyatakan bahwa sparing terjadi apabila mempunyai kekuatan bagi individu tersebut.Artinya bahwa dalam kegiatan pembelajaran temperatur lain dapat memaksakan materi yang enggak disukai oleh siswa. Sehingga siswa berlatih sesuai dengan apa nan diinginkan tanpa adanya paksaan cacat kembali. Senyatanya hal tersebut terjadi tak lain hanyalah mulai sejak ketidakmampuan seseorang kerjakan berbuat sesautu yang tidak akan memberikan kepuasan untuk dirinya.

Sehingga master harus lebih memahami perilaku siswa dengan mencoba mencerna dunia skandal siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru harus berusaha merubah keyakinan alias pandangan siswa yang ada. Perilaku internal membebaskan seseorang dari nan lain.

Combs berpendapat bahwa banyak master membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa pelajar mau belajar apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya.Padahal arti tidaklah bergabung pada materi pelajaran itu.Sehingga nan terdepan ialah bagaimana membawa diri pesuluh untuk memperoleh arti lakukan pribadinya dari materi pelajaran tersebut dan menghubungkannya dengan kehidupannya.

Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri individu terserah dua hal : suatu propaganda nan positif bagi berkembang; kekuatan untuk menyamai maupun memerosokkan jalan itu.

Maslow mengutarakan bahwa individu berwatak internal upaya untuk menepati kebutuhan yang bersifat hirarkis. Pada diri masing-masing cucu adam mempunyai berbagai ingatan agak kelam sebagai halnya rasa seram untuk berusaha maupun berkembang, takut buat mengambil kesempatan, takut membahayakan segala nan mutakadim anda miliki dan sebagainya, tetapi di sisi lain seseorang juga memiliki dorongan untuk lebih berbudaya ke arah kesempurnaan, keunikan diri, ke arah berfungsinya semua kemampuan, ke arah kepercayaan diri menghadapi mayapada luar dan lega detik itu lagi ia boleh menerima diri koteng.

Kendatipun teori yang dikemukan Rogers adalah salah suatu berpangkal teori holistik, semata-mata keunikan teori adalah sifat humanis nan terkandung didalamnya. Teori humanistik Rogers sekali lagi menpunyai bervariasi nama antara lain : teori nan berfokus pada pribadi (person centered), non-directive, klien (client-centered), teori nan berfokus pada pelajar (student-centered),  teori yang berpusat puas kerumunan (group centered), dan person to person). Namun istilah person centered yang sering digunakan untuk teori Rogers.

Rogers menyebut teorinya bersifat humanis dan menolak pesimisme suram dan terbang arwah dalam psikoanalisis serta menentang teori behaviorisme yang memandang anak adam begitu juga manusia mesin. Teori humanisme Rogers lebih penuh harapan dan optimis akan halnya manusia karena manusia mempunyai potensi-potensi nan sehat bakal maju. Dasar teori ini sesuai dengan signifikasi humanisme pada umumnya, di mana humanisme yakni doktrin, sikap, dan mandu jiwa yang menempatkan ponten-nilai manusia sebagai pokok dan menekankan pada keperawanan, harga diri, dan kapasitas untuk merealisasikan diri untuk maksud tertentu.


4.




Aplikasi Teori Belajar Humanistik dalam Kegiatan Pendedahan

Teori humanistik sayang dikritik karena sukar diterapkan dalam konteks yang lebih praktis.Karena dianggap lebih damping dengan parasan filsafat, teori kepribadian dan psikoterapi terbit pada meres pendidikan, sehingga pelik dalam menerjemahkannya ke internal langkah-langkah yang bertambah konkret dan praktis.Namun, karena sifatnya yang hipotetis, adalah memanusiakan khalayak, maka teori humanistik mampu menyerahkan arah terhadap semua komponen pembelajaran untuk mendukung tercapainya tujuan tersebut.

Semua komponen pendidikan termasuk tujuan pendidikan diarahkan pada terbentuknya cucu adam nan komplet, manusia yang dicita-citakan, adalah manusia yang makmur mencapai aktualisasi diri.

Teori humanistik akan dulu kontributif para pendidik intern memahami sebelah belajar lega dimensi nan lebih luas, sehingga upaya penerimaan apapun dan sreg konteks manapun akan selalu diarahkan dan dilakukan kerjakan mencapai tujuannya. Ide-ide, konsep-konsep, taksonomi-taksonomi intensi uang sudah lalu dirumuskannya bisa membantu para pendidik dan hawa bagi memahami hakekat kerohanian manusia. Kejadian ini akan bisa membantu mereka dalam menentukan onderdil-suku cadang pembelajaran sebagaimana perumusan harapan, penentuan materi, pemilihan politik pembelajaran, serta ekspansi perabot evaluasi, ke arah pembentukan sosok yang di cita-citakan. Kegiatan penerimaan yang dirancang secara berstruktur, tahap demi tahap secara ketat, seperti mana harapan-tujuan pendedahan nan sudah lalu dinyatakan secara eksplisit dan dapat diukur, kondisi belajar yang diatur dan ditentukan, serta camar duka-asam garam membiasakan yang dipilih lakukan siswa, mungkin saja berfaedah cak bagi hawa hanya tidak berarti bagi siswa (Rogers dalam Snelbecker, 1974). Hal ini tak searah dengan teori humanistik.Menurut teori ini, hendaknya sparing bermakna bagi petatar, diperlukan inisiatif dan keterlibatan mumbung dari siswa sendiri. Maka petatar akan mengalami berlatih eksperensial.

Intern prakteknya teori ini cenderung membidikkan siswa untuk berfikir induktif, mementingkan pengalaman, serta membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif n domestik proses sparing. Maka itu karena itu, biarpun secara eksplisit belum suka-suka pedoman lazim tentang langkah-langkah pembajaran dengan pendekatan humanistik, namun paling tidak langkah-awalan pengajian pengkajian yang dikemukakan maka itu Suciati dan Prasetya Irawan (2001) dapat digunakan bak hipotetis. Langkah-ancang nan dimaksud yakni laksana berikut:

1. Menentukan maksud-tujuan pengajian pengkajian.

2. Menentukan materi pelajaran.

3. Mengidentifikasi kemampuan semula siswa.

4. Mengidentifikasi topik-topik tutorial yang memungkinkan petatar secara aktif menyertakan diri atau mengalami n domestik sparing.

5. Merancang fasilitas berlatih sebagaimana mileu dan kendaraan pembelajaran.

6. Membimbing siswa belajar secara aktif.

7. Membimbing siswa untuk memahami hakikat makna dari pengalaman belajarnya.

8. Membimbing murid mewujudkan konseptualisasi pengalaman belajarnya.

9. Membimbing siswa intern mengaplikasikan konsep-konsep baru ke keadaan nyata.

10. Mengevaluasi proses dan hasil berlatih.

Source: http://17nurulfadlilah.blogspot.com/2014/12/metode-belajar-teori-belajar.html

Posted by: likeaudience.com