Aplikasi Teori Belajar Kognitif Dalam Pembelajaran Ipa


Teori Belajar Bruner dalam Pembelajaran IPA SD - www.gurnulis.id

Bahasan mengenai teori belajar Bruner intern penataran IPA SD yang menghasilkan model pembelajaran penemuan ataupun discovery learning


Halo sahabat Gurnulis, sahabat masih bersama notulis di sini ya. Masih ingatkah dengan tulisan pencatat yang berjudul “Teori Belajar Piaget dalam Pembelajaran IPA SD“? Ya, pada catatan tersebut penulis telah mencela seluk-beluk pengajian pengkajian IPA di Sekolah Dasar yang sesuai dengan teori berlatih Piaget.
Nah, pada tulisan ini, penulis masih tetap membahas teori belajar para pandai nan tercalit dengan penataran IPA dan masih tetap berfokus di Sekolah Dasar. Tulisan lain yang berkaitan dengan teori belajar adalah sebagai berikut.

  • teori belajar Bruner intern Pembelajaran Matematika;
  • teori belajar Dienes dalam Pendedahan Matematika;
  • teori belajar Van Hiele dalam Pembelajaran Matematika;
  • teori belajar Brownell dalam Penataran Matematika;
  • teori belajar Van Engen dalam Pembelajaran Matematika;
  • teori belajar Gagne dalam Pembelajaran Matematika;
  • teori sparing Ausubel dalam Penerimaan IPA
    .

Tulisan-goresan tersebut dapat dijadikan referensi kita privat menyelenggarakan pembelajaran. Bruner yang terkenal dengan teori belajarnya sreg Matematika, terkenal lagi dalam penataran IPA di Sekolah Sumber akar. Berikut penjelasannya.

Sosok Bruner

Bruner terlahir puas perian 1951. Beliau yakni riuk satu ahli psikologi perkembangan dan ahli psikologi pembelajaran serebral.


Teori Belajar Bruner dalam Pembelajaran IPA SD - www.gurnulis.id



Bruner n kepunyaan teori belajar nan beranggapan bahwa belajar adalah sebuah kegiatan penggodokan laporan yang meliputi pembentukan kategori-kategori. Di antara kategori-kategori tersebut cak semau probabilitas ganti berhubungan nan disebut dengan koding. Teori sparing Bruner ini kemudian dikenal andai teori berlatih penemuan.

Proses Belajar dalam Teori Bruner

N domestik teori berlatih Bruner, suatu konsep yakni suatu kategori. Ini boleh diterapkan dalam pembelajaran IPA Sekolah Asal. Kategori ialah perwakilan benda atau keadaan yang mempunyai paralelisme. Misal contohnya adalah konsep kontol. Burung didefinisikan andai satu kategori yang mewakili binatang yang mempunyai rambut, sayap, dua suku, dan paruh. Dengan padangan ini, kategori bisa kembali dipandang sebagai ganjaran atau hukum.

Kategori ialah kebiasaan penggolongan benda-benda maupun keadaan yang sama alias ekuivalen. Sekiranya dua buah incaran dimasukkan ke dalam kategori yang setinggi, maka implikasinya kedua korban tersebut itu sama, setidaknya jika dipandang dari beberapa segi terletak kesamaan.

Menurut Bruner, suatu kategori harus punya spesifikasi karakteristik sebagai berikut.

  • merupakan atribut yang harus dimiliki maka itu suatu objek;
  • merupakan cara penentuan atribut-atribut nan suka-suka alias penggabungan;
  • merupakan pentingnya polah atribut: cak semau yang sendiri ataupun asosiasi bersumber atribut,
  • ialah tenggat untuk penerimaan nilai (value) berpunca atribut tersebut.

Biji adalah keragaman yang ada pada suatu atribut. Misalnya rona merah mempunyai skor dari merah taruna hingga ahmar gaek.

Lebih lanjut, Bruner dalam teori belajarnya menyerahkan teladan penerapan dari karakteristik kategori tersebut. Contohnya adalah misal berikut.

  • Fauna dikatakan serangga apabila enggak memiliki tulang belakang, memiliki sayap, memiliki tiga pasang kaki, dan posisi kepalanya terpisah berusul badannya.
  • Kepala harus terwalak di depan fisik, keenam kaki dan sayap terbit fauna tersebut ada puas jasmani.
  • Sato dianggap ibarat serangga dapat memiliki suatu pasang sayap atau dua pasang sayap.
  • Untuk bisa dikatakan sayap, benda tersebut harus n kepunyaan karakteristik utuh.

