Bab 1 Ptk Ipa Sd Dengan Media Pembelajaran

(1)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Penelitian tindakan kelas memang sangat bermakna dilakukan oleh seorang pendidik yang profesiolal. Tanpa adanya kegiatan investigasi tindakan kelas ini, maka kita selaku pendidik tak kan mampu mengaras visi dan misi dalam proses pembelajaran disekolah. Khususnya pembelajaran Sekolah Dasar yang banyak sekali terwalak bermacam- macam ki aib didalam proses pembalajaran.

Untuk itu penulis terlampau optimis dan kreatif dalam Studi Tindakan Kelas bawah yang dilakukan di Sekolah Radiks Negeri , berlandaskan beberapa ki aib dalam proses pembelajaran, sonder adanya tindakan kelas dari pendidik maka bagaimana nasip pendidikan disekolah tersebut. Khususnya dalam pembelajaran IPA yang masih terwalak pesuluh nan lain tanggap dengan materi tuntun, memiliki minat brlajar yang masi rendah, serta suka jail dan lengah ketika proses pembelajaran IPA berlangsung. Ini perlu dilakukan tindakan khusus oleh guru papan bawah selaku pendidik.

Pendidikan IPA di Sekolah Dasar bertujuan sebaiknya petatar mengetahui dan menuntaskan pengetahuan, fakta, konsep, prinsip, proses penemuan serta memiliki sikap ilmiah yang akan bermanfaat bagi murid dalam mempelajari diri dan alam sekitar. Pendidikan IPA menekankan lega anugerah asam garam langsung untuk berburu senggang dan berbuat sehingga ki berjebah menjelajahi dan memahami duaja sekitar secara ilmiah.

Murid SD pada umumnya berada dalam kehidupan yang masih senang bermain, gemar melakukan kegiatan, memiliki rasa ingin tahu nan tinggi. Mereka tertarik melakukan kegiatan permainan, mendapatkan pengalaman yang berfariasi cak bagi memenuhi rasa kepingin tahuannya.

(2)

Mata pelajaran IPA di SD merupakan salah satu mata tutorial yang dipelajari oleh murid, nan dipelajari sepanjang dua kali pertemuan setiap minggunya begitu juga halnya siswa SD T , murid belajar dengan seorang temperatur yakni pengampu kelasnya.

Dengan demikian pesuluh bosan dan tidak termotifasi privat mengikuti pelajaran. Terserah saja pekerjaan lain nan dilakukan murid seperti menggambar, bercerita dengan bandingan sebangku, mohon izin keluar dan sebagainya, sehingga tuntunan yang dijelaskan guru hanya sekedar angin lewat buat sebagian segara siswa. Inilah sebanarnya yang membuat hasil penerimaan rendah.

Bersumber hal diatas kita selaku guru papan bawah yang bertugas kerjakan godok murid, kita harus berfikir berupa dalam menyelidiki kasus atau masalah ini. Berbagai upaya pun harus dilakukan, bagaimana biar murid bintang sartan betah dan semangat belajar dikelas dalam pembelajaran IPA. Agar netra pelajaran IPA menarik kerjakan murid sehingga murid demen mengikutinya dan dapat menuntaskan materi kursus yang baik, diperlukan motifasi belajar murid yang maksimal. Untuk itu digunakan lah sarana belajar yang menyenangkan dan dapat mengaktifkan pelajar dalam proses pendedahan IPA.

Metode ini memang bagus kerjakan dipraktekkan intern penelaahan IPA, karena dengan motivasi dan menggunakan wahana rang, anak tidak mudah bosan. Murid lebih senang bila suguhkan keadaan-keadaan yang berbentuk buram. Apalagi buram yang kita tampilkan yakni tulangtulangan yang disenangi oleh peserta, selagi enggak menyimpang dari materi pembelajaran yang akan kita tampilkan. Itu malah membuat murid jadi lebih senang membiasakan.

Untuk itu gunakanlah sarana atau alat angkut nan disenangi oleh pesuluh, karena apabila intern proses pembelajaran itu bisa membuat murid senang dan gembira, maka dengan sendirinya materi yang kita ajarkan akan mudah dicerna oleh murid. Bahkan siswa menjadi senang terhadap guru kelasnya, sehingga suasana kelas akan menciptakan interaksi yang lancer dan menghilangkan.

Tetapi yang harus kita garis bawahi , seluruh sarana yang kita pakai n domestik penelaahan harus sesuai dengan karakteristik materi nan membutuhkan banyak hafalan dan pemahaman sarana yang paling kecil cocok dalam netra pelajaran IPA yakni media tulangtulangan. Melintasi wahana susuk ini murid

(3)

kian aktif dan termotivasi dalm dalam belajar, dan apabila mereka diberikan tugas dan menjawab beberapa pertanyaan guru merka siap menjawab pertanyaan tersebut dengan bantuan sarana tulang beragangan sehinga sarana/perkakas ini akan bisa meningkatkan hasil belajar murid.

Terkadang kulur suatu soal, mengapa hasil belajar sedikit, ialah 6,5 dengan taraf ketuntasan 40% , demikian juga tugas nan diberikan dengan menjawab cak bertanya yang ada di LKS ( Lembar Kerja Siswa ), tidak susah dikerjakan oleh pesuluh dengan melihat LKS teman-temannya yang lain, padahal soal nan cak semau di LKS telah kombinasi dibahas dan dijelaskan oleh temperatur kelars mereka.

Ini jawabannya tidak lain dan tak enggak karena, hasil pelaksanaan belajar IPA papan bawah IV di , sebagian besar siswa tidak termotivasi intern mengimak pelajran IPA. Seperti yang pembehasan diatas, peserta tidak nyaman didalam kelas, bosan ataupun pun tidak menggelandang dalam penyampain materi oleh guru kelasnya.

Karna itu, mata pelajaran IPA tidak namun sekedar bertujuan mudah-mudahan murid memperoleh nilai yang tinggi kerumahtanggaan eksamen, belaka kian terdepan sesuai dengan intensi tuntutan kurikulum siswa produktif mengaplikasikan tuntunan yang sudah lalu dipelajari.

Dan menghafal mata pelajaran IPA nan sangat butuh pemahaman dan hapalan, makanya sebab itu murid hendaknya bisa sparing dan memiliki tembung nan tinggi sehingga hasil belajar menjadi optimal.

Kalau dilihat dari jabatan saya yang dilatar belakangi adanya kebutuhan tenaga temperatur. Kebutuhan ini meningkat dengan adanya rencana pendidikan yang menghasilkan favorit hawa bikin menghasilkanguru yang profesional. Lega masa masa ini ini LPTK mejadi satu-satunya lembaga yang menghasilkan master. Walaupun jabatan profesi guru belum dikatakan penuh, namun kondisi ini semakin membaik dengan peningkatan penhasilan guru, pengkuan profesi guru, organisasi profesi yang semakin membaik, dan lembaga pendidikan yang menghasilkan tenaga master sehingga ada sertifikasi hawa melampaui akta mengagar.

(4)

Organisasi provesi berfungsi buat menyatukan gerak langkah anggota profesi dan untuk meningkatkan provesionalitas para anggotanya. Adapun ruanglingkup layanan guru dalam melaksanakan profesinya adalah terdiri atas:

1. Layanan administrasi pendidikan , 2. Layanan istruksional

3. Dan layanan pertolongan, yakni ketiganya berupaya cak bagi meningkatkan kronologi murid secara optimal.

Namun takdirnya diamati dari lingkungan sekolah, sekolah ada dan sukma internal satu publik. Masyarakat nan terserah disekitar sekolah selalu mempengaruhi perkembangan pendidikan disekolah, karena itu guru wajib mengenal dan meresapi bumi sekitar sekolah, minimal umum kelurahan atau desa dan kecamatan dimana sekolah dan guru kaya.

Mayapada lingkungan sekolah mungkin dunia industri, bumi pertanian, dunia pertanaman, dunia perikanan,dan bukan-tidak tentunya marcapada lingkungan disekitar sekolah tersebut mamiliki resan istiadat, ajudan, tatacara, sikap dan tingkah kayun masyarakatnya yang berbeda. Guru berperan hendaknya dirinya dan sekolahnya boleh berfungsi sebagai unsur pembaruan bakal hidup dan kejayaan daerahnya. Bakal lebih memahami mayapada sekitarnya, guru turut berbarengan masyarakat sekitarnya dalam bineka aktifitas dan mengekspor terciptanya kerjasama yang sebaik-baiknya antara sekolah, manusia tua dan masyarakat bagi keutuhan propaganda pendidikan atas radiks kognisi bahwa pendidikan merupakan tanggungjawab bersama antar pemerintah, ayah bunda pesuluh didik dan umum.

