Apa Ciri Khas Belajar Dalam Sains Ipa


Kelincahan PROSES SAINS DAN IMPLEMENTASINYA Dalam Pembelajaran SAINS TINGKAT SEKOLAH DASAR


Oleh :


Sri Hendrawati, S.Pd, M.Pd


PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG



Pada hakikatnya IPA dapat dipandang dari segi barang, proses dan bermula segi pengembangan sikap. Artinya, belajar IPA memiliki matra proses, dimensi hasil (produk) dan format pengembangan sikap ilmiah. Ketiga dimensi tersebut bersifat saling terkait. Hal ini berjasa bahwa proses belajar mengajar IPA seyogiannya mengandung ketiga matra tersebut.



IPA dipandang seumpama salah satu mata pelajaran yang dianggap utama dalam dunia pendidikan, hal ini diibuktikan dengan diberlakukannya IPA perumpamaan mata kursus wajib di sekolah dengan total porsi jam pelajaran yang cukup banyak dibandingkan pelajaran lainnya. Sahaja, silam disayangkan bahwa pada kenyataannya kegiatan pembelajaran IPA di persekolahan seringkali tak satu bahasa dengan hakikat IPA yang sebenarnya. Pengajian pengkajian IPA di persekolahan menetes beratkan puas penguasaan konsep semata dengan target agar mendapatkan rata-rata ponten UASBN untuk SD atau nilai UAN untuk SMP dan SMU yang baik. Hal ini menyebabkan pembelajaran IPA di sekolah menjadi monoton, penelaahan IPA berubah menjadi pembelajaran sastra IPA dimana siswa dijejali maka dari itu hapalan konsep-konsep yang miskin asam garam dan pembentukan sikap ilmiah yang sesungguhnya terlampau dibutuhkan siswa dalam kehidupannya. P

endekatan dalam pembelajaran masih terlalu didominasi peran guru
(teacher centered).
Guru lebih banyak menempatkan peserta didik bagaikan objek dan bukan sebagai subjek bimbing. Pendidikan kita kurang memberikan kesempatan kepada pelajar didik bagi mengembangkan kemampuan nanang holistik (menyeluruh), congah, objektif, dan makul, serta kurang mencaci ketuntasan belajar secara tersendiri.

Hal ini lagi diungkapkan dalam pendalaman yang dilakukan makanya Blazelly,
dkk (n domestik Suderajat,
2004:2) bahwa:
Pembelajaran di Indonesia membidik sangat teoritik dan tidak terkait dengan lingkungan dimana murid subur. Jadinya peserta pelihara tidak berharta menerapkan apa yang dipelajarinya di sekolah, guna memecahkan masalah nan dihadapinya dalam nyawa sehari-hari. Pendidikan telah mencabut peserta asuh bersumber lingkungannya sehingga mereka menjadi asing di dalam masyarakatnya sendiri.

Pendidikan

IPA

enggak tetapi transfer ilmu kabar dari suhu kepada siswa laksana pesuluh didik. Kalau doang transfer manifesto yang terjadi, pendidikan tidak akan menghasilkan generasi terdidik dan berkualitas. Rohandi (1998: 113) menyatakan bahwa,




“Pengajian pengkajian sains tidak enggak merupakan proses konstruksi pengetahuan (sains) melalui aktivitas berpikir anak. Dalam keadaan ini, anak asuh diberi kesempatan lakukan mengembangkan pengetahuannya secara mandiri menerobos proses komunikasi yang menyambat pengetahuan awal nan dimiliki dengan pengetahuan yang akan/harus mereka temukan. Dengan demikian, kondisi begitu juga ini akan mampu menjadikan anak berdaya, yang suntuk berperan penting n domestik umur mereka sehari-hari.”



Dalam pengajian pengkajian IPA, proses memerankan peranan yang sangat berfaedah internal masukan IPA sebagai dagangan dan fertilisasi sikap. Yang dimaksud proses dalam hal ini adalah proses mendapatkan IPA. Sebagai halnya kita ketahui bahwa IPA sebagai ilmu diperoleh melalui metode ilmiah. Dengan demikian pembelajaran IPA hendaknya menerapkan metode ilmiah ini. Untuk janjang SD, metode ilmiah dikembangkan secara sedikit berangsur-angsur dan per-sisten sampai pada tahap murid bisa melakukan penelitian secara sederhana. Disamping itu, pentahapan pengembangannya disesuaikan dengan tahapan dari suatu proses penelitian ataupun eksperimen yang terdapat kerumahtanggaan bujuk metode ilmiah secara sederhana yang disesuaikan dengan tahapan peserta didik secara psikologis agar penelaahan makin bermakna bakal siswa.

Untuk memahami satu konsep, siswa semoga diberi peluang untuk memperoleh dan menemukan konsep melalui serangkaian kegiatan pembelajaran yang menunjang bakal tercapainya hal tersebut. Mengapa penciptaan ini begitu utama ? Menurut J.Bruner (1961) terdapat empat jenggala an yang mendasarinya, yaitu : (1) dapat mengembangkan kemampuan intelektual pesuluh, (2) menambah motivasi intrinsic, (3) menjiwai bagaimana ilmu itu diperoleh, dan (4) memperoleh taktik ingat nan kian lama retensinya.



Pada hakikatnya, dalam proses mendapatkan IPA diperlukan sejumlah keterampilan yang disebut kegesitan proses. Sumantri (2001;95) menelanjangi bahwa suatu pengajaran yang menggunakan pendekatan keterampilan proses berarti pengajaran itu berusaha menurunkan siswa dalam posisi nan amat berharga. Peserta dipandang andai koteng ilmuwan yang harus mencatat dirinya bagaimana mereka belajar (to learn how to learn). Dengan kata tak pembelajaran yang menunggangi pendekatan kelincahan proses merupakan wahana peluasan keterampilan intelektual, social, emosional, dan fisik peserta didik yang pada prinsipnya ketangkasan-keterampilan tersebut mutakadim cak semau plong diri mereka sendiri.


B. RUMUSAN
Masalah



Beralaskan latar pantat di atas, maka bisa dikembangkan beberapa pertanyaan mengenai pendekatan keterampilan proses dan penerapannya dalam pembelajaran pada jenjang SD yang merupakan topik yang akan dibahas privat kertas kerja ini andai berikut :

1. Apakah nan dimaksud dengan Ketangkasan Proses Sains?

2. Apakah jenis-jenis Ketangkasan Proses Sains ?

3. Bagaimana penerapan pendekatan Keterampilan Proses Sains intern pembelajaran di SD ?






KETERAMPILAN PROSES SAINS


DALAM Penataran SAINS TINGKAT SEKOLAH DASAR


A. PENGERTIAN DAN HAKEKAT SAINS

Istilah IPA sebagai sebagai stempel suatu mata latihan digunakan pada kurikulum sebelum KBK, hingga tahun diberlakukaannya KBK, mata pelajaran IPA diubah menjadi mata pelajaran Sains. NAmun keadaan ini bukan berlantas lama, dalam kurikulum selanjutnya yaitu KTSP, mata pelajaran Sains diubah kembali menjadi IPA. Dalam referat ini istilah Sains dan IPA dianggap setolok.

Sains merupakan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis cak bagi menguasai pengetahuan, fakta-fakta, konsep-konsep,
cara-cara, proses penciptaan, dan mempunyai sikap ilmiah. Pendidikan sains di
SD bermanfaat bagi siswa kerjakan mempelajari diri sendiri dan alam sekitar.

Pendidikan sains menekankan pada belas kasih secara langsung dan

kegiatan praktis untuk mengembangkan kompetensi mudah-mudahan murid mampu menjelajahi

dan memafhumi alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan sains diarahkan untuk
mencari sempat dan mengamalkan sehingga dapat membantu siswa buat memperoleh

kognisi nan lebih benar-benar tentang tunggul selingkung.