Apa aktivitas keseharian yang meliputi persepsi, konseptualisasi, dan pengambilan keputusan, semuanya boleh dijelaskan pecah sudut pandang pembentukan dan penggunaan kategori menurut teori belajar Bruner. Dalam IPA, keadaan ini suntuk terdepan bagi proses pembelajaran dan interaksi antara turunan dengan mileu. Contohnya begini, apabila individu menemukan hamba allah yang bergerak maka ia akan segera berpikir bahwa benda nan dilihatya bukanlah tumbuhan, melainkan hewan. Anda berpikir dalam-dalam demikian karena atribut mengalir hanya dimiliki oleh hewan, tidak dengan pokok kayu. Setelah itu pemikirannya makin meningkat pula, setelah dilihatnya bahwa satwa tersebut mempunyai empat kaki. Ia sekali lagi kemudian berpikir bahwa hewan tersebut tentu bukanlah ikan maupun zakar karena baik ikan atau burung tidak mempunyai kaki nan berjumlah empat. Fauna nan mempunyai empat kaki adalah kerubungan reptil alias binatang menyusui, demikian dan seterusnya. Prinsip begitu juga ini berlaku lagi untuk semua objek dan situasi yang dijumpai oleh insan.

Kerumahtanggaan teori membiasakan Bruner, pengkategorian objek ini memiliki beberapa keuntungan. Keuntungan tersebut sebagai berikut.

  • Dapat mengurangi kekusutan dari benda atau keadaan yang suka-suka di sekitar individu. Adanya penggolongan memungkinkan bani adam untuk mengenali bulan-bulanan dengan benar.
  • Kategorisasi bisa mengurangi keharusan individu bagi selalu berlatih.
  • Pengelompokan menerimakan arahan dan harapan terhadap aktivitas individu serta memberikan kesempatan kepada bani adam kerjakan mengaduh objek dengan kelas bawah dari kejadian bendera. Keterberhubungan antara suatu kategori dengan kategori yang tak dapat membentuk kelas yang lebih besar.

Bruner dipandang sebagai ahli psikologi nan berhasil menerapkan prinsip-prinsip belajar
Piaget. Eisler pada tahun 1993 yang mengatakan demikian. Teori membiasakan Bruner tentang mandu seorang anak asuh memperoleh dan memproses pengumuman baru dianggap sejajar dengan teori belajar Piaget. Anak dikemukakan tumbuh pada tahapan-tahapan yang berlainan dan penentuan tahapan ini didasarkan plong performa mental anak. Namun meski demikian, tidak seperti nan dikemukakan oleh Piaget, pembagian tahapan oleh Bruner bukanlah merupakan suatu hal nan kaku. Pembagian tahapan yang dilakukan makanya Bruner bersifat elastis dan tidak dimaksudkan untuk menentukan kesiapan anak asuh untuk belajar. Bruner beranggapan bahwa semenjak kecil, secara intuitif individu telah n kepunyaan kemampuan dalam menyirat konsep-konsep IPA.

Bruner mengembangankan sebuah paradigma pebelajaran penemuan maupun
dicovery learning. Menurut Bruner intern teori belajarnya, model pembelajaran penemuan selaras dengan hakikat manusia yang memiliki sifat rajin mau mencari hobatan pengetahuan secara aktif dan memecahkan masalah. Puas akhirnya individu akan mendapatkan pengetahuan yang berguna.

Paradigma pembelajaran penemuan ini plong prinsipnya memberikan kesempatan kepada petatar didik untuk memperoleh mualamat koteng dengan pertolongan suhu. Pendedahan biasanya dilangsungkan dengan menggunakan benda positif. Peranan suhu dalam pembelajaran ini bukanlah sebagai pemberi pengetahuan, melainkan seumpama penuntun cak bagi mendapatkan manifesto. Hawa diharuskan memiliki ketatanegaraan nan baik buat tidak secara langsung memberikan informasi yang dibutuhkan oleh peserta didiknya.

Model pembelajaran rakitan nan diusung dalam teori belajar Bruner ini memiliki beberapa kelebihan. Kelebihannya adalah misal berikut.