Faktor inilah nan membentuk murid lain suka dan tak pemfokusan dalam belajar, karna faktor linkungan setempat nan tidak kondusif proses pembelajaran disekolah. Sungguhpun begitu kita selaku guru harus bisa menuntaskan masalah nan serupa ini. Dan mampu menanggulangi apa yang menjadi penyebab timbulnya kasus yang sejenis ini.

(5)

Berdasarkan parasan pantat masalah yang dikemukakan dalam pelaksanaan penataran IPA diatas, diidentifikasi masalah yang dihadapi dalam penerimaan IPA kelas IV merupakan sebagai berikut:

a. Pada awal penataran guru sebagai pembentuk (peneliti) terbatas n domestik mengelolah ruang dan fasilitas pembelajaran.

b. Sebagian besar murid melakukan kegiatan enggak seperti menulis, bercerita dengan teman sebangku, minta belas kasihan keluar kelas lega saat guru mengajukan materi tutorial.

c. Pemanfaatan media gambar kurang optimal, sehingga anak asuh cuma bisa melihat dan mencawan sekadar.

d. Metode yang dilakukan suhu belaka berceramah saja.

e. Sebagian besar murid berat pinggul mengerjakan tugas dan menjawab cak bertanya yang ada diLKS, padahal materi tersebut mudah dan telah dijelaskan maka dari itu hawa.

f. Penggunaan perian minus efisien.

g. Guru enggak menindak lanjuti pembelajaran.

Kerumahtanggaan rajah penataran IPA plong KD pendedahan mendiskusikan bagaimana menerapkan cara memelihara kesehatan pada indra. Dimana panca indra yakni pusat segala organ jasmani bani adam, yang harus dijaga oleh orang itu seorang.

Yang saya temui selama pelaksanaan penelaahan berlantas, banyak hal unik yang terjadi di inferior saya salah satunya anak asuh acuh-tak acuh dalam penataran ini, maka berusul berbagai rupa masalah yang didapat guru ( saya sebagai pengkaji ) tersentuh untuk mengadakan eksplorasi yang tejadi dikelas saya selama proses PBM berlangsung, kenapa saya tersentuh untuk mengadakan penelitian supaya anak bimbing saya termotifasi, bersemangat dan memufakati segala apa yang sudah dipelajari.

Selain itu, kenapa yang berkeinginan langgeng dalam meneliti yang terjadi dikelas saya mengajar karena dari 20 murid saya tetapi 6 murid yang mencapai tingkat penaklukan pengajian pengkajian.

(6)

Berdasartkan hasil musyawarah nan dilakukan dengan ibuk Harrniyenti, S.Pd selaku ahli nujum I dan supervisor II kami yaitu ibuk Musdayeni, S.Pd. SD, maka perbaikan pembelajaran perlu dilakukan karena banyak kejadian-hal yang ditemukan dalam PBM pada indra penglihatan pelajaran IPA. Sebelum perbaikan pembelajaran dilakukan saya sebagai pemeriksa (guru ) di kelas IV juga mengadakan musyawarah dangan kepala sekolah kami yaitu ibuk Desnimar, S.Pd.SD yang menjabat sebagai pimpinan kami disekolah., dan guru-guru nan seperjuangan dengan saya.

Kaprikornus dalam menindak keburukan yang seperti mana ini, saya selaku pendidik harus segala apa-sekadar peran guru didalam pendidikan. Menurut buku rahasia yang pernah say abaca, Profesi Keguruan disini jijelaskan segala peran guru didalam pendidikan adalah andai berikut:

Peran kepembibingan guru n domestik proses pembelajaran, bimbingan disekolah dapat digolongkan kedalam pimpinan belajar, pribadi, social, dan juga karier.

– Teknik membantu murid problematis, upaya membantu peserta didik memintasi perilaku bermasalah dan menggantinya dengan perilaku yang efektif memaui kegesitan khusus berpangkal guru.

– Dan ada beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh seorang guru bakal memperoleh mileu belajar yang sehat,yaitunya:

a. Memanfaatkan indoktrinasi kelas sebagai kendaraan untuk didikan kerubungan.

b. Kepentingan pendekatan-pendekatan kelompok dalam mengamalkan bimbingan

2. Analisis Masalah

Kalau dilihat berpunca identifikasi komplikasi yang saya temukan dikelas IV sekolah wadah saya mengajar, plong penelaahan IPA pada materi memahami hubungan antara struktur organ jasmani insan dengan fungsinya, serta pemeliharaannya. Maka pada waktu kegiatan apersepsi suhu tidak mengkritik keadaan ruang kelas bawah dan tidak menyediakan

(7)

tanya-cak bertanya yang memancing murid intern penataran, selain itu saya enggak mengemukakan tujuan pembelajaran nan harus dicapai oleh murid,serta lain memfokuskanperhatian siswa budu topik yang dibahas.

Pada kesempatan kali itu, memang diluar dugaan saya. Memang puas saat itu tak banyak nan tekun serius dalam pembelajaran. Karna pron bila itu metode yang saya terpkan kepada anak asuh, metode ceramah, sehingga murid bosan dan terjadilah pendedahan nan membosankan bagi anak.

Pada penelitian yang sudah saya lakukan di IV juarai. Setiap pembelajaran yang saya buat saya belalah merasa terserah nan kurang, ingatan para murid terhadap pambelajaran IPA tampaknya tidak meriangkan. Pesuluh makin menganggap penerimaan IPA sebagai mata pelajaran yang diwajibkan dan saja ialah tugas rutin untuk mengikutinya. Saya merasa murid menganggap enteng pelajarannya. Selepas berulangkali merenung , saya merangkum bahwa motifasi para petatar bikin membiasakan IPA sangatlah cacat sekali.

Ini pahit lidah berasal seringnya siswa absen internal pelajaran dan nilai rata-rata inferior IV mata latihan IPA sahaja 5,4. Saya menjadi bingung bagaimana cata mengatasi ki aib ini. Memang sekejap-sekejap saya mengerjakan npembelajaran saya tidak memperalat media dan hanya berceramah didepan kelas pada kegiatan didepan kelas puas kegiatan evaluasi, saya tidak menguraikan secara tepat bagaimana prosedur kerumahtanggaan mengerjakan LKS sehingga peserta saya bingung dalam mengerjakan LKS.

3. Alternative dan Hak istimewa Separasi Masalah

Disini saya akan mmbahas alternative dan prrioritas pemecahan ki aib yang sering saya temui dalam pembelajaran di kelas IV SD . Didalam proses pembelajaran IPA berlantas, maka banyak hal-hal yang kurang menyenangkan dalam mengimak PBM dikelas tempat saya melakukan

(8)

pengkhususan. Maka itu ketika saya mengamalkan proses pembelajaran suka-suka anak yang berbicara dengan teman sebangkunya atau sering mintak izin keluar.

Dari hasil analisis tersebut saya menemukan bahwa hanya murid tertentu ( selingkung 15 khalayak pecah 20 peserta ) nan besar perut mangkir, dan memang ternyata murid yang sering tidak hadir nilainya terbatas. Dari analisis tugas, bahan pelajaran, dan balikan, saya menemukan bahwa tugas yang saya berikan di renggut berpangkal buku paket memang membosankan karena hanya menuntut murid lakukan menghapal, sonder meminta pelajar untuk membuka manah dan perasaannya secara netral internal bahasa tulis. Balikan nan saya berikan pada tugas-tugas tersebut, ternyata hanya dua kata merupakan sepan dan invalid

Bermula refleksi nan saya lakukan, saya merasa berpose konvensional-resmi saja, hanya saya merasa rumit mengasihkan pengukuhan. Hanya kemudian saya menyimpulkan bahwa saya harus memilih masalah nan dapat saya atasi sendiri. Saya kemudian memutuskan bahwa saya akan menonjolkan operasi pada prbaikan tugas dan bahan ajar nan saya gunakan.

Dari kelainan ini maka langkah maupun tindakan yang harus saya lakukan yaitu saya mempersiapkan bahan tuntun berikutnya, seperti mempersiapkan atau mengunakan organ peraga yang faktual media rancangan, yang berharap supaya bisa menunjang internal proses pendedahan nan saya lakukan. Dan yang juga menjadi maksud saya yaitu murid jadi lebih termotifasi dalam belajar, dan suasan urat kayu belajar menjadi bertambah hidup melangkaui metode tersebut. Insyaallah.