Secara implisit pembelajaran sains puas kurikulum 1994 start disampaikan

pada siswa kelas tiga sekolah dasar, sekadar pada kurikulum 2004 (KBK) dan Kurikulum Tingkat Eceran Pendidikan (KTSP) penelaahan sains di berikan kepada siswa SD sejak inferior satu, namun objek

kajian sains bagi kelas suatu
,dua

dan

tiga
, lain diajarkan secara terpisah melainkan diberikan dengan cara tematis. Kegiatan pendedahan
sains

bertambah
diarahkan pada asam garam berlatih
serempak daripada pencekokan pendoktrinan (mengajar). Guru berperan sebagai fasilitator
sehingga petatar lebih aktif berperan dalam proses belajar. Guru membiasakan
memberi peluang seluas-luasnya seyogiannya siswa dapat belajar makin berguna dengan
memberi respon nan mengaktifkan semua siswa secara positif dan edukatif.
Penilaian tentang kesuksesan belajar sains dilakukan sejauh proses

pembelajaran, penilaian tidak tetapi dilakukan puas akhir periode hanya dilakukan

secara terintegrasi (enggak terpisahkan) semenjak kegiatan penerimaan privat kekuatan

kemajuan belajar dinilai mulai sejak proses tidak hanya hasil.



Sains dan penataran sains tidak doang sekedar pengetahuan nan bersifat ilmiah namun, melainkan terdapat dimensi-ukuran ilmiah penting nan menjadi putaran sains.



Pertama

, yakni beban sains (content of science) nan berilmu bermacam-macam fakta, konsep,
syariat,
dan
teori-teori.
Format
inilah
yang
menjadi
obyek
amatan
ilmiah manusia.

Format
kedua
sains adalah proses dalam melakukan aktivitas ilmiah dan sikap ilmiah
dari
pengelola
sains.
Proses
dalam
melakukan
aktivitas-aktivitas
yang
tersapu dengan sains biasa disebut dengan keterampilan proses sains (science proccess skills). Keterampilan
proses
inilah
yang
digunakan
setiap
ilmuwan
ketika
melakukan aktivitas-aktivitas
sains.
Karena
sains
yaitu
tentang
mengajukan
pertanyaan
dan mencari jawaban bermula soal-pertanyaan nan diajukan, maka keterampilan ini dapat
juga
diterapkan
dalam
kehidupan
kita
sehari-musim
ketika
kita
menemukan persoalan-persoalan keseharian dan kita harus mencari jawabannya. Jadi, mengajarkan kegesitan proses sains pada pelajar sebanding artinya dengan mengajarkan kesigapan yang nantinya akan mereka gunakan dalam semangat keseharian mereka.

Ukuran
ketiga
dari sains merupakan matra yang terfokus pada karakteristik sikap dan watak ilmiah. Matra ini menutupi kuriositas seseorang dan besarnya buku imajinasi seseorang, kembali antusiasme yang panjang bikin mengajukan cak bertanya dan mengatasi permasalahan. Sikap tak yang juga harus dimiliki seorang ilmuwan ialah
sikap
menghargai
terhadap
metode-metode
dan
nilai-nilai
di
intern
sains. Metode-metode
sains
nan
dimaksud
di
sini
meliputi
persuasi
cak bagi
menjawab pertanyaan-pertanyaan menggunakan bukti-bukti, kemauan lakukan mengakui pentingnya mengecek ulang data yang diperoleh, dan memahami bahwa wara-wara ilmiah dan teori-teori berubah sepanjang waktu selama permakluman-informasi yang kian banyak dan makin baik diperoleh.

Sains yakni sekerumun proklamasi adapun objek dan fenomena duaja yang diperoleh bermula hasil pemikiran dan penelitian para ilmuan nan dilakukan dengan keterampilan bereksperimen dengan menggunakan metode ilmiah, Poedjiati (Oktian, 2005:27). Berkenaan dengan cara kerja buat menghasilkan komoditas IPA, Ticker (Oktian, 2005:28) mengemukakan

Science is interconnected series of concepts and conceptual schemes that have developed as a result of experimentation and observation and are fruitful of further experimentations and observations’.



Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa sains menghendaki adanya eksperimen dan observasi buat menguji teori alias hukum yang telah cak semau. Jika eksperimen nan dilakukan tidak sesuai dengan teori maka teori tersebut tak berlaku kembali sehingga bermula sinilah timbul teori atau hukum bau kencur. Lebih lanjut Suriaty (Solihat, 2006:13-14)

membentangkan bahwa

untuk memahami hakekat IPA haruslah dilandasi dengan
signifikasi mengenai IPA yang dikemukakan oleh para ahli:



1.




Kemeny menyatakan bahwa ”IPA merupakan

aktifitas

internal

menemukan hukum-hukum alam dalam bentuk teori-teori berdasarkan fakta-
fakta”. Peristiwa ini menyebabkan hubungan timbang erot antara teori dan fakta.


Fakta-fakta dapat menimbulkan teori baru alias membatalkan teori lama. Teori

juga dapat mendorong sarjana bikin mencari fakta plonco.




2.




Fishei
menyatakan bahwa IPA ibarat




body
of
knowledge

obtained by method based upon observation”,



yaitu IPA adalah suatu batang tubuh wara-wara yang diperoleh melalui metode nan beralaskan
observasi.



3.




Chalmers menyatakan hahwa “IPA didasari makanya keadaan-hal yang

kita lihat, dengar, raba, dan lain-lain”. Dapat dikatakan
batasan
ini lebih
mementingkan kepada cara memperoleh IPA, yaitu melalui observasi. IPA
bagaikan kumpulan konsep atau cara lain secara jelas dikemukakan.



4.




Sund menyatakan bahwa


”Science is both a body of knowledge



and



process”


dilihat berpangkal kalimat ini maka jelaslah bahwa yang dimaksud

dengan sains (IPA) yakni antologi dari pengetahuan (fakta, konsep, prinsip.
dan lain-lain), dan bagaimana proses bagi mendapatkan pengetahuan itu.
Sund
mengemukakan batasan IPA yang lebih lengkap. Sund
menyatakan ”IPA sebagai meres kabar


(body of knowledge)


yang

dibentuk melalui proses inkuiri yang terus menerus, nan diarahkan oleh

masyarakat yang bersirkulasi dalam bidang IPA”. IPA lebih dari sekedar aji-aji

maklumat. IPA yaitu satu upaya basyar nan menutupi operasi
mental, keterampilan dan ketatanegaraan, memanipulasi, menotal, kemelitan,
kebulatan hati nan dilakukan oleh insan kerjakan menyingkap siasat internasional. IPA juga dapat dikatakan seumpama situasi-hal yang dilakukan ahli IPA

ketika melakukan kegiatan penyelidikan ilmiah.

Berasal pendapat beberapa ahli di

atas

maka jelaslah puas hakekatnya IPA

yaitu ilmu pemberitaan tentang fenomena alam berupa koleksi fakta, konsep.
prinsip, hukum, dan teori, kemudian dapat diuji kebenarannya.
Pengajian pengkajian IPA sreg hakekatnya merupakan membelajarkan petatar bakal
memahami hakekat IPA (proses dan dagangan) dan sadar akan nilai-nilai yang ada di

privat mahajana serta terjadi pengembangan ke arah sikap positif.
Pemberian
pengalaman secara spontan sangat

ditekankan

melewati

p

enggunaan dan pengembangan ketangkasan proses serta sikap ilmiah dengan tujuan mengarifi konsep-konsep dan mampu memecahkan masalah.


B. PENGERTIAN Kecekatan PROSES SAINS

Pendekatan kesigapan proses dapat diartikan sebagai wawasan atau anutan pengembangan kesigapan–keterampilan intelektual, sosial dan fisik yang berbunga dari kemampuan-kemampuan mendasar yang prinsipnya telah ada dalam diri siswa. Pendekatan keterampilan proses pada pembelajaran sains lebih menekankan pembentukan kegesitan buat memperoleh informasi dan mengkomunikaskan hasilnya.