  • Kabar nan diperoleh murid pelihara akan bertahan lama, akan menetap lama privat ingatan, dan akan bertambah mudah bagi diingat dibanding dengan cara-prinsip belajar yang lainnya. Istilah tersohor untuk manfaat ini merupakan “jika saya berbuat, maka saya akan memafhumi dan mengingat”.
  • Akan meningkatkan kemampuan berlogika peserta pelihara. Kemampuan pelajar didik cak bagi berpikir secara independen akan berkembang pesat.
  • Menumbuhkan kebiasaan peserta didik bagi belajar secara mandiri.
  • Bisa mengubah ki dorongan membiasakan dari luar yang kasatmata cemeti eksternal menjadi kepuasan batin yang berup motivasi terbit dalam diri.
  • Membekali peserta ajar cak bagi belajar dengan prosedur yang praktis dalam memecahkan masalah.

Di samping mempunyai kemujaraban, model pembelajaran penemuan (discovery learning) ini memiliki kesuntukan. Kekurangannya adalah ini guru bisa saja terganggu dengan kebisingan dan keributan yang ketimbul dari aktivitas berlatih murid siswa jaga.

Penerapan Teori Membiasakan Bruner dalam Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar


Dalam pembelajar IPA di Sekolah Radiks, Bruner menyumbangkan model penerimaan penemuan atau
discovery learning. Bruner memberikan tiga ciri penting sempurna penataran penemuan ini andai berikut.

  • Adanya keterlibatan peserta didik dalam proses membiasakan.
  • Hawa berperan andai seorang penunjuk atau
    guide
    dan pembesar bakal siswanya yang mencari proklamasi. Makara suhu bukan laksana penyampai takrif.
  • Proses penelaahan dilangsungkan dengan benda-benda berwujud.

Menurut teori belajar Bruner, ada dua macam model pendedahan kreasi, yaitu cermin  pembelajaran rakitan murni dan model pembelajaran kreasi terarah.


Teori Belajar Bruner dalam Pembelajaran IPA SD - www.gurnulis.id


Komplet penataran reka cipta ikhlas merupakan model penerimaan invensi yang dilakukan tanpa adanya visiun ataupun arahan. Contohnya serupa ini, siswa didik diberikan beberapa benda seperti kabel elektrik, bohlam maupun bola lampu, dan bilang baterai. Peserta didik diberikan tahun yang cukup untuk main-main dan mencoba-coba dengan benda-benda tersebut. Guru tak menerimakan petunjuk apapun tentang apa yang harus dilakukan maka itu murid bimbing terhadap benda-benda tersebut. Suhu hanya memasrahkan ramalan tentang keselamatan dan pelestarian benda-benda nan dipakai. Di sini bikin suka-suka sejumlah kemungkinan aktivitas pesuluh didik, yaitu suka-suka peserta bimbing terserah yang mengepas-coba menyalakan bola lampu, mugkin cak semau kembali nan membuat seri (menghubungkan) aki yang ada, dan lain sebagainya. Kerumahtanggaan transendental pembelajaran penemuan murni ini setiap petatar pelihara akan melipat dan belajar sesuai dengan kelajuan masing-masing.

Model penelaahan penemuan melekat dilakukan dengan mengacungkan aktivitas pelajar tuntun. Guru lebih banyak bermain dibanding dengan pembelajaran penemuan murni. Di sini memungkinkan suhu mendambakan seluruh siswa mengamalkan kegiatan yang selaras maupun hampir setimbang. Seumpama contohnya, dengan benda-benda yang sama (telegram listrik, baterai, dan bohlam), master mengarahkan peserta jaga dengan memberikan cak bertanya-pertanyaan seperti berikut.

  • Dapatkah kita menyalakan lebih dari suatu lampu busur?
  • Bagaimanakah sekiranya kita menyusun makin dari satu baterai?

Nan wajib digarisbawahi dalam model pembelajaran kreasi tertuju ini adalah banyaknya bantuan dan pimpinan nan diberikan suhu kepada peserta didik tidak mewatasi kebebasan mereka dalam melakukan penemuannya sendiri. Hal tersebut hanya ditentukan oleh pamrih pembelajaran dan alokasi waktu yang tersuguh.

Sebagai halnya yang sudah panitera paparkan di atas, kamil pengajian pengkajian penemuan ini berpotensi menimbulkan kebisingan di inferior. Kerjakan mengatasinya, boleh dilakukan hal-hal berikut.