B. Rumusan Masalah

Beranjak dari penjelasan pada latarbelakang dan identifikasi komplikasi yang didapat diatas tampak ponten peserta masih invalid tinkat penguasaannya hanya 12 orang yang nilainya 70 pecah 20 orang total pesuluh. Bintang sartan masih ada sekeliling 8 orang yang belum tuntas nilainya n domestik poelajaran IPA yang saya ajarkan. Diduga yang menjadi penyebab dari hal tersebut diatas adalah abnormal terlibatnya petatar secara serampak dalam proses berlatih mengajar, karena materi

(9)

hendaknya bisa dipahami dengan bantuan radas peraga, sedangkan nan biasa saya bakal hanya mengklarifikasi dan berkhotbah saja didepan kelas.

Maka dari pada itu, masalah pada pembelajaran IPA inferior IV ini dapat saya rumuskan yaitu perumpamaan berikut:

a. Bagaimana mandu menampilkan kendaraan gambar nan baik anak pelajar menjadi tertarik dan boleh memberi motivasi kerumahtanggaan pembelajaran b. Bagaiman cara dalam mengamalkan penggarapan inferior pada awal

pembelajaran

c. Bagaimana agar murid bisa mencapai skor dan dasil membiasakan yang kita harapkan

d. Bagaiman agar pelajar dapat menyelesaikan pertanyaan-soal yang saya berikan e. Bagaimana metode yang sesuai n domestik penanaman konsep cak agar anak

tidak bercerita dan celas-celus ketika proses pembelajaran.
C. Pamrih Penelitian Perbaikan Pembelajaran

Bagi meningkatkan perebutan murid terhadap materi latihan IPA kelas IV penulisan melaksanakan perbaikan penataran melewati penelitian tindakan kelas (PTK) dengan tujuan guru berbenda membiji dan memperbaiki pembelahjaran yang dikelola koteng.

Selain itu tujuan pengkaji perbaikan pembelajaran ini agar meningkatkan penguasaan murid yang makin aktif, kreatif dan menyejukkan serta umpama guru internal proses belajar-mengajar, master harus mampu melaksanakan pembelajaran serta mengefaluasi pengajian pengkajian yang mutakadim dilaksanakan, menciptakan suasana berlatih nan konduktif dan melibatkan pesuluh didik ikut serta aktif membangkitkan motifasi belajar murid yang maksimal.

Disamping meningkatkan proses pembelajaran yang maksimal terhadap materi pembelajran, deklarasi ini pun dibuat sebagai persaratan yang wajib dikuti oleh setiap mahasiswa dalam tanggulang jenjang pendidikan S1 (PGSD) sebagai tugas akhir dalam mata lektur Pengukuhan Kemampuan Professional (PDGK 4501) di UT.

(10)

Laporan ini disusun berdasarkan catatan yang dibuat momen merancang bentuk pendedahan, sampai kepada pelaksanaan restorasi pembelajaran yang diobserfasi oleh supervisor pelaksanaan perbaikan pengajian pengkajian dilakukan II siklus bakal mata pelajaran IPA di SDN .

D.
Kekuatan Penggalian Pembaruan Pembelajaran

Hasil penelitian ini diharapkan dapat berharga bagi brbagai pihak. Pihak uyang dimaksud ialah:

1. Murid, terutama untuk peserta kelas IV agar lebih termotivasi dan terampil dalam menerima pembelajaran IPA kususnya plong mata pelajaran, memafhumi pergaulan antara struktur organ jasmani manusia dengan fungsinya, serta pemeliharaannya

2. Guru, guru kelas bawah IV sebagai wali kelas bawah, dapat dijadikan pedoman mengajar yan professional kedepannya.

3. Peneliti sendiri merupakan dapat dijadikan sebagai bulan-bulanan kajian akademik di Universitas Terbuka.

4. Pemeriksa selanjutnya, nan digunakan sebagai bahan acuan, baik perndekatan atau materinya.

Ki II

KAJIAN PUSTAKA
A. Pendidikan

Kita sebagai pendidik di SD hanya bisa melaksanakan tugas dengan baik bila mana memiliki pemahaman yang baik juga tentang konsep pendidikan di SD. Pemberitahuan,pemahaman dan camar duka saya adapun pendidikan di SD adalah senantiasa perlu di persegar dan di perkaya,mengingat ilmu dan konsep akan halnya pendidikan di SD adalah hasil pemikiran manusia nan bersifat dinamis,berubah-ubah karena pengaruh keadaan dan kondisi kehidupan umat individu plong masyarakat nya. Konsep pendidikan selalu mengalami perubahan seiring dengan tuntutan zaman dan peradaban umat makhluk di dunia intern berjenis-jenis aspek usia.

(11)

Berkenaan dengan peranan pendidikan, manusia yang beradap setidak nya memiliki common sense bahwa pendidikan mempunyai peran lalu utama bakal hayat orang.pendidikan memiliki kelebihan (pengaruh) yang di namis dalam menyiap kan arwah manuasia di musim depan. Pendidikan bisa mengembang morong sebagai potensi nan di miliki nya secara optimal,yaitu pengembangan potensi indifidu yang setingginya dalam aspek fisik,intellectual,emosional,social dan spiritual,sesuai dengan tahap perkembangan serta karakteristik lingkungan fisik dan lingkungan sosio-budaya dimana dia hidup

Riuk satu signifikasi nan sangat masyarakat di kemukan kan maka itu Driyarka (1980) nan menyatakan bahwa pendidikan yakni proses memanusiakan manusia cukup umur. Didalam kamus alam semesta pendidikan setidiak tidaknya n kepunyaan tiga ciri utama sebagai berikut.

1. Proses kronologi kemampuan,sikap,dan bagan-kerangka tingkah laku lainnya didalam masarakat di mana dia kehidupan.

2. Proses social,dimana seseorang di hadap kan pada otoritas mileu yang tersortir dan terkontrol bikin mencapai kopentensi sosial dan pertumbuhan istimewa secara optimum.

3. Proses ekspansi pribadi dan perian insan.

Pengertian tersebut mirip dengan pendapat G. Thompson ( 1957 ) yang menyatakan bahwa pendidikan yakni pengaruh lingkungan atas individu bakal menghasilkan perubahan-perubahan nan tepat didalam resan-kebiasaan, pemikiran, sikap-sikap, dan tingkah laku. Crow and Crow ( 1960 ) mengemukakan: harus diyakini bahwa manfaat penting pendidikan ialah bimbibingan terhadap bani adam intern upaya menepati kebutuhan dan keinginan yang sesuai dengan potensi yang dimilikinya sehingga mereka memperoleh kepuasan dalam seluruh aspek keseluruhan pribadi dan spirit sosialnya.

(12)

Tilaar ( 1999:28 ) merumuskan hakikat pendidikan sebagai satu proses menumbuhkembangkan kesediaan siswa-bimbing nan memasyarakat, membudaya, dalam manajemen roh yang berukuran local, nasional, dan global. Sunaryo Kartadinata ( 1996 ) mengemukakan pengertian pendidikan dalam rumusan yang cukup tertinggal tetapi munjung makna, yaitu pendidikan ialah proses membawa anak adam pecah segala apa adanya kepada bagaimana seharusnya. Kondisi apadanya yakni kondisi aktual petatar didik saat ini, satu keberadaan anak dengan segala potensi, kemampuan, sifat, dan rasam yang dimilikinya. Sedangkan kondisi bagai mana seharusnya adalah satu kendisi nan diharapkan terjadi pada diri anak, berwujud pertukaran prilaku intern aspek cipta, rasa, karsa, dan karya yang berlandaskan dan bermuatan nilai-nilai manusiawi yang dijunjung tinggi.

Akhirnya makna pendidikan yang mantap dinyatakan kerumahtanggaan Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang system pendidikan nasional pasal 1 ( 1 ) dinyatakan pendidikan sebagai
“ … kampanye sadar buat menciptakan suasana
membiasakan dan proses pembelajaran hendaknya peserta didik secara aktif
meluaskan potensi dirinya buat memiliki kekuatan spiritual keyakinan,
pengendalian diri, fiil, kecerdasan, akhlak mulia, serta kegesitan
nan diperlukan oleh dirinya, masyarakat bangsa dan Negara. “

B. Organ indra manusia ( Netra )

Lega studi nan saya cak bagi di ini, saya mengukur kemampuan peserta privat pembelajaran meres studi IPA, nan mana materi yang saya ajarkan yaitu Perabot Pengindraan Manusia dan pada detik itu materi kusus nan saya sampaikan pada kesempatan yang pendek itu spesial pengindraan pada Netra.