Pendekatan keterampilan proses dimaksudkan cak bagi melebarkan kemampuan-kemampuan yang dimiliki makanya insan siswa. Dimyati dan Mudjiono (2002:138) memuat ulasan pendekatan keterampilan proses yang diambil dari pendapat Funk (1985) sebagai berikut:



(1)




Pendekatan keterampilan proses bisa meluaskan hakikat ilmu pengetahuan siswa. Petatar terdorong bakal memperoleh ilmu pengetahuan dengan baik karena lebih memahami fakta dan konsep ilmu warta;



(2)




Pembelajaran melalui keterampilan proses akan memasrahkan kesempatan kepada pesuluh untuk berkarya dengan ilmu pengetahuan, tidak hanya menceritakan, dan atau mendengarkan album ilmu pengetahuan;



(3)




Ketangkasan proses dapat digunakan oleh murid kerjakan belajar proses dan sewaktu produk hobatan pengetahuan.



(4)




Pendekatan Kesigapan Proses sains memasrahkan kesempatan kepada pelajar kerjakan secara riil bertindak bak seorang intelektual (Dimyati dan Mudjino, 2002:139).

Semiawan, (1992:16-33) mengatakan bahwa

keterampilan proses adalah kegesitan siswa lakukan mengurus hasil yang didapat kerumahtanggaan kegiatan belajar mengajar yang memberi kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk mengamati, menggolongkan, mengubah, meramalkan, menerapkan, merencanakan penggalian dan mengkomunikasikan hasil perolehannya tersebut.


Di gendong lagi oleh Haryani, (2006:13), bahwa:

Pendekatan Ketangkasan

proses

sains

adalah

proses yang dirancang sedemikian rupa sehingga pesuluh dapat menemukan fakta-fakta, membangun konsep-konsep dan teori-teori dengan kegesitan proses dan sikap ilmiah murid sendiri.



Sementara itu menurut Padila

(Rosadi, 2006:25)

K
eterampilan proses sains adalah seluruh keterampilan ilmiah yang boleh digunakan untuk menemukan satu konsep alias prinsip atau teori untuk mengembangkan konsep yang sudah ada ataupun bagi melakukan penjungkalan terhadap suatu reka cipta.

Indrawati (2000:3) menyatakan bahwa:

Keterampilan proses merupakan keseluruhan keterampilan ilmiah yang terarah (baik kognitif atau psikomotor) yang bisa digunakan bagi menemukan satu konsep alias prinsip alias teori, lakukan melebarkan konsep yang sudah terserah sebelumnya, ataupun untuk melakukan penyangkalan terhadap suatu rakitan (falsifikasi).

Seia sekata dengan itu, Rustaman N.Y & Rustaman A (1997:29) mengemukakan bahwa:

Keterampilan proses IPA yakni semua kelincahan yang diperlukan bagi memperoleh, berekspansi dan menerapkan konsep-konsep, cara-kaidah, hukum-hukum, dan teori-teori IPA, baik maujud kelincahan mental, keterampilan tubuh (manual) maupun kelincahan sosial.

Dari beberapa pendapat di atas boleh disimpulkan bahwa kecekatan proses sains itu adalah

kegesitan

ilmuwan
yang

khas yang digunakan oleh semua jauhari serta boleh digunakan
kerjakan memahami

fenomena barang apa semata-mata, dimana keterampilan ini diperlukan cak bagi memperoleh, mengembangkan dan menerapkan konsep-konsep, prinsip syariat dan teori-teori sains.
Melalui keterampilan proses sains ini siswa diharapkan dapat mengalami proses sebagaimana nan dialami para ilmuan internal memecahkan mirakel-misteri alam dan akan menjadi roda penggerak penemuan,
ekspansi fakta dan konsep serta penumbuhan dan pengembangan sikap, wawasan dan nilai.

Secara singkat dapat dikatakan bahwa pendekatan keterampilan proses menekankan usaha-gerakan membelajarkan murid pelihara bagaimana sparing (to learn how to learn). Usaha ini jelas menuntut keterlibatan peserta didik kerumahtanggaan qada dan qadar keterlibatan belajar yang abadi, tinggi, dan maksimal.


Prosedur yang dilakukan para ilmuan buat melakukan penggalian intern propaganda mendapatkan pengetahuan tentang alam biasa dikenal dengan istilah metode ilmiah. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan makanya para ilmuan untuk mendapatkan atau menemukan suatu ilmu deklarasi membutuhkan kecakapan dan kelincahan dasar
bakal melakukan kegiatan ilmiah tersebut. Kemampuan dasar tersebut dikenal

dengan

istilah keterampilan proses IPA.

Buat mengenalkan bendera puas siswa, perlu diajarkan bagaimana maklumat standard tersebut didapat

dengan melatihkan kelincahan

proses IPA pada murid.

Kegesitan proses bisa berkembang pada diri siswa bila diberi
kesempatan untuk
membiasakan mengg
unakan keterampilan berpikirnya. Dengan kesigapan proses pelajar
bisa rnempelajari IPA sesuai dengan keinginannva.

Kegesitan proses sains mempunyai cakupan yang sangat luas sehingga aspek-aspek keterampilan proses sains cerbak digunakan
intern sejumlah pendekatan dan

metode.


C. PEMBELAJARAN BERBASIS Ketangkasan PROSES SAINS

Belajar dan mengajar yakni dua konsep yang lain boleh dipisahkan satu sama lain. Dua konsep tersebut akan menjadi signifikan apabila ada interaksi antara guru – siswa, atau siswa – pesuluh, plong saat tutorial itu berlangsung. Interaksi
guru – siswa
merupakan bagian utama dalam proses pencekokan pendoktrinan yang memegang peranan penting bagi mencapai tujuan pengajaran yang efektif.

Banyak pandangan adapun mengajar yang membawa implikasi terhadap pelaksanaan indoktrinasi. Sanjaya, (2006: 94) mendedahkan mengajar yakni suatu proses mengatur, menstransfer, mengorganisasi nan ada di selingkung siswa sehingga dapat menumbuhkan dan menunda pesuluh melakukan proses berlatih. Rumusan di atas menekankan peranan siswa dalam proses belajar mengajar dengan memandang hakekat sparing mengajar sebagai satu proses bagi menumbuhkan tembung siswa untuk sparing.

Mengajar suatu proses yang kompleks tak hanya menampilkan imformasi bersumber master kepada murid, tetapi banyak kegiatan alias tindakan yang harus dilakukan, terutama bila diinginkan hasil belajar yang lebih baik plong seluruh siswa.

Menurut William H. Barton (Sagala, 2006) mengajar yakni upaya internal memberi cambuk, didikan, pengarahan dan dorongan kepada seluruh siswa semoga terjadi proses berlatih. Berdasarkan signifikansi di atas maka dapat dipahamai bahwa aktivitas yang menonjol dalam pembelajaran ada sreg diri siswa dibawah bimbingan dan arahan dari guru, dimana guru hanya bertindak sebagai fasilitator dalam proses sparing mengajar. Dengan demikian mengajar yaitu upaya n domestik memberi kebolehjadian untuk murid untuk terjadinya proses belajar mengajar pelajar secara optimal.

Teori konstruktivisme dianggap ibarat rukyah baru dalam pendidikan meskipun sememangnya kosntruktivisme merupakan pandangan dalam filsafat. Pandangan ini dikemukakan oleh Giambattista Vico plong musim 1710 (dalam Poedjiadi, 2001), yang intinya bahwa warta seorang itu merupakan hasil bangunan individu melangkahi interaksinya dengan obyek, fenomena, asam garam dan lingkungannya. Pandangan ini memberikan pengertian lega pendidik dalam mengajarkan ilmu pengetahuan nan mesti dikaitkan dengan pengetahuan sebelumnya dan kejadian tidak yang telah diketahuinya sehingga setiap individu bisa membangun pengetahuannya dengan bertambah bermakna. Sesuai dengan pendapat
Ausubel (kerumahtanggaan Dahar, 1989) proses yang mengkaitkan proklamasi baru dalam membangun pengetahuannya sreg konsep-konsep relevan nan terdapat dalam struktur kognitif pelajar.

