Putu Wijaya
putuwijaya.wordpress.com

Bagaimana sebaiknya mengajarkan sastra? Itu bukan pertanyaan permulaan nan harus dijawab oleh koteng guru sastra. Karena purwa nan harus dijawabnya adalah: apakah sastra itu? Kemudian, menyusul pertanyaan: segala yang dimaksudkan dengan mengajarkan? Dapatkah sastra diajarkan? Suntuk kelihatannya cuma yang hendak dibelajarkannya lega sastra.

Mungkin setelah itu seorang guru sastra mendapatkan beberapa pegangan untuk kerjakan menjawab, walau sekali lagi tidak sungguh-sungguh tuntas mengenai: bagaimana mengajarkan pelajaran sastra. Tetapi tentatif itu, pertanyaan tak sudah buru-buru hendak mengejar. Sebuah pertanyaan yang sesungguhnya suka-suka di luar sastra. Apa, siapa dan bagaimana sebenarnya apa nan disebut “suhu” itu. Apakah itu sebuah lembaga atau orang?

Sastra menurut etimologinya adalah tulisan. Sedangkan kesusastraan adalah segala tulisan nan indah. Ini menimbulkan pertanyaan, apakah nan tak indah tidak termasuk sastra. Apa batas/syarat keanggunan itu. Bagaimana jikalau suka-suka sebuah karya yang kadang-kadang enggak mulia, hanya mengandung ekspresi yang sangat penting, sehingga menuntun imajinasi mengembara ke sesuatu yang tidak, yang mengantarkan ke lega makna-makna yang mendasar, sehingga menciptakan haru? Barang apa itu pun keanggunan? Kalau begitu keayuan itu bisa lain indah?

Adv amat bagaimana dengan sastra verbal nan menjadi salah satu kekuatan di kerumahtanggaan tradisi kita, apa itu enggak sastra hanya karena lain tertulis? Sebuah sastra verbal Bali nan dikenal dengan nama Men Kelodang (Bu Kelodang), misalnya, (atau terimalah sastra verbal yang mana pun) transkripsinya bila dibaca akan terasa patah dan tak sani.

Tetapi bila dibunyikan, silam mulut sendiri nenek bagi didengarkan oleh cucunya yang medium tumbuh, ia menjadi sebuah astrologi yang mengandung berbagai aspek. Di situ ada pendidikan budi pekerti yang diam-bungkam menjadi khazanah batin calon penerus generasi itu di kala nanti. Sastra lisan adalah sebuah lab, sebuah kepustakaan yang substansial bunyi yang adv amat raksasa artinya sreg leluri Timur nan menempatkan pembelajaran sebagai proses yang non formal yang disebut magang atau nyantrik..

Sastra n domestik kesadaran saya, merupakan segala bentuk ekspresi dengan memakai bahasa misal basisnya. Dengan mewujudkan tanah yang begitu dempak dan mahajana, maka kita seperti menjaring ikan dengan pukat maung. Tak tetapi barang apa yang tertulis, segala yang tidak tertulis sekali lagi dapat masuk dalam sastra. Lain tetapi yang su (luhur), coretan-catatan, tembusan-surat, renungan, berita-berita, lebih lagi kisah dan puisi, anekdot, graffiti, bahkan pidato, puji-pujian dan pernyataan-pernyataan, apabila semuanya mengandung ekspresi, itu adalah sastra.

Dengan memandang sastra dengan kaca mata gempal seperti itu, cak cakupan sastra mendadak membludak menyentuh barang apa sektor umur. Tidak ada satu sudut kehidupan pun yang tidak mempergunakan bahasa misal alat komunikasinya. Segala hal kena gigit oleh sastra. Teknologi dan jual beli pun lain berkecukupan bebas dari sastra.

Dengan kata bukan, tak cak semau bidang yang tak tercalit dengan sastra. Kesudahannya, bila sastra mendadak menjadi sesuatu nan terisolir dalam roh, pasti ada sesuatu yang mutakadim sesat . Termasuk kesesatan intern mengajarkan sastra itu sendiri.

Bila di masa terlampau, les sastra hanya dikunyah oleh anak-anak asuh putaran A (budaya) di SMA, lebih lagi kemudian nyaris dibuang, karena jam pelajarannya dikanibal maka dari itu pelajaran pengelolaan bahasa, maka sepatutnya ada mutakadim terjadi kesalahan besar. Sastra harus dibelajarkan kepada semua jurusan, karena tanpa menguasai sastra, tata bahasa hanya akan menjadi perlengkapan menyambung ingatan/akal sehat dan bukan menyambung rasa. Dan minus kehidupan rasa, semua cabang ilmu pengetahuan enggak hanya gersang, ki boyak, lain manusiawi, tetapi kembali bukan maju.