Materi saya ambil semenjak berbagai kunci sumur, sedikit penjelasan tentang perkakas alat pencium ( mata ) pada manusia saya mencoba kerjakan menjelaskan nya.

Indra rukyat , merupakan alat pencium yang indra nan terpenting. Babak otak yang berhibungan dengan indrain ini jauh lebih besar terbit pada yang

(13)

berbimbing dengan indra tidak. Mata merupakan indra penglihatan bagi kita. Bola ain terwalak n domestik rongga indra penglihatan dan dilindungi maka dari itu benak-lemak tulang tempurung kepala. Fragmen depan bola ain dilindungi oleh selaput tipis, kelopak mata, surai mata, dan glandula air mata. Ketika ain kita terbuka bulu mata kita akan melindungi mata kita dari debu. Kedp alat penglihatan yang tidak sadar kita lakukan yakni usaha kerjakan menyingkirkan air mata kita.

Bola mata dilekatkan plong didinding sebelah dalam rongga mata oleh tiga pasang otot yang berfungsi memprakarsai bola ain kearah yang kita kehendaki lakukan mendapatkan pandangan nan sebaik-baiknya. Urat-urat tersebut tertuju pada tulang tengkorak.

Bagian-babak bola mata yaitu seumpama berikut:

a. Kornea adalah bagian nan berwatak tembus pandang

b. Selaput pelangi atau iris, yang terwalak dibelakan kornea dan berpitmen. Zat member warna sreg iris ini disebut melanin. Pikmen ini yang menentukan warna mata

c. Lensa, terletak dibelakang gendang-gendang pelangi. Suryakanta boleh mencembung dan menipis sesuai dengan jarak benda nan akan difokuskan.

d. Retina, retina faktual selupat lembaga pemasyarakatan-sel hidung. Ada dua tipe sel alat pencium merupakan, kurungan bintang ( rod ) dan interniran kerucut disebut ( cone ) jumlah sel bintang lebih banyak berbunga pada sel kerucut kira –kira 7 selkerucut. Tangsi tanda jasa dahulu paham terhadap cahaya sehingga memungkinkan kita mengintai internal keremangan dan tetapi kita takkan boleh membedakan warna. Plong retina terletak terwalak bintik kuning dan buntik buta. Titik kuning adalah palagan yang sangat peka terhadap rangsangan cahaya. Supaya kita bisa melihat suatu benda dengan jelas, bayangan benda itu harus jatuh tepat sreg bintik kuning. Padahal bintik buta merupakan tempat pada retina nan sekali-kali tidak peka terhadap rangsangan cahaya, dan adalah tempat keluarnya serabut-cendawan saraf mata.

(14)

Provokasi pada mata biasanya diakibatkan kurangnya asupan sari makanan yang menganmdung Zat makanan A. ini bisa terjadi kehilangan mengkonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran. Sayuran dan buah yang bercat kuning kemerahan,seperti wortel, tomat dan papaya mengandung zat rona nan disebut karoten. Di dalam hati, karoten dibuah menjadi

C. Media rajah

Pembentukan kemampuan pesuluh disekolah sangat dipengaruhi maka itu proses sparing yang ditempuhnya. Makanya karena itu mudah-mudahan petatar n kepunyaan kemampuan nan diharapkan proses sparing harus dikendalikan oleh suhu berdasarkan makanya kurikulum yang dolan.

Prose belajar akan terberntuk berdasarkan pemahaman dan rukyah hawa terhadap pengertian dan hakikat berlatih mengajar. Agar proses belajar efektif, temperatur harus mencerna bahwea tugas dan peran nya dalam mengajar harus berfungsi bak penyuluh, fasilator dan narasumber alias pemberi informasi.

Rukyah nan dianggap paling sesuai dengan kebutuhan dan hakikat membiasakan saat ini yakni bahwa mengajar adalah satu proses membimbing menyerahkan warta dan mengatur lingkungan sehingga terjadi proses belajar yang efektif. Bakal kondusif semua itu diperlikan pengetahuan dan pengalaman n domestik mengajar serta sarana dan prasarana nan mendukung sewaktu sebagai pasilitator dalam pengajuan ilmu pesiaran, salahsatu wahana yang penting yaitu sarana penataran.

Tingkat guna penelaahan disekolah radiks (SD) salah satunya dipengaruhi oleh kemampuan guru menerapkan pangkal kekongkritan dalam mengelolah proses pembelajaran, maksudnya guru harus mampu menjadikan apa yuang diajarkannya bagaikan sesuatu yang kongkrit (nyata) sehingga mudah dipahamiu oleh peserta.

Temperatur sreg umumnya sering menggunakan sarana pendedahan nan berujud moga pemberitaan dan mangsa ajar trsebut dapat masin lidah dan diserap

(15)

dengan baik maka itu para murid sebagai wujud bahan didik tersebut dapat diterima oleh para pesuluh yang dibutuhkan dengan terjadinya peralihan-pereubahan perilaku baik berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan.

Menurut Clart (1956), pengertian alat angkut gambar dapat dilihat bersumber beraneka rupa sudut, diantaranya wahana dipandang perumpamaan teknilogi, tutor, materi, agen, alat mental berpikir dalam pemecahan masalah.

Menurut Heinick ddk ( 1996 ) sarana ( biasa maupun medium ) suntuk secara mahajana adalah saluran komunikasi ialah segala sesuatu yang membawa makrifat dfari sumber laporan kerjakan disampaikan kepada penyambut pengetahuan contohnya merupakan: film, TV, diagram, materi pembelajaran, computer dan pengajar.

Sedangkan Critters (1956) menyampaikan media penerimaan dipandang seumpama organ atau wahana untuk menyampaikan atau mengomunikasikan wanti-wanti pembelajaran kepada murid.

Tujuan penggunaan media rencana secara umum yaitu memfasilitasi komunikasi. Dalam penataran tujuan penggunaan media antara lain ialah cak bagi meningkatkan kualitas dan efektif pembelajaran memudahkan guru kerumahtanggaan melaksanakan pembelajaran, memberikan arahan tujuan nan dicapai, menyediakan evaluasi bagi subur, menyorongkan materi pembelajaran dan membantu penelaahan yang mempunyai kekusukan tertentu.

Miarso: ki alat bagan pembelajaran secara makro privat keseluruhan syistim pendidikan didefenisikan sebagai apa sesuatu yang dapat merangsang terjadi proses balajar, dalam konotasi yang lebih kusus, media merupakan alat bantu pendedahan yang digunakan n domestik pengajaran di SD tersurat pengajian pengkajian IPA.

Menurut Winn (1956), arti media gambar sreg pembelajaran antara tidak : menyampaikan pembelajaran kontruksi dari mileu,dimana media membantu petatar mengali dan membangun kognisi berusul pengetahuan serta mengembangkan keterampilan serebral dimana media bagaikan modal, penciptaan alias pengembangan kesigapan mental.

Ki alat gambar penerimaan menurut Gagne merupakan: komponen perigi belajar dil;ingkungan petatar nan dapat meransang murid untuk belajar padahal menurut. Menurut Brigs, media belajar yakni: wahana fisik yang

(16)

mengandung materi penelaahan dengan media pembelajaran yaitu sesuatu nan digunakan buat mengkomunikasikan materi pembelajaran.

Scrammber berpendapat bahwa media gambar n domestik pendidikan perumpamaan satu teknik utuk menyampaikan pesan sehingga sebagai teknologi pembawa makrifat atau wanti-wanti pembelajaran.

Penggunaan media gambar dalam pembelajaran IPA silam dibutuhkan karena media tersebut berfungsi sebagai:

– Mengaktifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan murid dan antar sesama pelajar dalam pembelajaran

– Erotis pikiran, ingatan, perehatian dan kemampuan dalam pembelajaran, sehingga member asam garam membiasakan kian bermakna bagi pesuluh.

– Membangkitkan keinginan dan minat belajar siswa.

– Membangun bawah-dasar cak bagi perkembangan sparing sehingga pelajaran lebih lama diingat.

– Memberikan pengalaman konkret yang dapat mengintensifkan kemandirian.

Faedah perkakas peraga n domestik wahana rajah pada pembelajaran IPA bakal murid yakni sebagai berikut:

– Meningkatkan tembung sparing. – Menyediakan variasi belajar.

– Memberikan cerminan struktur yang memudahkan belajar. – Member contoh yang hati-hati.

– Panas berfikir analisis.

– Menyediakan situasi belajar yang kurang berkepribadian sahih ( tanpa ada barang bawaan dan impitan).