Andai sebuah teori mengenai bagaimana pengetahuan terbimbing, kontruktivisme mempunyai pandangan tertentu tentang publikasi. Secara garis besar ada tiga prinsip dasar yang menyatakan inti penglihatan kontruktivisme tentang pengetahuan (Widodo, 2007: 97)




1.






Pengetahuan merupakan hasil kontruksi sosok dan bukan sepenuhnya representasi suatu fenomena atau benda.



Fenomena atau obyek memang bersifat obyektif, cuma observasi dan interpretasi terhadap suatu fenomena atau obyek berpengaruh makanya subyektivitas pengamat.




2.






Pengetahuan merupakan hasil konstruksi sosial



Pengetahuan terasuh intern suatu tulang beragangan konteks sosial tertentu.

Maka itu karena itu pengetahuan tergoyahkan faedah sosial dimana pengetahuan itu terbentuk.




3.






Pengetahuan bersifat tentatif

Sebagai konstruksi manusia, kebenaran pengetahuan tidaklah mutlak tetapi bersifat tentatif dan senantiasa berubah. Ki kenangan sudah lalu membuktikan bahwa sesuatu nan diyakinai ”bersusila” sreg suatu musim ternyata ”salah” di periode selanjutnya

Pengembangan pendekatan keterampilan proses merupakan pelecok satu upaya nan terdahulu buat memperoleh keberhasilan sparing nan optimal. Materi pelajaran akan lebih mudah dikuasai dan dihayati oleh petatar bila siswa sendiri mengalami situasi membiasakan tersebut. Selain itu, tujuan pendekatan proses ini yaitu :



a)




Memasrahkan motivasi belajar kepada siswa karena privat keterampilan proses ini siswa dipacu lakukan senantiasa berpartisipasi secara aktif dalam belajar.



b)




Buat lebih memperdalam konsep, pengertian, dan fakta yang dipelajari pesuluh karena hakikatnya siswa sendirilah yang mencari fakta dan menemukan konsep tersebut



c)




Cak bagi mengembangkan pemberitaan teori dengan pesiaran hidup dimasyarakat sehingga antara teori dengan manifesto hayat akan serasi.



d)




Bak persiapan dan latihan privat menghadapi mualamat hidup di dalam umum sebab siswa mutakadim dilatih untuk berotak n domestik menuntaskan masalah



e)




Meluaskan sikap berkeyakinan diri, bertanggung jawab dan rasa kesetiakawanan sosial kerumahtanggaan menghadapi bervariasi ki aib semangat. (Moh. Uzer Usman dan Lilis Setiawati, 2000 : 78).

Dengan demikian, Pendedahan berbasis ketrampilan proses sains boleh didefinisikan sebagai penyulihan ketrampilan proses sains (Science process skill) yaitu gawai kemampuan kompleks yang biasa digunakan oleh para ilmuwan internal melakukan pengkhususan ilmiah kedalam rangkaian proses pembelajaran. Pengajian pengkajian dirancang untuk kian memberikan kesempatan kepada siswa dalam penemuan fakta, membangun konsep dan ponten-nilai baru melalui proses peniruan terhadap barang apa nan halal dilakukan oleh para intelektual (Haryono; 2005).

Pendekatan kecekatan proses adalah pengajian pengkajian nan dinasihatkan didalam mengajar IPA, selain menggunakan pendekatan konsep, hawa diminta untuk menggunakan pendekatan keterampilan proses. Kesigapan-kelincahan proses IPA dikembangkan bersama-seperti mana fakta-fakta, konsep-konsep, dan cara-prinsip IPA. Inti pengembangan pendekatan keterampilan proses ialah aspek pengetahuan (kognitif), sikap (affektif), dan kesigapan (psikomotor), selain itu pengembangan keterampilan proses dituntut pengembangan kreatifitas petatar.

Keefektifan bermula pendekatan ketangkasan proses adalah anak akan mampu menemukan dan melebarkan sendiri fakta dan konsep serta mengintensifkan dan mengembangkan sikap dan ponten yang dituntut. Kecekatan proses IPA yang dikembangkan sreg murid setingkat SD khususnya kelas rendah merupakan modifikasi dari ketangkasan proses IPA yang dimiliki para sarjana yang disesuaikan dengan tingkat urut-urutan anak dan materi yang diajarkan. Perlunya ekspansi pendekatan belajar mengajar keterampilan proses dalam pengajaran IPA ini diarahkan pada pertumbuhan dan peluasan beberapa keterampilan tertentu sreg diri peserta tuntun atau murid agar mereka berkecukupan memproses informasi sehingga ditemukan hal-hal nan baru yang berharga baik berupa fakta, konsep atau pengembangan sikap dan nilai. Sebagai konsekuensi terbit pendekatan keterampilan proses ini, maka siswa berperan selaku subyek dalam belajar. Engkau tak sahaja menerima informasi, tetapii sebaliknya pencari informasi. Makanya siswa harus aktif , terampil dan bernas mengurusi perolehannya serta hasil belajar dan pengalamannya.

Kegesitan proses adalah kegesitan yang diperoleh semenjak latihan kemampuan-kemampuan mental, fisik dan sosial yang mendasar sebagai pelopor kemampuan-kemampuan nan lebih pangkat. Kemampuan-kemampuan mendasar yang mutakadim dikembangkan dan telah terlatih lama-kelamaan akan menjadi suatu keterampilan, sedangkan pendekatan keterampilan proses ialah cara memandang anak didik bagaikan manusia sesudah-sudahnya. Cara memandang ini dijabarkan n domestik kegiatan belajar mengajar memaki pengembangan pengetahuan, sikap, angka serta keterampilan. Ketiga unsur itu menyatu dalam satu bani adam dan terampil dalam kerangka daya kreasi. Tujuan pengajaran sains sebagai proses adalah bagi meningkatkan keterampilan berpikir siswa, sehingga murid bukan cuma bernas dan terampil intern meres psikomotorik, melainkan kembali bukan sekedar juru menghafaz. Berdasarkan penjelasan di atas sreg kegesitan proses, guru tidak menginginkan setiap siswa akan menjadi ilmuan, melainkan dapat mengemukakan ide bahwa mengarifi sains sebagian bergantung pada kemampuan memandang dan bergaul dengan alam menurut cara-pendirian seperti nan diperbuatoleh ilmuan.

Selain itu melalui proses membiasakan mengajar dengan pendekatan kelincahan proses dilakukan dengan keimanan bahwa sains adalah instrumen yang potensial buat membantu mengembangkan karakter siswa, dimana kepribadian siswa yang berkembang ini yakni keharusan cak bagi meneruskan kejalur profesi apapun yang diminatinya. Bagi itu peserta terlazim dibekali dengan keterampilan untuk mencari dan mengolah informasi dari berbagai sendang, dan tidak semata-alat penglihatan berpokok suhu.


D. JENIS-Variasi KETERAMPILAN PROSES SAINS

Moh. Uzer Usman dan Lilis Setiawati mengemukakan kemampuan yang dikembangkan dalam keterampilan proses yang antara enggak :



a)




Pengamatan, yaitu kegesitan mengumpulkan data atau makrifat melalui penerapan indera



b)




Menggolongkan (memilah), yaitu kelincahan menggolongkan benda, pesiaran, konsep, nilai atau kepentingan tertentu. Bikin membuat penggolongan perlu ditinjau pertepatan dan perbedaan antara benda, kenyataan, konsep sebagai dasar pengelompokan



c)




Mengubah (menginterpretasikan), adalah keterampilan mengubah sesuatu riil benda, keterangan, peristiwa, konsep dan informasi yang sudah lalu dikumpulkan melewati pengamatan, penghitungan, penggalian atau eksperimen.



d)




Meramalkan, merupakan mengantisipasi atau menyimpulkan suatu hal yang akan terjadi pada waktu yang kemudian hari bersendikan rekaan atas kecondongan, konseptual tertentu, hubungan antar data, maupun pesiaran. Misalnya, beralaskan pengalaman mengenai peristiwa kilap sebelumnya, siswa dapat memfaalkan keadaan seri yang akan terjadi.



e)




Menerapkan (aplikasi) yaitu menggunakan hasil membiasakan berupa pemberitaan, deduksi, konsep, hukum, teori dan keterampilan. Melalui penerapan hasil membiasakan boleh dimanfaatkan, diperkuat, dikembangkan atau dihayati.



f)




Merencanakan penelitian, adalah kecekatan yang amat terdahulu karena menentukan berakibat tidaknya melakukan penajaman. Kesigapan ini perlu dilatih karena selama ini pada biasanya kurang diperhatikan dan minus tercacak.



g)




Mengkomunikasikan, yakni ketangkasan menyampaikan akuisisi maupun hasil belajar kepada orang lain dalam rangka tulisan, gambar, gerak, tindakan, ataupun penampilan.

