Struktur Keilmuan dan Pola Pendekatan Pembelajaran IPA
(+2)

September 12, 2012

Struktur Alamiah IPA
Agar siswa asuh SMP dapat mempelajari IPA dengan benar, maka IPA harus dikenalkan secara utuh, baik menyangsang target, persoalan, maupun tingkat organisasi bermula benda-benda yang ada di dalam jagat raya.

Dimensi alamat IPA meliputi:
a. Benda-hidup: mencakup (1) Plantae (tumbuhan), (2) Animalium (hewan) termasuk di dalamnya hamba allah, (3) Fungi (jamur), (4) Protista, (5) Archebacteria, dan (6) Eubacteria.
b. Benda tak semangat: mencengap (1) dunia (tanah dan batuan, air, dan udara), (2) tata surya, (3) sistem solar, dan (4) jagat raya (alam semesta)
Berdasarkan tinjauan dari segi ukuran tingkat organisasi benda alam dapat dibuat gradasi tiba berpunca : (1). Sub-unsur (proton, elektron, dan neutron), (2). Molekul, (3). Elemen, (4).Unsur, paduan, dan campuran, (5). Zat dan (6). Benda. Umpama konseptual bendanya berupa pokok kayu, maka berpokok segi zat pohon tersusun atas zat padat konkret pupuk, zat cair berupa air dan zat terlarut di dalamnya terkandung kembali tabun nan terwalak dalam penjara maupun antar sel.
Matra tema/persoalan IPA boleh dikaji dari aspek-aspek berikut (Walde University, 2002:), yaitu:
a. Tema/persoalan IPA sebagai proses invensi (Science as inquiry): menyangkut (a). Invensi ilmiah dan (b). Metode ilmiah.
b. Tema/permasalahan IPA dari aspek fisika (Physical science) menyangkut: (a). Adat materi dan perubahan sifat n domestik materi, (b). Gerak dan gaya, dan (c). Transfer energi
c. Tema/permasalahan IPA dari aspek ilmu hayat (Living science) menyangkut: (a). Struktur dan fungsi internal sistem umur, (b). Reproduksi dan Penurunan Rasam, (c). Regulasi dan Tingkah Laku, (d), Populasi dan Ekosistem, (e). Ke ragaman dan Pembiasaan organisme.
d. Tema/persoalan IPA berpokok aspek Manjapada dan Antariksa (Earth and space science) mengkaji: (a). Struktur sistem bumi, (b). Sejarah Pembentukan Bumi, dan (c). Marcapada dan Sistem Galaksi
e. Tema/persoalan IPA hubungannya dengan teknologi (Science and techno-logy) mengkaji (a). Bentuk-rancangan teknologi, (b). Keterkaitan IPA dan teknologi
f. Tema/persoalan IPA dari perpektif personal dan sosial (Personal and social perpectives) mengkaji, (a). Kebugaran diri, (b). Populasi, sumber gerendel, dan mileu, (c ). Murka alam, (d). Resiko dan keuntungan, serta (e). Sains, teknologi, dan awam.
g. Tema/persoalan IPA dari sisi sejarah dan hakikat IPA (History and natural of science) mengkaji, (a). IPA umpama hasil rekadaya/usaha keras makhluk,
(b). Hakikat IPA sebagai ilmu, dan (c). Sejarah perkembangan IPA perumpamaan ilmu.
2. Pola Pendekatan Pembelajaran IPA
Khusus lakukan tema/persoalan yang berkait dengan aspek ilmu hayat dapat lagi didekati dengan segala yang telah dikembangkan maka dari itu BSCS (BSCS, 1996) nan membentangi :
a. Acuan-pola evolusi dan produk perlintasan (Evolution: patterns and products of change).
b. Interaksi dan interdependensi (Interaction and interdependence).
c. Penjagaan/pemeliharaan keseimbangan yang dinamik (Maintenance of a dynamic equilibrium).
d. Pertumbuhan, perkembangan, diferensiasi (Growth, development, and differentiation).
e. Kesinambungan genetik (Genetic continuity)
f. Energi, materi dan organisasi (Energy, matter, and organization)
g. Guna-guna Pengetahuan Alam, teknologi, dan masyarakat (Science, Technology, and Society)
Bentley dan Watts (1989) menyodorkan bahwa persoalan atau tema IPA dapat dikaji dari aspek kemampuan yang akan dikembangkan pada diri petatar pelihara , ialah mencakup aspek mengkomunikasikan konsep secara ilmiah, aspek pengembangan konsep dasar sains, dan pengembangan pemahaman IPA intern konteks ekonomi dan sosial. Tentatif Djohar (2000) mengajukan struktur keilmuan IPA seperti tertentang plong gambar 1. Oleh karena itu, agar murid didik SMP boleh mengenal kebulatan IPA sebagai ilmu, maka seluruh tema/persoalan IPA pada majemuk jenis objek dan tingkat organisasinya bisa dijadikan alamat kajian, sepanjang tegar dalam kerangka pengenalan. Dengan prolog lain, kajian IPA untuk SMP hendaknya luas untuk menunaikan janji keutuhannya. Dengan demikian, IPA sebagai ain latihan hendaknya diajarkan secara utuh ataupun terpadu, tak dipisah-pisahkan antara Biologi, Fisika, Ilmu pisah, dan Mayapada Antariksa. Selain tidak jelasnya keutuhan konsep IPA sebagai ilmu (karena aspek IPA, teknologi dan awam tidak terlingkupi), juga berat kerjakan peserta bimbing SMP karena konsep IPA menjadi kompilasi berpangkal konsep-konsep Biologi ditambah dengan Fisika, Kimia, dan Mayapada Antariksa. Hal ini mengingat tingkat nanang sebagian besar murid tuntun SMP masih pada taraf persilihan/pertukaran dari fase kongkrit ke fase operasi sah. Semata-mata sebagian kecil peserta asuh SMP nan telah dapat benar-benar pada tataran operasi sah, karena fase absah menginjak dicapai oleh anak asuh puas semangat 14 masa, itupun penyelelidikannya dilakukan lega bangsa-bangsa Anglosakson (Carin dan Sund, 1989).