Selain penting bagi siswa, manfaat alat peraga intern pembelajaran IPA bagi guru antara bukan:

– Memberikan pedoman dalam merumuskan intensi pembelajaran. – Mengasihkan sistimatika mengajar.

– Memuluskan kendali mengajar.

– Membengkitkan rasa berketentuan diri dalam mengajar. – Meningkatkan kualitas mengajar.

(17)

Media gambar dalm pem,belajaran IPA punya biji praktis yakni:

a. Menampilkan bulan-bulanan nan sagat segara yang bukan bisa mungkian dibawa kedalam papan bawah seperti: bumi, bulan, matahari, peristiwa kalimantang dan sebagainya.

b. Menampilkan objek yang jarang sebagai halnya: medalion, tumbuhan, insan beserta strukturnyha masing-masing.

Selain itu menurut Mahmuduin dan Kusnadi (2002) menyatakan seseorang guru privat menggunakan perangkat peraga yang merupakan media gmbar haruslah mendesain instrumen peraga IPA tersebut, yang menghampari merancang, memilih dan membuat perabot peraga IPA yany sesuai dan cocok lakukan mengajarkan suatu kosep, kaidah teori-teori IPA bagi murid SD.

Mendesain perabot peraga IPA berjasa menampilkan susuk asli ataupun memodifikasikan benda suci menjadi sebuah model. Model boleh dibuat secara sederhana yang disesuaikan dengan kebutuhan n domestik penelaahan IPA di SD.

(18)

Gapura III

PELAKSANAAN Riset PERBAIKAN PEMBELAJARAN

A. Subjek, Tempat dan Periode Pendalaman serta Pihak nan Membantu
Pada kesempatan ini saya selaku pendidik dan sekaligus melakukan Penelitian Tindakan Inferior. Maka objek penelitian yang dimaksud adalah orang yang melakukan penelitian maupun yang menulis investigasi ini, Rizal Nofriandi nama abstrak juru tulis.

Penelitian perbaikan pembelajaran ini dilakukan di Kecamatan Kabupaten , kebetulan ditempat melakukan penelitian ini juga ialah kancah penulis mengajat. Penulis melakukan penelitian dikelas IV yang tingkat kemampuannya tidsak sama, nan dilatarbelakangi oleh bermacam-macam satah belakang. Mata pelajaran yang saya tampilkan pada pelaksanaan penelitian ini adalah mata tuntunan Aji-aji Pengetahuan Alam IPA papan bawah IV semester I.

(19)

Sedangkan masa penelitian ini dilakukan sejauh 3 pekan, tiap minggunya saya mengamalkan eksplorasi di kelas IV semester I ini melakukan pembelajaran. Penggalian dilakukan II siklus merupakan:

– Prasiklus pada perian Rabu tanggal 30 Oktober 2013 pada saat inilah penulis menemukan masalah-masalah nan terdapap pada petatar kelas IV SDN. Majemuk rangka kebobrokan ditemukan.

– Siklus I lega hari Sabtu copot 02 Nofember 2013 sreg kesempatan ini murid dilakukan maupun diberikan suatu perbaikan. Pada momen ini peserta dilakukan dengan kondisi perbaikan atau perubahan dari metode yang lama ke metode yang dianggap kian memperbarui dan bertambah meyakinkan terhadap hasil belajar makin meningkat.

– Siklus II pada hari Selasa terlepas 05 Nofember 2013 nah pada pertemuan siklus II inilah hasil membiasakan pelajar sudah membaik.

B. Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran

Pada babak ini menjelaskan prosedur penyelidikan perbaikan nan mencakup studi pendahuluan dan langkah-langkah PTK yang menutupi perencanaan, pelaksanaan, dan pengamatan, serta refleksi untuk setiap siklus pembelajaran.

1. Prasiklus

Didalam pra siklus ini mengklarifikasi mengenai kegiatan atau persiapan yang kita persiapkan pasa sebelum kita mengamalkan investigasi yaitu yang dapat kita jelaskan lega penjelasan berikut,

Pada perencanaan pra siklus pengkhususan sebagai temperatur kelas IV SD meren canakan pendedahan nan akan dilaksanakan didepan kelas bawah, yaitu ceratai tentang penataran IPA yang materinya” memahami koalisi antara struktur perkakas badan insan dengan fungsinya, srta pemeliharaannya” kelas

(20)

IV IV Juirai dengan berdasar pada RPP Kurikulum KTSP 2006. Kemudian penelitian mengekspresikan awalan tindakan yangf akan dilaksanakan perumpamaan berikut:

1. Mumbuat rangkaian rancangan pelaksanaan pendedahan

2. Mempersiapkan ki alat buram pembelajaran, dan objek-bahan tidak yang dibutuhkan

3. Hal-hal yang perlu untuk menyelesaikan masalah internal kelas 4. Mempersiapkan peranti pemeriksaan ulang tau nontes

5. Melakukan konsultasi dan kondisi dengan dagi sejawad tentang kegiatan yang akan dilaksanakan

6. Memeriksa kesiapan alat penampung data

Setelah menyusun ancang tindakan yang akan dilaksanakan. Pengkhususan berkonsultasi dengan jodoh sejawad tentang apa tindakan perbaikan yang akan dilakukan, sebelum tindakan perbaikan teman sejawad meminta cak bagi membentangkan pembelajaran yang sesuai dengan meterinya. Ini dilaksanakan dikelas sendiri saya mengajar, sekaligus pelaksanaan materi teman sejawad mengamati guru ( mahasiswa ) internal proses sparing-mengajar brlangsung dengan menggunakan kerangka obserfasi bikin master.

Selepas bermitra dengan teman sejawad maka pendalaman mengkaji untuk identivikasi masalah yang timbul akibat, adapun problem nan timbul merupakan:

1. Plong kegiatan awal bolos tidak diambil secara perorangan 2. Melakukan apersepsi tidak disampaikan

3. Kurangnya dalam penguraian motivasi anak 4. Presentasi konsep tidak tepat

5. Bukan mengunakan alat peraga ( media gambar ) 6. Pelaksanaan tindak lanjur masih terbatas

7. Pada penyudahan pendedahan masa sudah bukan efisien 2. Siklus I

a. Perencanaan

Didalam perencanaan pada siklus I ini secara prakteknya sebagaimana perencanaan yang kita lakuikan pada pra silkusnya.

(21)

Lebih jauh berpedoman pada hasil pengamatan teman sejawad berbunga pelaksanaan nan sudah dilakukan, maka katib mengadakn perundingan sekali lagi. Maka hasil perundingan dengan saingan sejawad yaitu perlu tindakan-tindakan perbaikan pada pelaksanaan pembelajaran. Adapun anju-langkah pembaruan faedah tanggulang masalah yang terjadi dalam pelaksanaan pembelajaran yaitu:

1. Merumuskan rencana pembelajaran sebaik barangkali dengan mempedomani KTSP

2. Mengembangkan dan mengorganisasi materi, serta perigi berlatih 3. Melaksanakan apersepsi dan menyampaikan tujuan penerimaan

sejelas barangkali

4. Mengurangi metode yang bervariasi

5. Selalu memperalat wahana-sarana yang mengganjur, materi yang disajikan adalah situasi tunggul

6. Membimbing peserta dalam melaksanakan latihan dan kerja gerombolan mengadakan penilaian dengan lungsin obserfasi

7. Memberikan ujian kepada murid lakukan terlibat aktif dalam pembelajaran

8. Mengerudungi pelajaran dengan mengumpulkan hasil pendedahan dengan brsama-sebanding

b. Tindakan

Pelaksanaan perbaikan IPA diSD kelas IV pada materi : mengarifi perhubungan antara struktur organ tubuh manusia dengan fungsinya, serta pemeliharaannya, ini diawali mempersiapkan scenario penelaahan. Adapun scenario pembelajaran tersebut yang dipersiapkan yakni RPP I perbaikan. RPP I perbaikan tersebut telah disusun dengan uluran tangan supervisor II kami yaitu ibuk Musdayeni, S.PD. SD nan bertugas perumpamaan guru bidang study IPA di SDN .

Sebelum pelaksanaan perbaikan pembelajaran pengamatan / supervisor II menginformasikan kepada temperatur bagai mana kiat-kiat dalam pelaksanaan, dengan menguji lembar observasi tentang pelaksanaan perbaikan pembelajaran. Pengamat menginformasikan

(22)

anju-langkah kegiatan nan dilakukan yaitu: kegiatan sediakala, guru hendaknya berbuat obsrvasi yang tepat, menyampaikan maksud nan jelas sehingga murid dapat memusatkan perhatiannya dalam pendedahan dan mencerna manfaat internal mempelajarai materi nan dipelajari.