(Moh. Uzer Usman dan Lilis Setiawati, 2000 : 79).

Padahal Hendro Darmodjo dan Jenny RE.

Kaligis merinci ketangkasan-keterampilan proses dalam pendidikan IPA itu meliputi :



1)




Keterampilan mengobservasi, nan menutupi kemampuan untuk dapat “mengasingkan”, “menghitung” dan “menakar” teragendakan mengukur suhu, panjang, luas, jarang dan masa.



2)




Keterampilan mengklasifikasi, nan meliputi menggolong-golongkan atas dasar aspek-aspek tertentu, serta kombinasi antara menggolongkan dengan mengurutkan.



3)




Keterampilan menginterpretasi, termasuk menginterpretasi data, diagram, maupun mencari pola hubungan yang terletak dalam perebusan data.



4)




Kesigapan memprediksi, termasuk membuat ramalan atas tren yang terletak dalam pengolahan data



5)




Ketangkasan membuat hipotesis, meliputi kemampuan berpikir deduktif dengan menggunakan konsep-konsep, teori-teori ataupun hukum-hukum IPA nan telah dikenal.



6)




Keterampilan mengendalikan variabel, ialah upaya mengisolasi lentur yang tidak diteliti sehingga adanya perbedaan pada hasil eksperimen adalah dari variabel yang diteliti.



7)




Keterampilan merencanakan dan melakukan penelitian, eksperimen yang meliputi penetapan problem, takhlik hipotesis, menguji presumsi



8)




Keterampilan menyimpulkan atau inferensi, yaitu kemampuan menarik kesimpulan berusul pengolahan data



9)




Keterampilan menerapkan atau permintaan, alias memperalat konsep atau hasil investigasi ke dalam perikehidupan n domestik publik



10)




Keterampilan mengkomunikasikan, ialah kemampuan siswa untuk dapat mengkomunikasikan pengetahuannya, hasil pengamatan, maupun penelitiannya kepada orang lain baik secara lisan maupun secara terdaftar.

(Hendro Darmodjo dan Jenny R.E. Kaligis, 1992:52).





Cain dan Evan (1990) mengemukakan bahwa sebaiknya sukses dalam penerimaan sains maka proses sains nan harus dikembangkan adalah :


mengobservasi, mengklasifikasi,mengeti, menggunakan pernah defenisi operasional, memformulasi presumsi, menginterpertasi data, mengontrol variable, melakukan eksperimen.



Secara terperinci, Hadiat; 1988:30 (Patta Bundu;31) mengemukakan beberapa ketrampilan proses dengan ciri-cirinya nan teradat dilatihkan pada siswa disekolah. Ketrampilan proses tersebut sebagaimana pada table dibawah ini:


Ketrampilan Proses dan ciri-cirinya


Ketrampilan Proses


Ciri Aktivitas

Observasi (memperhatikan)

Menggunakan alat cingur sebanyak barangkali, menumpulkan fakta yang relevan dan memadai

Klasifikasi (menggolongkan)

Mencari perbedaan, mengontraskan, mengejar kesamaan, membandingkan, mencari dasar penggolongan

Aplikasi konsep (menerapkan konsep)

Menghitung, menjelaskan hal, menerapkan konsep yang dipelajari pada situasi bau kencur

Interpretasi (menafsirkan)

Mengingat-ingat hasil pengamatan, menghubungkan hasil pengamatan, dan membuat kesimpulan

Memperalat perlengkapan

Berlatih menggunakan alat/bahan, menguraikan, mengapa dan bagaimana alat digunakan

Eksperimen (merencanakan dan berbuat percobbaan)

Menetukan perabot dan bahan yang digunakan, menentukan variable, menentukan apa yang diamati, diukur, menentukan langkah kegiatan, menetukan bagaimana data diolah, dan disimpulkan

Mengkomunikasikan

Membaca diagram, table alias grafik, menjelaskan hasil percobaan, mendiskusikan hasil percobaandan mengedepankan laporan secara sistematis

Mengajukan cak bertanya

Bertanya, mempersunting penjelasan, bertanya tentang rataan belakang hipótesis

Sumber: Modifikasi dari Hadiat,” Ketrampilan proses SAINS”, Beberapa topik Penataran Guru Sains (Jakarta: P4TK Depdikbud.

1988). H. 29-30


Tentatif itu, Abruscato (1992:7) takhlik penggolongan ketrampilan proses sains yaitu:



PENGELOMPOKAN KETRAMPILAN PROSES SAINS


Basic Skills (Ketrampilan Dasar)


Integrated Skills (Ketrampilan Integral)








Menghakimi (Observing)








Menunggangi hubungan ruang (Using space relationship)








Menggunakan angka (Using number)








Mengelompokan (Classifying)








Menimbang (measuring)








Mengkomunikasikan (Communicating)








Menenung (predicting)








Menyimpulkan (Inferring)








Mengontrol variable (controlling variable)








Menafsirkan data (Interpreting data)








Menyususn presumsi (formulating hypothesis)








Menyusun defenisi operasional (defining operationally)








Melakukan percobaan (Experimenting)

Brotherton dan Preece (1995;6) mengelompokkan keterampilan proses sains kedalam dua kelompok yaitu kecekatan pangkal dan kelincahan terintegrasi. Keterampilan dasar terdiri atas :
observation, classification, inferring, communication, recording, using numbers, predicting,using space/time relation, controlling variabel, collecting data, measuring, dan scientific thinking. Sedangkan keterampilan terintegrasinya membentangi :
graphing, hypothezing, interpreting data, formulating models, experimenting dan defining operationally.

Berikut ini merupakan kegesitan proses bawah dan kegesitan terintegrasi yang diungkapkan makanya Funk ;


KETERA


MPILAN
PROSES
Asal




Keterampilan-keterampilan
proses
adalah
adegan-bagian
yang

membentuk kalangan
metode-metode ilmiah.

Keenam
kesigapan tersebut adalah,



1.




Pengamatan (observatio
n
)

Kemampuan menghakimi yakni keterampilan paling dasar internal proses dan memperoleh ilmu serta hal terpenting kerjakan mengembangkan kesigapan proses yang tak. Mencela merupakan tanggapan terhadap berbagai objek dan peristiwa tunggul dengan pancaindra. Dengan obsevasi, siswa mengumpulkan data akan halnya tanggapan-tanggapan terhadap incaran yang diamati. Kegiatan menyerang terdiri dari dua jenis yaitu secara kualitatif menggunakan panca indera dan pengamatan secara kuantitatif adalah dengan menggunakan radas bantu yang sudah dibakukan seperti thermometer untuk mengetahui guru, penggaris untuk memafhumi panjang satu objek, dan tak-bukan.



2.




Pengomunikasian
(
communication
)

Sejumlah besar objek, kejadian, dan segala yang ada dalam hidup di selingkung, lebih mudah dipelajari apabila dilakukan dengan pendirian menentukan plural variasi golongan. Menggolongkan dan mengamati kemiripan, perbedaan dan hubungan serta pengelompokan objek berdasarkan kesesuaian dengan berbagai maksud. Keterampilan mengidentifikasi persamaan dan perbedaan berbagai objek keadaan berdasarkan kebiasaan-adat khususnya sehingga didapatkan golongan atau keramaian sepersaudaraan dari alamat peristiwa nan dimaksud.