Dengan memandang sastra seperti itu, tak ada yang tidak dikerjakan oleh sastra. Sastra sendiri sebaliknya juga tidak hanya tertuju pada dirinya koteng. Sastra tak terkunci lega kegagahan, kecantikan dan garitan tok. Sastra tak tetapi rancap kata-kata, tetapi idiom idiom bahasa, yang menjadi kanal-kanal ekspresi ke segala bidang, baik seni-budaya, teknologi, ekonomi alias masalah-masalah sosial-ketatanegaraan, pendidikan, pemerintahan bahkan sekali lagi agama.

Lain heran, jikalau di berbagai kampus yang sudah mapan, pembelajaran sastra, dikaitkan dengan sejarah dan politik. Karya-karya sastra tidak lagi hanya berhenti laksana bacaan pelipur lara, doang juga menjadi tindasan sosial-politik terhadap kurun musim di saat pengarangnya hidup. Terbit sebuah cerpen, misalnya, seorang professor pengamat politik di Universitas Cornell, Ithaca, Amerika Maskapai, membincangkan masalah G-30-S.

Suhu sastra bertugas bagi membuka semua angkup-angkup-katup sastra. Dengan keikhlasan seorang suhu permainan kata-kata itu tidak mampus sebagai teka-teki, sahaja memberikan inspirasi yang membuat sastra berdaya. Sastra akan memotivasi bahkan menstimulasi manusia bikin kambuh, bekerja, berjuang dan mencapai targetnya. Guru sastra yaitu seoprang jubir, koteng PR, seorang menejer, seorang agen dan sendiri penafsir. Walhasil seorang “:pemain” aktip, bukan saja calo tambahan pula

Pada prakteknya, seorang suhu di masa habis, adalah seorang “penghajar”. Ia mempunyai posisi lebih tahu, lebih cerdik, lebih pintar dan kian berkuasa . Untuk mengoper ilmu yang dikuasainya (sedangkan sering mantra nan sudah jatuh tempo), anda tak segan-canggung melakukan kekerasan dengan sampingan desiplin. Suasana kelas lebih merupakan atraksi monolog dan indoktrinasi sonder boleh ada yang membantah. Nan terjadi enggak proses penerimaan tetapi penderaan. Murid-murid disiksa untuk menelan, menghapal, apa yang dimuntahkan maka dari itu suhu. Berpendapat lain dapat dicap kurangajar.

Hasil pembelajaran begitu juga itu memang tak menyergap anak-anak yang jenius bagi bertunas terus dan melejit bersendikan kodratnya. Hanya secara umum, posisi master yang menghajar itu mutakadim menyelewengkan makna pembelajaran menjadi pelajaran mengembik. Peserta-petatar hapal merek-nama, tahun dan jumlah, tetapi enggak berharta memaknakan barang apa hakekat berbunga semua pemberitahuan yang diterimanya.

Pesuluh yang terasuh bertahun-tahun bukannya menjadi luas wawasannya dan kaya gagasannya, tetapi malah menjadi berkepala keras dan lega gilirannya, mentoladan jejak gurunya, menjadi otoriter.

Mengajar adalah mengantar, membimbing, meluaskan potensi anak-anak didik dengan plural pengetahuan yang harus terus dikembangkan dan diikuti perkembangannya. Kursus bukanlah tujuan, semata-mata alat cak bagi mengantar mereka yang diajar agar sampai kepada hakekat dari makna-makna berbagai situasi di dalam hidup yang terus bergerak, berkembang, bertumbuh sampai-sampai bisa jadi berubah.

Kadangkala sendiri guru bisa lebih bodoh berpunca muridnya, doang beliau tetap koteng guru. Engkau menjadi temperatur bukan karena lebih kebal, tetapi karena berkapasitas bikin mengembangkan potensi momongan didiknya berlandaskan kemampuan masing-masing. Mengajar dengan demikian bukanlah mengindoktrinasi, atau menyulap hamba allah beloh menjadi sakti. Guru bukan seorang dukun, bukan kembali ahli sihir dan bukan seorang tiran.

Master yakni koteng teman yang membimbing yang membagi informasi secara periodik dan sistimatik, sesuai dengan tingkat kemampuan anak asuh didiknya. Sehingga apabila ia menghadapi peserta nan sangat ampuh, yang lebih pintar mulai sejak dirinya, ia tidak wajib merasa terancam akan dipecat. Sekali koteng menjadi guru, ia setia saja guru, karena itu sebuah fungsi yang tetap diperlukan maka itu orang yang pintar sekali pun, karena “guru” lah yang menemani muridnya untuk meluaskan kepintarannya.

Mengajar lebih berkiblat sebagai menemani secara aktip, anak-anak jaga intern memunggut embaran dari beraneka ragam sosi. Mengajar lebih invalid adalah menjadi seorang pandai kebun dengan berbagai bibit pohon yang mempunyai watak berbeda-beda, di privat sepetak tanah nan ekuivalen.