Sreg kegiatan inti guru hendaknya berusaha membimbing murid dengan media gambar yang mutakadim disiapkan serta member petunjuk yang jelas dan rici dalam kerja keramaian. Suhu pun member kesempatan kepada murid buat terlibat aktif privat pembelajaran serata member pujian dan motifasi untuk kelompok yang sudah berdampak. Pada kegiatan pengunci pun master hendaknya membimbing murid buat menarik penali terbit pendedahan yang telah dipelajari dari pembnelajaran yang telah dipelajari, nan bermanfaat sekali adalah guru harus mengadakan evaluasi, untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan nan telah dicapai oleh guru sekaligus upah balik bagi guru untuk menentukan tindak lanjut dengan menganalisa hasil pembelajaran.

Ancang langkah pelaksanaan tindakan reformasi penelaahan yaitu laksana berikut:

Diagram KEGIATAN PEMBELAJARAN Kegiatan

Awal

Pesuluh mengawali pembelajaran dengan do’a, mengabseni pesuluh bikin menyibuk kehadirannya internal penataran, mengerjakan apersepsi yaitu mengkondisikan dan memotivasi murid lakukan melaksanakan proses pembelajaran

Kegiatan Inti

-guru memajukan harapan pengajian pengkajian

-guru mempoerhatikan dengan seksama pecah kendaraan-kendaraan yang diberikan

-pelajar mengomentari atau menanggapi media gambar tersebut

(23)

indara seperti mata khalayak

-guru member penjelasan dan penugasan tentang rang-rencana yang dilihat

-guru menjadi ideal dalam memaparkan kendaraan-media gambar

-keseleo seorang murid diminta menceritakan isi rangka yang cak semau

-suhu member komentar tentang kisahan diri anak asuh menjadi panduan memperbaiki murid lain

-Murid secara kerumunan mempersiapkan hasil kerjanya kedepan, bersumber tugas nan diberikan gambar tentang mencerna hubungan antara struktur organ tubuh khalayak dengan fungsinya, serta pemeliharaannya tersebut

-refleksi Kegiatan

Akhir

-temperatur memonten manifestasi siswa

-temperatur melibatkan murid, mengumpulkan pembelajaran nan sudah lalu berlangsung

-suhu memasrahkan pelajaran tes terjadwal kepada petatar

c. Pengamatan

Sesuai dengan tolok PTK, penulisan berkolaborasi dengan penyelia II, buat melakukan pengamatan dan memuati lembar pengamatan sejauh proses berlangsung. Tindakan digantikan berbuntut segala apa bila kemampuan murid diatas KKM nan ditetapkan disekolah tersebut.

Instrument utama pada penelitian ini yakni pengkajian seorang nan pun berperan misal pelaksanaan perbaikan pembelajaran dikelas dan dibantu maka itu imbangan sejawad dan supervisor II kami, instrument penunjang ialah:

a. Lembar observasi b. Data hasil observasi c. Buku nilai dalam kursus d. Tulisan guru

(24)

Berdasarkan hasil pengamatan terbit penilik II maka hasil penelaahan menunjukan bahwa:

– 18 murid inferior IV, hanya 7 murid yang mendapat kesempatan menjawab cak bertanya hawa

– Berbunga 7 insan murid yang menjawab, dan hanya 5 oarang yang jawabannya sopan

– Ketika diadakan urun rembuk kelompok, terjadi keributan katai karena semua momongan cak hendak melihat gambar-rencana yang suka-suka pada media, karena gambar-gambar tersebut terlalu minus

Berdasarkan data yang terkumpul, pemeriksa menyedang meringkas hasil perbaikan yang telah dilakukan dan hasil kesimpualan menunjukan bahwa penguasaan pelajar sudah meningkat, masih belum optimal 12 mulai sejak 20 murid yang menjawab dengan etis semua pertanyaan korban menyebarkan soal kepada minimal 10 anak juga belum tercapai, disamping gambar yang dibawah anak belum dimanfaatkan. d. Refleksi

Sreg tahap ini merupaka kegiatan yang dijadikan perumpamaan titik tolak penelitian sreg pra siklus. Kelebihan pada prasiklus tetap dipertahankan, sementara itu kelemahan yang ditemukan diusahakan cak bagi memperbaikinya pada siklus I. Berlandaskan hasil refleksi eksplorasi mengadakan perombakan dan penyempurnaan pelaksanaan perbaikan pembelajaran puas tindakan siklus berikutnya.

Dari hasil pengamatan guru ( penulis ) mengamalkan refleksi dengan mengajukan soal berikut pada diri seorang yaitu diantara nya:

1. Apakah saya terpatok kepada anak-anak yang paling belakang sahaja ? 2. Seandainya begini risikonya, apa yang harus saya perbaiki dalam tindakan

perbaikan berikutnya?

3. Mengapa saya tak dapat menaburkan pertanyaan kepada minat 10 murid ?

(25)

4. Mengapa saya tak menjatah kesempatan kepada anak buat menyoal dan mengobrolkan seluruh kelompok dari gambar mata sreg alat pencium penglihatan manusia?

3. Siklus II

a. Perencanaan

Lega bagian ini , penyadur masih berpedoman kepada refleksi, karena refleksi masih dijadikan asal kerjakan menyusun lembaga perbaikan pada siklus II ini, disamping mengekspresikan rangka restorasi lagi disusun kepingan observasi dan paisan hasil tes siswa.

Sedangkan materi nan dipelajari adalah menjelaskan kedepan tentang struktur oragan pandangan hamba allah, dan metode yang digunakan ialah dengan memberikan bimbingan melangkaui metode kasih tugas dan resitas. Tulang beragangan perombakan disusun lebih baik dari pada siklus I.

b. Tidakan

Pelaksanaan perabaikan penataran pada siklus I ini masih dilaksanakan dikelas saya mengajar, yaitu dan periode pelaksanaan tiga perian setelah prasiklus dilaksanakan. Setelah mengkomodasikan dari siklus II dalam lembaga perbaikan siklus I, saya meneliti sekaligus guru kelas IV SDN , berbuat perundingan pun dengan pengontrol saya.

Setelah itu, penulis bersiap-siap melaksanakan pembaruan siklus II yang topik penerimaan adalah lanjutan bermula topi nan lalu yaitu cara merawat dan memelihara alat indra ( ain ). Topik yang sama karena masih ada 9 orang murid yang belum dapat menjawab pertanyaan. Memahami hubungan antara struktur organ tubuh manusia dengan funsinya serta pemeliharaannya.

Tujuan perbaikan iniu terfokus pada 4 situasi yaitu:

1. Produktif menkoordinasikan petatar pada semula belajar.

2. Mampu memperalat kendaraan gambar yang digunakan lakukan pemahaman arah.

3. Mampu menyebarkan pertanyaan minimal kepada 10 murid. 4. Pada evaluasi murid tuntas dalam pembelajaran.

(26)

– Guru meledakkan media gambar struktur lima hangit manusia. – Hawa meminta siswa menyebutkan suatu-persatu segala apa yang

diperhatikan puas kendaraan gambar secara cak keramik. – Murid diminta duduk secara berkelompok.

– Kemudian mencatat ilustrasi berpangkal media gambar yang dilihat secara beranggar pena.

– Hasil diskusi ditampilkan didepan kelas. Kegiatan akhir:

– Pada akhir pembelajaran, suhu membagi tes tertera dan menulis soal dipapan catat dan murid menjawab pertanyaan dikertas selmbar.

c. Pengamatan

a. Pesuluh bersemangat intern menjawab pertanyaan berusul 20 murid ada yang tidadk menjawab pertanyaan dengan bermartabat.

b. Hawa dan petatar menyimpoulkan hasil pembelajaran sambil kemudian hasil disimpulkan oleh momongan-anak dibuku tulisan dengan bantuan guru.

Data yang saya boleh dari hasil obsevasi lega pesuluh papan bawah IV disupervisor atau penilai ialah seumpama berikut:

1. Anak seperti itu sukma detik guru memajang media gambar nan temperatur gunakan.

2. Semua tanya yang guru berikan murid dapat menjawab dengan benar, namun cak semau 2 peserta yang pengetahuannya rendah yang tidak dapat menjawab pertanyaan.

3. Ada kelompok anak-anak nan medium berdiskusi kompak dan tenang dan tenteram.

4. Peserta tidak ada yang rebut, bermain-main internal kelas. Goresan guru atau penulis yaitu sebagai berikut:

– Murid saya arwah, dan dapat menjawab seluruh peretanyaan yang saya berikan kepada pesuluh.