3.




Kategorisasi(
classification
)

Manusia mulai belajar lega awal-awal kehidupan bahwa komunikasi merupakan radiks bagi memecahkan masalah. Keterampilan menyapaikan sesuatu secara lisan alias tulisan termasuk komunikasi. Mengkomunikasikan boleh diartikan sebagai penyampaikan dan memperoleh fakta, konsep, dan prinsip guna-guna kabar dalam kerangka kritik, okuler, atau suara minor dan visual (Dimyati dan Mudjiono, 2002: 143). Hipotetis membaca denah, diagram, garfik, bagan, lambang-lambang, diagaram, demontrasi okuler.




4.




Pengukuran


(
measurement
)

Mengukur dapat diartikan sebagai membandingkan yang diukur dengan satuan matra tertentu nan telah ditetapkan sebelumnya. Kegesitan intern menunggangi alat intern memperoleh data dapat disebut pengukuran.





5.




Penyimpulan (inference
)

Mengamalkan inferensi adalah menyimpulkan. Ini bisa diartikan sebagai satu kesigapan untuk membelakangkan keadaan satu objek ataupun peristiwa berlandaskan fakta, konsep dan mandu yang diketahui.




6.




Kersaimalan (prediction
)

Prediksi adalah keterampilan meramal yang akan terjadi, berlandaskan gejala nan terserah. Keselarasan n domestik lingkungan kita mengizinkan kita lakukan mengenal model dan untuk memprediksi terhadap acuan-kamil barang apa yang mungkin boleh diamati. Dimyati dan Mudjiono (2002: 144) menyatakan bahwa memprediksi dapat diartikan sebagai mengantisipasi atau membentuk ramalan adapun segala hal yang akan terjadi lega tahun mendatang, berdasarkan runding pada kamil atau kecenderungan tertentu, atau korespondensi antara fakta, konsep, dan cara n domestik keterangan.





Keenam


keterampilan


di


atas


terinte
g
rasi


ketika


seorang


ilmuwan


merancang

dan

mengadakan
sebuah
eksperimen.
Enam

keteram
pilan
bawah
di
atas
silam
penting dalam



kedudukannya


sebagai


keterampilan


mandiri


sebagaimana


pentingnya


ketika berkedudukan umpama keterampilan teratur.

Pada
tingkat
atau
kelas
(grades)
yang
paling
awal,
siswa
akan

menghabiskan banyak
waktunya
cak bagi

menggunakan
keteram
pilan
pengamatan
dan
pengomunikasian.
Pada


tingkat


di


atasnya,


siswa


akan


mulai

menggunakan
keterampilan
untuk

menarik simpulan
dan
peramalan.
Pengklasifikasiatepi langit
dan
pengukuran
mengarah
digunakan
oleh petatar
pada
berbagai
tingkatan.
Situasi
ini
dikarenakan


terdapatnya


b
erbagai
cara
ufalaktuk
mengklasifikasi
dan
karena

metode-meufuk
ode


dan


siste
m


pengukuran


harus


juga
dikenalkan


sreg


anak


secara


gradual


(berangsur-angsur)


sepanjang



waktu


sis
wa berinteraksi
dengan
sains.


Kelincahan TERINTEGRASI

Keterampilan terintegrasi merupakan perpaduan dua kemampuan kecekatan proses bawah alias lebih. Ketangkasan integral terdiri atas: mengenali variabel, diagram, grafik, diskripsi sangkut-paut variabel, perolehan dan proses data, analisis penyelidikan, dugaan ekperimen.


1.






Identifikasi variable

Keterampilan mengenal ciri spesial berpokok faktor yang ikut menentukan perubahan


2.






Tabulasi

Kegesitan penyajian data intern rancangan tabel, untuk mempermudah pembacaan nikah antarkomponen (penyusunan data menurut derek-lajur nan cawis)


3.






Grafik

Keterampilan penguraian dengan garis mengenai turun naiknya sesuatu situasi.


4.






Diskripsi hubungan variable

Kesigapan membuat sinopsis/pernyataan hubungan faktor-faktor yang menentukan perubahan.


5. Masukan dan proses data


Keterampilan berbuat anju secara urut untuk meperoleh data.


6.






Analisis penyelidikan

Keterampilan menguraikan pokok permasalahan atas putaran-episode dan terpecahkannya permasalahan berdasarkan metode yang konsisten untuk mencapai pengertian tentang prinsip -mandu dasar.


7.






Asumsi

Keterampilan merumuskan dugaan tentatif.


8.






Ekperimen


Keterampilan melakukan percobaan untuk membuktikan suatu teori/penjelasan berdasarkan pengamatan dan penalaran.

Keterampian proses seperti yang diutarakan oleh Funk adalah keterampilan proses yang harus diaplikasikan pada pendidikan di sekolah oleh master. Pembelajaran sains menekankan plong pembentukan keterampilan memperoleh pengetahuan dan mengembangkan sikap ilmiah. Hal ini bisa tercapai apabila kerumahtanggaan pengajian pengkajian memperalat pendekatan kesigapan proses baik kegesitan proses radiks maupun kecekatan proses terintegrasi (terpadu) begitu juga terungkap di atas.



Keterampilan memperoleh pengetahuan nan ingin dibentuk adalah daya pikir dan kreasi. Daya pikir dan muslihat penciptaan merupakan penanda kronologi kognitif. Para pandai psikologi pendidikan menemukan bahwa pekembangan serebral enggak merupakan penumpukan kepingan informasi maupun lempengan perubahan makrifat yang terpisah, tetapi yakni pembentukan oleh anak suatu kerangka alias jaringan mental untuk memahami lingkungan.




E. KETERAMPILAN PROSES SAINS DAN INKUIRI

Pendekatan keterampilan proses adalah pendekatan belajar mengajar yang menumpu kepada peluasan kemampuan mental, jasmani, dan sosial nan mendasar laksana gembong kemampuan yang lebih tataran dalam diri individu murid. Pendekatan keterampilan proses sebagai pendekatan yang menekankan pada pertumbuhan dan ekspansi beberapa kegesitan tertentu pada diri murid didik agar mereka mampu memproses siaran sehingga ditemukan peristiwa-peristiwa yang baru yang bermanfaat baik riil fakta, konsep, maupun pengembangan sikap dan nilai. (Moh. Uzer Usman dan Lilis Setiawati, 2000 : 77-78).

Seia sekata dengan asumsi di atas, maka belajar-mengajar dipandang sebagai suatu proses yang harus dialami oleh setiap pelajar ajar maupun siswa. Membiasakan mengajar lain hanya menegaskan kepada segala nan dipelajari, tetapi lagi menekankan bagaimana sira harus belajar. Para guru dapat menumbuhkan dan melebarkan potensi, kemampuan dan kesigapan-keterampilan pelajar asuh sesuai dengan taraf perkembangan pemikirannya.

Pendekatan Proses (pendekatan keterampilan proses) ini senada dengan pendekatan inkuiri, karena mempunyai ciri-ciri yang setinggi, adalah :



1)




Menginginkan aktivitas siswa bikin memperoleh kabar mulai sejak berbagai macam sumber (misalnya dari observasi, eksperimen dan sebagainya);



2)




Guru tidak dominan melainkan selaku pengorganisasi dan fasilitator. Pendekatan ini disebut pendekatan proses karena punya ciri-ciri distingtif yang berkenaan dengan proses perebusan informasi merupakan:



a)




Hobatan pengetahuan bukan dipandang misal produk semata, tetapi dan terutama seagai proses;



b)




Anak didik dilatih lakukan terampil dalam memperoleh dan memproses informasi n domestik pikirannya sesuai dengan awalan-langkah metode ilmiah. Misalnya terampil privat observasi termasuk pengukuran (strata, pesek, tahun, ruang, berat) keterampilan mengklasifikasi termasuk membedakannya berdasarkan berbagai aspek (bagan, warna, berat dan sebagainya).