Kesibukan rutinnya yakni merawat dan mengembangkan. Bagaimana membagi ingatan, bagaimana menyiasati seyogiannya tanaman-pohon itu berkembang, di tanah yang adanya memang serupa itu, adalah tanggungjawab guru.

Mengajar adakalanya bukan menghajar, biarpun sekali tempo diperlukan hajaran. Mengajar yaitu mempengaruhi kalau teradat “menipu” anak tuntun untuk mencintai dan mengaram kegunaan dari segala yang dibelajarkan. Mengajar berarti membuat siasat. Seorang guru harus belajar bersiasat, tanpa berdiplomasi, pembelajaran akan kembali menjadi penghajaran.

Seorang master harus boleh membuktikan bahwa apa yang diajarkannya berarti. Minus melihat kemanfaatan berusul segala yang dipelajari, tanpa menyadari kaitannya dengan realita, maka latihan ki ajek akan kembali sebagai “penghajaran” nan menciptakan menjadikan mereka yang membiasakan merasa didera/dihukum.

Mengajar bukan menyulap seorang anak yang pilon menjadi pintar, bukan mendadani siswa dengan asesoris ijazah/gelar, tetapi mencoba membuktikan bahwa bahwa anak yang bodoh itu sebenarnya sudah lalu keliru, karena ia lupa bahwa dirinya berilmu. Enggak terserah yang bisa diajarkan kepada manusia lain, sampai-sampai sastra.

Sastra tak boleh dan tak perlu diajarkan. Yang bisa dilakukan oleh seorang temperatur sastra intern mengajar yakni mengajak anak didiknya untuk mematamatai kemanfaatan sastra. Memposisikan sastra sedemikian rupa pada tempatnya yang tepat sehingga jelas kaitannya, relevansinya dengan atma dan proses pembelajaran. Dengan enggak pembukaan, koteng guru sastra berdiri di depan kelas di aribaan pelajar-muridnya, sebagai seorang ajuster di dalam sebuah peristiwa perbicaraan, untuk membuktikan, lakukan menunjukkan, bahwa sastra yakni ilmu.

Segala gunanya sastra. Mengapa sastra tercalit dengan nasib setiap insan? Itulah nan harus dijawab oleh setiap guru sastra meski pebelajarannya tidak menjadi penghajaran.

Suka-suka banyak metode mengajar. Semua metode bagus, tetapi tidak semua yang bagus sepakat dengan boleh jadi yang mengajar dan siapa yang diajar. Sementara itu, mungkin yang mengajar tidak harus lebih terdahulu berpokok siapa yang akan diajar.

Bukan pengetahuan instruktur atau apa yang cocok dengan penatar yang penting, tetapi apa yang akan menjadi wara-wara yang diajar dan bagaimana membuat nan diajar jadi berpengetahuan, itulah yang menjadi privilese dan agenda mutlak. Seorang suhu sastra memiliki garis haluan masing-masing sesuai dengan panggung dan kondisi orang-sosok yang diajarnya.

Tuntunan sastra tak terdepan diajarkan maka dari itu siapa, tapi mungkin yang diajar, itu sangat menentukan. Di tahun suntuk hal ini diabaikan. Kurikulum yang cak hendak mensistimatiskan pendidikan, mecoba melihat pembelajaran sebagai membangun rumah. Desainnya yang bahkan dahulu dirancang. Kemudian dirinci pelaksanaannya sesuai dengan perian dan biaya. Lalu alhasil ditargetkan. Tapi barang apa nan terjadi?

Nan muncul adalah satu birokrasi yang rapih. Apartemen sekali lagi makara, nampak indah, tepat waktu, sesuai dengan kerangka dan tak ada pembengkakan biaya. Itu sem ua memang setuju bikin merumuskan pengetahuan, sebab ada bagan, suka-suka hasil, sehingga jelas berlebih dan tekor prosesnya dalam setiap tahun. Persis seperti sebuah pembukuan uang.

Tetapi apa lucah, flat nan dibangun itu, hasil penataran sastra itu, ketika dihuni, ketika diujicoba hasilnya, nan tinggal tetapi dendam, rasa benci dan muak, karena cuma menjadi kenang-kenangan bagi mereka yang sudah dihajar, terhadap tindak kekerasan. Rumah itu bukan dipersiapkan lakukan ditinggali tetapi dilihat seumpama maket dal;am sebuah pameran. Pelajaran sastra sekadar menjadi pelajaran tidak terbiasa nan campakkan-buang musim dan membuat orang benci pada sastra.