(27)

– Seluruh peserta suka menirukan proses pengajian pengkajian dan tidak ada yang bermain atau meribut didalam papan bawah.

– Hasil belajar meningkat sesuai dengan barang apa yang kita inginkan.

C. Teknik Analisis Data

1. Data dan Sendang Data
a. Data Penekanan

Masukan data penelitian saya ambil pecah hasil proses pembelajaran yang terdapat pada interaksi murid papan bawah IV SDN Sago Kecamatan IV Juarai. Berangkat dari pelaksanaan prasiklus setakat kepadareaksi nan ketimbul setaelah berlangsungnya siklus I dan II. Ini semua disusun dan ditulis dalam catatan guru atau atau yang melakukan pengkhususan.

Dada penbelitian ini berupa hasil pengantar, ctatan pelan dan data hasil belajar bermula setiap hasil berlatih berpangkal setiap tindakan perbaikan puas setiap tindakan pembaruan pada pembelajaran Ilmu Laporan Alam (IPA ) dengan pendekatan kontekstual puas siswa papan bawah IV dengan pendekatan kontekstual sperti berikut ini:

1. Coretan tentang pelaksanaan pengajian pengkajian nan berhubungan dengan perilaku guru dengan murid, nan menghampari interaksi pengajian pengkajian antara suhu dengan pesuluh, pelajar dengan pesuluh, dan murid dengan guru dalam pendedahan IPA diSD.

2. Evaluasi pembelajaran Ilmu Kenyataan Bendera (IPA ) baik yang berwujud evaluasi proses maupun evaluasi hasil.

b. Sumber Data

Yang dimaksud dengan sumur data yaitu, dari mana carik mendapatkan hasil penelitian, atau dimana penekanan dilakukan. Sumur data eksplorasi adalah proses pembelajaran Mantra Pemberitahuan Umbul-umbul (IPA ) dengan pendekatan kontekstual dikelas IV SDN ,Kecamatan Kabupaten yang meliputi pelaksanaan penelaahan dan kegiatan evaluasi sewaktu proses

(28)

pembelajaran Guna-guna Pengetahuan Alam ( IPA ). Data diperoleh dari subjekterteliti yakninya master dan murid papan bawah IV kecamatan .

2. Instrument Penelitian

Didalam kamus ilmiah Instrumen yakni instrumen atau perkakas, jadi nan dimaksud instrument penelitrian ialah perlengkapan yang digunakan ketikaka proses penelitian berlangsung. Sedangkan instrrumen yang digunakan pada penelitian dan proses perbaikan ini yaitu berupa tes prestasi belajar yang diberikan kepada murid kerjakan mengukur ketercapaian hasil belajar petatar. Serta lawe obsrvasi nan digunakan untuk mengamati bagaimana proses pembelajaran berlantas.

Yang dimaksu dengan pembuktian disini yaitu cak bertanya atau latihan serta instrumen tak nan digunakan bakal mengukur kegesitan, Amanat, intelegensi, kemmpuan atau bakat nan dimiliki serta individu maupun kelompok. Padahal tes penampilan yaitu validasi yang digunakan bikin menimbang pencapaian seseorang setelah mempelajari sesuatu ( Arikunto, 2006 : 150 ) sedangkan observasi merupakan secara sistematis dengan prosedur yang berstandar ( Arikunto, 2006 : 222 )

Cara yang digunakan lakukan memperoleh data yang bonafide intern penelitian ini yaitu sebagai berikut:

a. Lembar observasi ini digunakan untuk mencamkan latar kelas bawah tempat berlangsungnya pembalajaran Aji-aji Pengetahuan Bendera ( IPA ), dengan berpedoman pada lembar-lawai observasi yang sudah disediakan. Supervisor mengamati apa yang telah terjadi dalam proses pembelajaran ditandai dengan menerimakan ceklis pada kolom nan terdapat internal lembar observasi sesuaai denagan pengamatan terhadap proses penataran.

b. Tes, untuk memperkuat data observasi nan terjadi dalam kelas terutama plong butir penguasaan materi puas penelaahan IPA yang diddapat dari siswa.

(29)

c. Catatan lapangan, didalam pembuatan catatan lapangan ini pada dasarnya berisi tentang deskripsi atau berupa bayangan tentang latar pengamatan terhadap tindakan praktisi dan murid pada waktu pembelajaran IPA. Partikel-zarah yang diamati dalam pelaksanaan mengacu lega segala apa yang tertera pada laporan pengamatan. Pembutan rajah refleksi harus beralaskan pengamatan yang telah dilakukan maka dari itu guru dan pengamat penelitian.

Kaprikornus yang selaku instrument utama dalam penelitian ialah pemeriksa sendiri,guru kelas bagaikan pengamat pengajian pengkajian di inferior. Pemeriksa misal instrument penting bertugas menyaring, memonten, mengijmalkan, dan membelakangkan data yang diperlukan.

3. Analisis Data

Yang dimaksud dengan Analisis Data yaitu upaya nan dilakukan oleh hawa nan berperan laksana peneliti untuk merangkum secara akurat data yang telah dikumpulkan intern rancangan nan bisa dipercaya dan benar adanya. Didalam pelaksanaannya dilakukan dengan cara sebagaiberikut: mengidas, mengategorikan, mengklasifikasikan data yang cak semau dan merangkumnya, kemudian menyajikannya dalam bentuk yang mudah dibaca dan dipahami.

Dalam memperoleh data penelitian dianalisis dengan menggunkan teladan Kajian Data Kualitatif dan Analisis Data Kuantitatif. Kajian data kualitatif nan ditawarkan maka itu Miles dan Huberman ( privat Kunandar 2008 : 101 ) ialah analisis data dimulai dengan menelaah sejakpengumpulan data sampai seluh data terkumpul.

Puas hasil pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dengan menggukan pendekatan kontekstual yang kemudian

(30)

dipresentasekan, hal ini berdasarkan teoretis analisis kuantitatif Soendjojo Dirdjosoemarto ( 1990 : 483 ) dengan rumus yaitu:

Sekor yang diperoleh

Persentase masukan angka =___________________ x 100% Sekor maksimal

Rentang sekor lakukan tiap-tiap kategori dihitung bisa dibuat dengan cara berikut laksana berikut:

90% – 100% Lampau baik

80% – 89% Baik

70% – 79% Cukup

60% – 69% Kurang

<60% Sangat cacat

Berpangkal penjelasan diataslah kita menentukan bagai mana hasil analisis data tersebut. Dan langkah-langkah diatas dapat diterapkan oleg hawa kelas bawah nan akan mengamalkan ataupun membuat analisis data momongan muridnya.

(1)

4. Mengapa saya bukan memberi kesempatan kepada anak asuh untuk bertanya dan menceritakan seluruh kerumunan berusul gambar mata pada indra penglihatan basyar?

3. Siklus II

a. Perencanaan

Sreg putaran ini , notulis masih berpedoman kepada refleksi, karena refleksi masih dijadikan dasar cak bagi menyusun gambar perbaikan pada siklus II ini, disamping menyusun rencana perombakan juga disusun lempengan observasi dan lembaran hasil tes murid.

Padahal materi yang dipelajari adalah menguraikan kedepan tentang struktur oragan penglihatan manusia, dan metode yang digunakan adalah dengan memberikan bimbingan melewati metode pemberian tugas dan resitas. Rangka reformasi disusun lebih baik dari pada siklus I.

b. Tidakan

Pelaksanaan perabaikan pembelajaran pada siklus I ini masih dilaksanakan dikelas saya mengajar, ialah dan periode pelaksanaan tiga musim setelah prasiklus dilaksanakan. Setelah mengkomodasikan dari siklus II privat rajah perbaikan siklus I, saya meneliti sekaligus temperatur kelas IV SDN , melakukan musyawarah kembali dengan pengawas saya.

Sehabis itu, penulis bersiap-siap melaksanakan restorasi siklus II yang topik pendedahan yaitu lanjutan terbit kulah-kulah yang lalu yaitu mandu merawat dan memelihara alat indra ( mata ). Topik yang sebabat karena masih ada 9 orang pesuluh yang belum dapat menjawab pertanyaan. Memahami hubungan antara struktur organ tubuh turunan dengan funsinya serta pemeliharaannya.