Petatar juga dilatih untuk membuat hipotesis dan mengujinya melintasi eksperimen. (Hendro Darmodjo dan Jenny R.E. Kaligis, 1992:38). Dengan mengembangkan kecekatan-ketangkasan memproseskan perolehan, anak asuh akan mampu menemukan dan berekspansi sendiri fakta dan konsep serta menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut. Dengan demikian, keterampilan-ketangkasan itu menjadi roda motor penemuan dan pengembangan sikap dan nilai. Seluruh musik gerak maupun tindakan dalam proses belajar mengajar sama dengan ini akan menciptakan kondisi cara belajar petatar aktif. Inilah sebenarnya yang dimaksud dengan pendekatan proses. (Conny Semiawan dkk, 1985 :18). Berdasarkan uraian di atas dapat dabir simpulkan bahwa yang dimaksud dengan pendekatan ketangkasan proses adalah kegiatan belajar mengajar dengan penajaman ekspansi keterampilan siswa tuntun intern memproses informasi sehingga ditemukan keadaan-peristiwa nan baru dan bermanfaat baik berupa fakta, konsep, sikap dan angka. Sehubungan dengan kerangka berpikir dalam pendekatan kelincahan proses bahwa pendekatan keterampilan proses dalam penataran IPA adalah suatu pendekatan dalam pembelajaran IPA (Fisika, biologi) itu terbentuk dan berkembang melalui suatu proses ilmiah yang pula harus dikembangkan oleh peserta didik laksana pengalaman yang bermakna nan menjadi pelepas perkembangan diri selanjutnya. Tujuan sparing berpunca pendekatan keterampilan proses ialah memperoleh pengetahuan suatu cara untuk melatih kemampuan-kemampuan intelektualnya dan merangsanag kemelitan serta dapat memotivasi kemampuan untuk meningkatkan pengetahuan yang bau kencur diperolehnya. (Lambang Subagiyo, 2002:1). Conny Semiawan dkk, merinci alasan nan melambari perlunya diterapkan pendekatan keterampilan proses kerumahtanggaan kegiatan belajar mengajar sehari-hari:



3)




Kronologi ilmu informasi berlantas semakin cepat sehingga tak kelihatannya kembali para guru mengajarkan semua fakta dan konsep kepada siswa. Untuk mengendalikan hal tersebut, siswa diberi pelepas keterampilan proses yang dapat mereka gunakan untuk memperoleh hobatan pengetahuan sonder tergantung dari guru.



4)




Para ahli psikologi lazimnya sejalan bahwa anak asuh-anak mudah memahami konsep-konsep yang rumit dan tanwujud jika disertai dengan arketipe-contoh konkrit, contoh-transendental yang wajar sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi, dengan mempraktekkan seorang upaya reka cipta konsep melalui perlakuan terhadap laporan awak, melalui penanganan benda-benda yang benar-benar nyata. Tugas guru bukanlah menyerahkan warta, melainkan menyiapkan hal menggiring anak bikin bertanya, memaki, mengadakan eksperimen, serta menemukan fakta dan konsep sendiri.



5)




Penemuan ilmu publikasi tidak berwatak mutlak ter-hormat seratus persen, penemuannya bersifat relatif. Suatu teori mungkin tampak dan ditolak setelah makhluk mendapatkan data baru yang berkecukupan membuktikan kekeliruan teori yang dianut. Muncul lagi, teori baru nan prinsipnya mengandung kebenaran yang relatif. Kalau kita hendak menanamkan sikap ilmiah plong diri anak, maka anak perlu dilatih untuk selalu menanya, nanang kritis, dan menjajakan peluang-kebolehjadian jawaban terhadap suatu masalah. Dengan congor lain anak asuh perlu dibina nanang dan bertindak kreatif.



6)




Dalam proses belajar mengajar seyogyanya pengembangan konsep tidak dilepaskan dari pengembangan sikap dan nilai n domestik diri anak anak didik.

Konsep disatu pihak serta sikap dan angka di lain pihak harus disatu kaitkan.

(Conny Semiawan dkk, 1985 : 15-16)


F. Kelincahan PROSES SAINS DAN DAP



DAP (Developmentally Appropiate Practice) adalah satu kerangka teoretis, suatu filosofis atau pendekatan bagaimana berinteraksi dan sandar-menyandar dengan anak (peserta didik). Menurut pendekatan ini, pengejawantahan pengetahuan adapun perkembangan murid didik atau hal-hal yang berkenaan bagi anak sekolah dasra ke dalam setiap implikasi praktis peluasan pengajaran, tidaklah bisa diabaikan. Bredekamp dalam Sumantri (2001) memunculkan bahwa konsep DAP menunjukkan bahwa pendekatan pengajaran nan berorientasi pada perkembangan anak itu mempunyai dua pemahaman. Permulaan dimensi umur (age appropriate) dan yang kedua yakni format individual (individual approppriate). Pemahaman atas urut-urutan pelajar didik bersama-sama keunikannya, akan dahulu dibutuhkan oleh guru dalam mengidentifikasikan rentang perilaku yang sekata (perilaku pada diri anak) sebagai tujuan yang dapat dicapai kerumahtanggaan pengajaran, kegiatan dan pengalaman berlatih yang tepat diciptakan, dan objek pengajaran nan sepadan bagi keramaian atma tertentu serta sistem evaluasi yang hendak digunakan.

Untuk mengetahui ketangkasan proses yang mana yang setuju untuk dikembangkan bagi siswa disesuaikan dengan karakteristiknya terutama usianya, maka berikut ini disajikan diagram akan halnya aliansi DAP dan Keterampilan Proses Sains seperti yang diungkapkan maka dari itu

J. Longfield, Jan. 2002 from Charlesworth & Lind. (1999).

DAP and Science Process Skills





Skill





Explanation




Connected Ideas






Basic


developmentally appropriate for age 5 and above




Observing




Using the senses (sight, smell, sound, touch, and taste) to gather information about the world around us.








most fundamental scientific process








first step in gathering information to solve a problem








reinforce skill by requiring carefully observation, noting specific phenomena that can be overlooked


Comparing & Contrasting



Looking at similarities and differences in real objects.








as children develop observation skills, they naturally begin to compare and contrast, and to identify similarities and differences








sharpens observation skills & is first step towards classifying








primary children begin to compare & contrast objects, ideas, concepts




Classifying




Grouping & sorting according to properties like size, shape, color, use, etc.








begins when children group & sort sungguhan objects








to group, children need to compare objects & develop subsets—a group that shares a common characteristic unique to that group








children initially group by one property








as children advance, objects or ideas are put together using two or more characteristics




Measuring




Quantitative description made through direct observation or indirectly with unit of measure.








can involve numbers, distances, time, volumes, temperature, etc.








placing objects in pesanan by sequence (seriation), length, shade, etc.


Communicating


Communicating ideas, directions, & descriptions orally or in written form so
others can understand what you mean.








refers to skill of describing a phenomenon








can be oral or written, also pictures, dioramas, maps, graphs, journals, reports








information must be collected, arranged, & presented in a way that helps others understand








encouraged when teachers ask children to keep logs, draw diagrams, graphs, or otherwise record an experiment they have conducted & observed


Intermediate

developmentally appropriate for ages 9-11 and above


Predicting




Making reasonable guesses or estimations based on observations and prior knowledge or experiences.








a statement about what you expect to happen








children need prior knowledge to make a reasonable prediction








prediction is important in developing understanding of cause & effect—appropriately introduced in primary grades as a “best guess”


Inferring



Based on observation but suggests more meaning
about a situation than can
be directly observed.








when children infer, they make observations, categorize them, try to give them meaning








unlike an observation, an inference is indirect








requires a reasonable assumption of prior knowledge








requires children to infer something unseen—–has titinada happened or cannot be observed—most appropriate for middle‑level grades


Advanced

developmentally appropriate for age 12 and above




Hypothesizing




Devising a statement, based on observations, to be tested by experiment.








statement of relationship that might exist between two variables——
If . . . then








more formal application than investigative questions children explore in pre-K-3








sahih scientific experiments contain a hypothesis & control variable(s)




Defining & Controlling Variables




Deciding which variables to study or control to conduct a controlled experiment.








in a baku experiment, variables are defined & controlled








Example: when investigating plant growth in the dark, must also grow a plant in the light


G. PENERAPAN KPS Internal SILABUS DAN RPP SAINS SD



Berikut ini disajikan contoh penerapan pendekatan Keterampilan Proses dan penelaahan Sain di Sekolah Dasar dilengkapi Silabus, RPP dan soal evaluasi.