Pembelajaran sastra sudah menghasilkan semacam Apartemen Terlampau Sederhana nan cocok bakal etalase deklarasi administrative, bahwa sudah dilaksanakan pembangunan. Cuma kalau ditanyakan kepada para penghuninya, tidak seorang pun yang bisa semangat tenang di intern penjara yang mirip boks-kotak ceceh perempuan itu. Farik dengan rumah-rumah palsu nan lain terencana di tepi sungai atau selama ril kereta jago merah di stasiun.

Walau bentuknya tak karuan, hanya apartemen-flat itu bermoral-bermoral menjadi sarang untuk pengghuninya. Bentuk dan keindahannya tak direncanakan, belaka tercipta beralaskan kebutuhan penghuninya, sehingga sejadi dan akrab. Rumah semacam itulah yang makin diperlukan kerumahtanggaan proses pembelajaran sastra.

Mengajarkan sastra enggak boleh dimulai dengan sastra itu sendiri, sekadar siapa yang akan mempelajarinya. Mileu, latar belakang dan kebutuhan mereka yang hendak diberikan pelajaran sastra, tidak dapat kalah berharga dari suara karya-karya itu. Tak seperti tutorial ki kenangan, sastra bukanlah masa lalu, karenanya harus mulai pecah propaganda-aksi nan nyata.

Kerucut sistim pembelajaran yang mengajak guru memulai latihan sastra seperti pelajaran album sastra, sehingga harus start dengan menghapal apa itu pantun, gurindam, soneta dan seloka, perlu dibalik total. Pelajaran sastra harus hidup, dimulai dengan apa yang kasatmata di sekitar dalam lingkungan mereka yang diajar.

Puisi-sajak sebaran Rendra, lagu-lagu Bimbo yang liriknya ditulis makanya Taufiq Ismail, misalnya, sejauh ini tak kontak sempat diajarkan di dalam pelajaran sastra, karena adanya diujung kerucut. Bahkan guru-master sastra pun banyak yang tidak senggang. Pelajaran sastra harus dimulai digenjot berpokok musim saat ini, karena sastra bukan hanya mimpi, bukan narasi masa lepas..

Sebuah sajak, novel, lakon, cerpen, esei dan sebagainya namun alat untuk menyampaikan/mengekspresikan gagasan dari penulisnya/pengarangnya. Di miring cerita, di dalam kata-perkenalan awal ada rembukan dan kesaksian. Itulah yang harus ditontonkan kepada mereka yang membiasakan sastra. Mengaji karya sastra seperti menggali makdan mengeruk, memburu makna-makna nan bersembunyi di balik kata-kata.

Sajak “Aku” yang ditulis maka itu Chairil Anwar, setiap kali dibaca pun, seperti sebuah sajak yang baru, karena ia mengandung makna nan sebagaimana tumbuh. Kata-kata memang sesuatu nan mati, tetapi maknanya berkembang, mengajuk interptretasi dari pembaca. Karya sastra tak membungkam pembaca, tetapi justru menawarkan diri agar pembaca dapat melebarkan interpretasinya. Sastra menggiatkan atma pikir dan imajinasi pembaca. Permainan itulah yang akan membuat sastra menjadi semacam permainan yang seharusnya menarik dan asyik karena akrab tanpa batas.

Sebuah lakon bernama “Menunggu Godot” karya Samuel Beckett, merupakan sumbangan nan monumental terhadap kehidupan. Sebagaimana Thomas Alfa Edison yang menemukan listrik, atau Einstein yang menyumbangkan teori kwantum, Beckett menyirat suatu makna raksasa dari kehidupan bahwa plong hakekatnya insan, semua manusia harus menunggu. Dengan memaklumi kesaksian Beckett tersebut, wawasan tentang kehidupan bertambah dan semakin jelas bahwa sastra bukan hanya hiburan, tetapi guna-guna.

Sebuah novel berjudul “Uncle Tom’s Cabin” karya Beecher Stowe yang membualkan penderitaan budak-budak kulit hitam di Amerika mutakadim mengobarkan rasa kemanusiaan orang Amerika. Buku tersebut dianggap salah satu pengambil inisiatif berbunga perang saudara di Amerika yanbg kemudian membawa kesetaraan perlakuan terhadap selerang hitam di negara nan sekarang mengakju menjadi pelopor kerakyatan itu.

Kita membutuhkan temperatur-guru pelajaran sastra yang memahami apa sastra dan bagaimana mengajarkan sastra kepada momongan didiknya. Lakukan itu, seperti juga latihan jasmani, diperlukan pendidikan tunggal.

Tapi itu mungkin sahaja sebuah mimpi, kecuali kalau tuntunan sastra diberikan posisi yang setimpal dengan tutorial nahu, setidak-tidaknya proposional. Lebih lanjut, kerucut kurikulum sebaiknya dibalik agar konteks kekiniannya keluar. Pengajian pengkajian sastra tidak lagi dimulai semenjak Abdullah Bin Abdul Kadir Linguis, tetapi dari — misalnya – Sutardji alias …….. .

***