Harapan perbaikan iniu terfokus pada 4 hal yaitu:

1. Produktif menkoordinasikan murid plong awal berlatih.

2. Ki berjebah memperalat media gambar nan digunakan bikin kognisi jihat.

3. Berbenda menyebarkan pertanyaan minimal kepada 10 murid. 4. Lega evaluasi murid tuntas intern pembelajaran.

(2)

– Suhu memasang media rangka struktur lima indra bani adam. – Hawa meminta murid menyebutkan satu-persatu apa yang

diperhatikan puas sarana gambar secara bergantian. – Murid diminta duduk secara pasuk.

– Kemudian mencatat ilustrasi berpunca media buram yang dilihat secara berbantahan.

– Hasil sumbang saran ditampilkan didepan kelas. Kegiatan akhir:

– Pada penutup penelaahan, hawa memberi tes terjadwal dan batik soal dipapan tulis dan petatar menjawab cak bertanya dikertas selmbar.

c. Pengamatan

a. Siswa bersemangat dalam menjawab pertanyaan dari 20 murid ada yang tidadk menjawab soal dengan benar.

b. Guru dan siswa menyimpoulkan hasil pembelajaran sewaktu kemudian hasil disimpulkan makanya momongan-anak dibuku karangan dengan pertolongan guru.

Data yang saya bisa bersumber hasil obsevasi lega murid inferior IV disupervisor atau penilai ialah sebagai berikut:

1. Momongan begitu kehidupan ketika guru memajang media gambar yang guru gunakan.

2. Semua soal nan suhu berikan murid bisa menjawab dengan benar, namun ada 2 murid yang pengetahuannya rendah yang enggak dapat menjawab pertanyaan.

3. Ada kerubungan anak-anak yang medium berdebat kompak dan aman.

4. Pelajar lain cak semau yang ambil, bermain-main dalam kelas. Tulisan temperatur atau perekam merupakan sebagai berikut:

– Pesuluh saya semangat, dan boleh menjawab seluruh peretanyaan nan saya berikan kepada pelajar.

(3)

– Seluruh murid doyan mengikuti proses pengajian pengkajian dan tidak ada yang bermain atau meribut didalam kelas.

– Hasil membiasakan meningkat sesuai dengan apa yang kita inginkan.

C. Teknik Analisis Data

1. Data dan Perigi Data
a. Data Pengkajian

Pemerolehan data eksplorasi saya rampas dari hasil proses pembelajaran nan terdapat pada interaksi pelajar kelas IV SDN Sago Kecamatan IV Juarai. Mulai mulai sejak pelaksanaan prasiklus sampai kepadareaksi yang keluih setaelah berlangsungnya siklus I dan II. Ini semua disusun dan ditulis privat catatan guru alias atau yang melakukan studi.

Dada penbelitian ini berupa hasil pengantar, ctatan lapangan dan data hasil belajar dari setiap hasil belajar dari setiap tindakan perbaikan pada setiap tindakan pembaruan pada penerimaan Ilmu Permakluman Alam (IPA ) dengan pendekatan kontekstual lega siswa kelas bawah IV dengan pendekatan kontekstual sperti berikut ini:

1. Catatan tentang pelaksanaan pembelajaran yang berbimbing dengan perilaku master dengan murid, yang membentangi interaksi pembelajaran antara suhu dengan murid, petatar dengan murid, dan murid dengan guru kerumahtanggaan penelaahan IPA diSD.

2. Evaluasi penerimaan Ilmu Amanat Alam (IPA ) baik yang berupa evaluasi proses ataupun evaluasi hasil.

b. Perigi Data

Yang dimaksud dengan sumber data ialah, pecah mana pencatat mendapatkan hasil penyelidikan, atau dimana penelitian dilakukan. Perigi data penelitian adalah proses pembelajaran Aji-aji Proklamasi Alam (IPA ) dengan pendekatan kontekstual dikelas IV SDN ,Kecamatan Kabupaten yang meliputi pelaksanaan pembelajaran dan kegiatan evaluasi serentak proses

(4)

penerimaan Mantra Pengetahuan Umbul-umbul ( IPA ). Data diperoleh berpokok subjekterteliti yakninya master dan pelajar kelas IV kecamatan .

2. Instrument Penelitian

Didalam kamus ilmiah Organ ialah alat atau perlengkapan, jadi yang dimaksud instrument penelitrian ialah alat yang digunakan ketikaka proses penelitian berlanjut. Sedangkan instrrumen nan digunakan pada penyelidikan dan proses perbaikan ini yakni berupa tes penampilan berlatih yang diberikan kepada murid untuk mengukur ketercapaian hasil belajar murid. Serta lembar obsrvasi yang digunakan cak bagi mencamkan bagaimana proses pembelajaran berlangsung.

Yang dimaksu dengan tes disini yaitu pertanyaan alias latihan serta alat lain yang digunakan bakal menimbang keterampilan, Pengetahuan, intelegensi, kemmpuan ataupun pembawaan yang dimiliki serta turunan maupun kelompok. Sedangkan pembuktian prestasi yakni tes yang digunakan untuk pencapaian seseorang setelah mempelajari sesuatu ( Arikunto, 2006 : 150 ) padahal observasi ialah secara bersistem dengan prosedur nan berstandar ( Arikunto, 2006 : 222 )

Cara yang digunakan lakukan memperoleh data yang valid dalam penggalian ini ialah sebagai berikut:

a. Lembar observasi ini digunakan bakal mengamati latar kelas tempat berlangsungnya pembalajaran Aji-aji Pengetahuan Alam ( IPA ), dengan berpijak pada lembar-lungsin observasi yang telah disediakan. Supervisor mengamati segala apa yang telah terjadi internal proses pembelajaran ditandai dengan menerimakan ceklis puas kolom nan terdapat dalam lembar observasi sesuaai denagan pengamatan terhadap proses pembelajaran.

b. Pembuktian, cak bagi mempererat data observasi yang terjadi dalam kelas terutama pada butir penguasaan materi lega penelaahan IPA nan diddapat berpunca murid.

(5)

c. Karangan lapangan, didalam pembuatan catatan lapangan ini pada dasarnya berilmu tentang deskripsi atau berupa gambaran tentang rataan pengamatan terhadap tindakan pekerja dan pesuluh pada musim pembelajaran IPA. Molekul-anasir yang diamati dalam pelaksanaan mengacu lega apa nan termasuk lega butiran-butir pengamatan. Pembutan bentuk refleksi harus berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan oleh guru dan pengamat studi.

Jadi yang selaku instrument terdahulu dalam penyelidikan ialah peneliti sendiri,guru inferior sebagai pengamat penataran di inferior. Penyelidik bak instrument terdepan bertugas mengisai, menilai, merangkum, dan mengemudiankan data yang diperlukan.

3. Amatan Data

Yang dimaksud dengan Kajian Data yaitu upaya nan dilakukan maka dari itu guru nan berlaku misal penyelidik untuk merangkum secara akurat data yang telah dikumpulkan dalam bentuk yang dapat dipercaya dan ter-hormat adanya. Didalam pelaksanaannya dilakukan dengan prinsip sebagaiberikut: mengidas, memilah, mengategorikan data nan suka-suka dan merangkumnya, kemudian menyajikannya dalam bentuk yang mudah dibaca dan dipahami.

Dalam memperoleh data penelitian dianalisis dengan menggunkan paradigma Amatan Data Kualitatif dan Analisis Data Kuantitatif. Analisis data kualitatif yang ditawarkan maka itu Miles dan Huberman ( dalam Kunandar 2008 : 101 ) yakni amatan data dimulai dengan menelaah sejakpengumpulan data sampai seluh data terkumpul.

Pada hasil pembelajaran Ilmu Pengetahuan Liwa dengan menggukan pendekatan kontekstual yang kemudian

(6)

dipresentasekan, keadaan ini berdasarkan model analisis kuantitatif Soendjojo Dirdjosoemarto ( 1990 : 483 ) dengan rumus yaitu:

Sekor yang diperoleh

Persentase perolehan biji =___________________ x 100% Sekor maksimal

Uluran sekor bikin sendirisendiri kategori dihitung bisa dibuat dengan prinsip berikut ibarat berikut:

90% – 100% Sangat baik

80% – 89% Baik

70% – 79% Cukup

60% – 69% Rendah

<60% Lewat tekor

Berpokok penjelasan diataslah kita menentukan bagai mana hasil amatan data tersebut. Dan langkah-langkah diatas bisa diterapkan oleg guru inferior yang akan mengerjakan maupun membuat analisis data anak muridnya.

Source: https://text-id.123dok.com/document/zwv4nm7q-mapel-ipa-proposal-ptk-sd.html

Posted by: likeaudience.com