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Mata Tutorial
: IPA

Satuan Pendidikan
: SD

Papan bawah/Semester
: IV/ II

Alokasi Waktu
:
3 X Pertemuan



Kriteria Kompetensi :

10. Memafhumi peralihan lingkungan awak dan pengaruhnya terhadap daratan.


Kompetensi Dasar :

10.1 Mendeskripsikan heterogen penyebab perubahan mileu fisik (angin, hujan angin,
panah, perian dan gelombang air laut).


Indikator :









10.1.1.




Menjelaskan perubahan lingkungan yang ditimbulkan oleh kilangangin kincir dan matahari terhadap daratan dan besar



10.1.2.




Menjelaskan perubahan lingkungan fisik yang ditimbulkan maka itu pengikisan lahan dan penanggulangannya



10.1.3.




Menjelaskan pertukaran lingkungan fisik yang ditimbulkan oleh erosi kilangangin kincir



10.1.4.




Menguraikan pertukaran jasmani yang ditimbulkan makanya pengikisan dan penggulangnnya



A. Tujuan Pembelajaran








Menyebutkan dan menjelaskan peralihan lingkungan








Menyebutkan dan mengklarifikasi perubahan mileu nan ditimbulkan oleh ngilu dan gunung meletus








Menyebutkan dan menguraikan persilihan mileu yang ditimbulkan maka dari itu sinar matahari dan hujan








Menyebutkan dan menjelaskan perlintasan mileu yang ditimbulkan maka itu angin
dan gelombang laut








Menyebutkan dan menjelaskan peralihan mileu yang ditimbulkan oleh longsor tanah dan aktifitas manusia








Menjelaskan dan menunjukkan terjadinya abrasi dan cara pencegahannya








Menguraikan dan menunjukkan peristiwa erosi dan cara pencegahannya


B. Materi Pokok/Materi penerimaan




Transisi Pengejawantahan Dunia

a. Perubahan lingkungan :








Daratan








Lautan

b. Penyebab transisi mileu :








Gempa dunia








Gunung meletus








Sinar matahari








Hujan








Angin dan gelombang laut








Longsor persil dan aktifitas manusia








Erosi








Abrasi


C. Metode Pendedahan

– Pendekatan : Ketangkasan Proses Sains


D. Anju-langkah kegiatan




1. Kegiatan Awal








Siswa dikondisikan ke dalam situasi belajar nan kondusif.








Sebagai apersepsi, guru meminta petatar mengamati dan membandingkan sejumlah bentuk kenampakan alam yang terwalak di kayu tulis. (basic skills
: pengamatan dan pengelompokkan).








Guru memasrahkan kesempatan kepada dua alias tiga orang siswa untuk mengemukakan pendapatnya mengenai hasil pengamatannya. (basic skills : communication)








Guru menghubungkan hasil pengamatan siswa dengan materi kenampakan alam yang pernah diperolehnya di kelas bawah 3 yang lalu.


2. Kegiatan Inti


Persuaan pertama



(


KPS nan dikembangkan ialah
basic skills ; observation, classification , communication, prediction
dan
inferring )








Guru mendemonstrasikan kegiatan yang menunjukkan proses terjadinya angin darat atau angin laut.








Siswa menyimak dan membentuk catatan penting mengenai kegiatan.








Guru memberi kesempatan kepada murid untuk mengajukan pertanyaan dan berdiskusi secara klasikal di dasar bimbingannya.








Siswa menyimak penjelasan guru mengenai materi tersebut kemudian mengijmalkan hasil kegiatan dengan pertolongan hawa.


Pertemuan kedua


(Keterampilan proses yang dikembangkan adalah keterampilan proses terintegrasi yaitu eksperimen menginjak dari tahap persiapan alat, pelaksanaan, pembuatan kesimpulan serta kemampuan menggambar laporan dan mengkomunikasikannya)








Siswa dibagi kedalam beberapa gerombolan yang terdiri berpunca 4-6 insan








Pesuluh melakukan kegiatan eksperimen tentang proses terjadinya pengikisan.








Siswa menciptakan menjadikan informasi dari hasil kegiatan tersebut dan melaporkannya di depan inferior secara bergantian.








Murid mempersoalkan hasil kegiatan dengan bantuan/bimbingan master.








Siswa menyimak penjelasan hawa untuk memperdalam materi yang didiskusikan tersebut.


Pertemuan ketiga

(Keterampilan proses yang dikembangkan adalah kemampuan siswa dalam mematangkan data, membuat tabel/susuk , membuat kliping dan mengkomunikasikan hasilnya)








Siswa sebelumnya ditugaskan bagi mengumpulkan mualamat berpangkal berbagai sarana mengenai transisi lingkungan baik yang disebabkan oleh alam atau maka itu insan.








Siswa mengelompokkan pergantian mileu tersebut dengan mewujudkan bagan atau tabel.








Petatar membuat kliping semenjak berbagai informasi nan diperolehnya secara berkelompok.








Siswa mengkomunikasikan hasil kegiatan secara tembikar di depan kelas dengan bantuan guru.


3. Kegiatan Akhir








Pesuluh menciptakan menjadikan goresan/resume buat setiap pertemuan








Guru mengarahkan siswa lakukan membuat inferensi dari setiap kegiatan pendedahan yang dilakukan di kelas.








Master memberikan tugas bikin diolah oleh pelajar di rumah, begitu juga : mengumpulkan informasi berpokok berbagai rupa media akan halnya perubahan tunggul, serta latihan tanya lakukan meningkatkan penguasaan konsep sains.


E. Sumber Belajar


– KTSP

– Sosi-kiat pelajaran IPA SD nan relevan

– Beraneka ragam media seperti koran, internet, dsb.


F.Penilaian Hasil Sparing

1. Teknik Penilaian

a.Tes lisan

b.Tes

tulisan

c. Pemeriksaan ulang muncul kerja

2. Matra penilaian

Format 1

Penilaian bagi Proses : Penanaman Konsep


No


Label Siswa


Pengetahuan


Keterampilan


Sikap

Kecermatan jawaban dalam tanya jawab

Mengajukan jawaban, pertanyaan dan pendapat

Kelancaran membaca

Jumlah skor

Biasanya

Keberanian

Keaktifan

Menghargai basyar lain

Jumlah poin

Rata-rata

Format 2

Penilaian untuk Proses : Kegiatan


No


Nama Pesuluh


Kecekatan


Sikap

Menyiapkan alat dan bahan

Melakukan kegiatan

Laporan hasil kegiatan

Kemampuan berdebat

Jumlah biji

Rata-rata

Kerjasama

Keaktifan

Menghargai orang lain

Memecahkan masalah

Keberanian berpresentasi

Jumlah ponten

Rata-rata

Matra 3

Penilaian buat Proses : Proyek


No


Keunggulan Petatar


Kesigapan


Sikap

Presisi

Ketangkasan menggali informasi

Menyususn Maklumat

Barang hasil proyek

Keterampilan
berpresentasi

Kuantitas skor

Umumnya

Kerjasama

Keaktifan

Menghargai orang lain

Memecahkan ki aib

Keberanian berpresentasi

Total skor

Rata-rata


Mengetahui,

Bandung, ……


Majikan Sekolah
Temperatur Inferior


(……………………..)
(…………………..)



Source: http://srihendrawati.blogspot.com/2009/10/pembelajaran-sains.html

Posted by: likeaudience.com