Bagaimana Penerapan Kurikulum Ktsp Dalam Pembelajaran Ipa



Menurut Hasan yang dikutip oleh Mulyasa (2007: 246)

Pembelajaran Berbasis KTSP

sedikitnya dipengaruhi oleh tiga faktor berikut:




1. Karakteristik KTSP, mencengam ruang lingkup KTSP dan kejelasannya bagi pemakai di alun-alun.



2. Kebijakan pembelajaran, adalah s
ufuk
rategi yang digunakan internal pembelaj
a
ran. seperti sumbang saran, pengamatan, interviu, serta kegiatan lain yang boleh menyorong pembentukan kompet
e
nsi peserta jaga.



3. Karakteristik pengguna kurikulum, meliputi pengetahuan, ketrampilan skor, dan sikap guru terhadap KTSP, serta kemampuannya lakukan merealisasikan kurikulum (curriculum planning) n domestik penataran.



Internal suatu pembelajaram, tugas guru nan paling utama yaitu mengkondisikan mileu seyogiannya menunjang terjadinya perubahan perilaku untuk pelajar jaga.










Mulyasa (2007) mengemukakan bahwa dala
m

pelaksanaan pembelajaran berbasis KTSP mencengam tiga peristiwa, yaitu
pre test
(pembenaran tadinya), pembentukan kompetensi, dan
post tes. Ketiga kejadian ters

eb
ut dijelaskan berikut ini:




1.


Pre Test


(Tes Semula)




Plong umumnya pelaksanaan proses pengajian pengkajian dimulai dengan
pre test. Pre test
ini memiliki banyak kegunaan dalam menjajagi proses penerimaan yang akan dilaksanakan. Maka itu karena itu
pre test
memegang peranan nan patut terdepan dalam proses penataran.





2. Pembentukan Kompetensi




Pembentukan kompetensi yakni kegiatan inti dari pelaksanaan proses pembelajaran, yakni bagaimana kompetensi dibentuk pada petatar asuh dan bagaimana tujuan-tujuan belajar direalisasikan.



Proses penerimaan dan pembentukan kompetensi perlu dilakukan dengan tenang dan mengademkan, kejadian tersebut tentu saja memaksudkan aktivitas dan kreativitas guru dalam menciptakan lingkungan yang mendukung. Proses pembentukan kompetensi dikatakan efektif apabila seluruh petatar didik terkebat secara aktif, baik mental, fisik alias sosialnya.



Kualitas pembentukan kompetensi dapat dilihat dari segi proses dan berpangkal segi hasil. Sreg penataran tuntas, kriteria pencapaian kompetensi nan ditetapka
lengkung langit

adalah minimal 75 % oleh karena itu setiap kegiatan membiasakan mengajar diakhiri dengan penilaian pencapaian kompetensi petatar di

d
ik dan diikuti rencana tindak lanjutnya.




3.


Post Test


(Tes Akhir)




Pada umumnya pelaksanan pembelajaran diakhiri dengan
post test. Sama halnya dengan
pre test,
post test
juga memiliki banyak kegunaan, terutama dalam mematamatai kemajuan pembelajaran dan pembentukan kompetensi.




Kurnia
post test
antara lain bisa dikemukakan umpama berikut:




  • Kerjakan memafhumi tingkat penaklukan peserta didik terhadap kompetensi yang telah ditentukan, baik secara manusia maupun kelompok. Peristiwa ini bisa diketahui dengan membandingkan antara hasil pre test dan post test.




  • Untuk mengetahui kompetensi dan tujuan-tujuan yang dapat dikuasai oleh peserta didik, serta kompetensi dan pamrih-pamrih yang belum dikuasainya.




  • Lakukan mengetahui peserta asuh nan mesti mengikuti kegiatan remedial, dan yang perlu mengikuti kegiatan pengayaan, serta bagi mengetahui tingkat kesulitan belajar yang dihadapi.




  • Sebagai incaran acuan cak bagi melakukai perombakan terhadap kegiatan pembelajaran dan pembentukan kompetensi nan telah dilaksanakan, baik terhadap perencanaan, pelaksanaan maupun evaluasi.



Dalam pengembangan KTSP juga mesti didukung maka itu iklim penerimaan yang kondusif bagi terciptanya suasana yang aman, nyaman dan tertib, sehingga proses penelaahan boleh berlangsung dengan mati dan menyenangkan. Iklim yang demikian akan mendorong terwujudnya proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan bermakna.

Source: http://www.pendidikanekonomi.com/2013/03/proses-pembelajaran-dalam-kurikulum.html

Posted by: likeaudience.com