  • Peserta bimbing di privat kelas dibagi menjadi sejumlah kerubungan, masing-masing
    kelompok terdiri dari empat sampai heksa- siswa.
  • Setiap anggota anggota kelompok diberikan tugas. Tunjuk seorang anak ibarat
    majikan yang bertanggung jawab terhadap partisipasi anggota kelompoknya, juru tulis nan bertanggung jawab untuk mencatat seluruh prosedur dan hasil penemuannya, pengasuh mangsa yang bertanggung jawab menjeput dan mengembalikan bahan yang digunakan, manipulator nan bertanggung jawab menjantur percobaan alias kegiatan, dan jika memungkinkan sendiri penderita jawab keselamatan dan pengontrol, yang memonitor semua prosedur dan penanganan benda-benda yang dipakai.
  • Master menggunjingkan secara klasikal terlebih lampau muatan jawab masing-masing petugas di dalam kelompoknya.
  • Petatar pelihara diberikan kesempatan untuk mengembangkan aturan-aturan nan akan digunakan buat seluruh kelas ataupun di dalam kelompoknya
  • Pelajar didik diberikan bimbingan mengenai aktivitas yang akan dilakukan sebelum benda-benda yang akan dipakai dibagikan kepada pesuluh.
  • Hanya pengampu bahan yang diperbolehkan untuk menjeput  dan mengembalikan sasaran yang dipakai.
  • Temperatur keliling ke setiap kelompok secara bergantian untuk  menerimakan uluran tangan yang diperlukan.
  • Jika suhu ingin memindahkan siswa didik dari dan ke suatu keramaian, semoga dilakukanlah sedikit berangsur-angsur rendah. Peristiwa ini bertujuan bakal mengurangi kebisingan dan
    keributan.

Contoh Pembelajaran IPA di Sekolah Pangkal yang Berdasarkan Teori Belajar Bruner

Penulis berikan pola pendedahan IPA di kelas tiga alias inferior empat Sekolah Dasar yang sesuai dengan teori belajar Bruner.

Lega petatar jaga kelas bawah tiga Sekolah Dasar misalnya pembelajaran ditujukan untuk mengidentifikasi bagian-bagian tanaman dan mampu mengelompokkannya berdasarkan ciri-ciri dan kegunaannya melewati pengamatan dan penafsiran. Topiknya ialah tumbuhan yang mempunyai putaran-bagian tertentu. Cara pelaksanaan pembelajarannya adalah sebabagai berikut.

  • Ambillah satu tanaman yang lengkap, terdiri dari akar, mayat, daun,  dan bunga.
  • Berilah kesempatan kepada peserta didik untuk mengamati dan kemudian diberi pertanyaan sebagai berikut: “Menurut kalian, bagaimana akar tunggang dapat berfungsi bagi tumbuhan?”.
  • Nah seluruh ide atau tanggapan pesuluh didik. Berilah kesempatan kepada pelajar didik untuk mengajukan dan menguji idenya sendiri.
  • Berilah pertanyaan nan bukan untuk menanyakan bagian tumbuhan yang lainnya.

Pada murid asuh kelas bawah catur Sekolah Dasar misalnya penelaahan ditujukan bakal mengerti persaudaraan, kebiasaan dan kegunaan udara dengan melakukan percobaan dan menafsirkan wara-wara. Topiknya ialah udara nan diperlukan lakukan pembakaran. Alat dan bahan nan diperlukan yaitu kaca boncel, beling ki akbar, stoples yang berdosis sedikit bertambah 2 liter, lilin sumir sebanya 3 buah, dan gores api.


Teori Belajar Bruner dalam Pembelajaran IPA SD - www.gurnulis.id



Cara pelaksanannya adalah sebagai berikut.

  • Sebelum memperbolehkan siswa lakukan mengamalkan percobaan, berilah pertanyaan sama dengan: (a) Segala apa yang akan terjadi apabila lilin nan menyala ditutup dengan gelas?; (b) Bagaimana kemungkinan yang akan terjadi apabila tiga lilin  nan menyala ditutup dengan pengunci yang farik besarnya?.
  • Berilah kesempatan kepada siswa cak bagi mencadangkan idenya  sebagai dugaan sementaranya dan kemudian mengujinya melalui percobaan. Selepas radu melakukan percobaan, berilah pertanyaan sebagai halnya: (a) Apakah hasil percobaan sesuai dengan perkiraan semula?; (b) Mengapa diperlukan waktu yang bersamaan saat menutup ketiga lilin?.

Demikianlah ulasan mengenai teori belajar Bruner privat pembelajaran IPA di Sekolah Dasar ya sahabat pendidik. Seharusnya menginspirasi.

Salam literasi guru
ndeso.

Source: https://www.gurnulis.id/2021/05/teori-belajar-bruner-ipa-sd.html

Posted by: likeaudience.com