Analisis Masalah Pembelajaran Ipa Kelas Iv Sd Metode Eksperimen

(1)

commit to user

i

Kenaikan KEMAMPUAN Berlatih IPA Mengenai GAYA

DENGAN METODE EKSPERIMEN PADA Petatar KELAS V

SD NEGERI 2 TEGALGIRI NOGOSARI BOYOLALI

Perian AJARAN 2010-2011

SKRIPSI

Penajaman TINDAKAN Kelas bawah

Maka itu :

ROMDONI

NIM X1808048

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

Jamiah SEBELAS MARET

SURAKARTA

2011

(2)

commit to user

(3)

commit to user

(4)

commit to user

iv

Mujarad

Romdoni

. Peningkatan Kemampuan Berlatih IPA Tentang Mode Dengan

Metode Eksperimen Pada Siswa Kelas bawah V SD Negeri 2 Tegalgiri Nogosari

Boyolali Masa Ajaran 2010-2011. Skripsi. Surakarta: Fakultas Keguruan dan

Pedagogi. Perhimpunan Sebelas Maret. Surakarta. Juni 2011.

Adapun secara khusus penelitian ini berniat untuk: (1) Membuktikan bahwa

pengajian pengkajian eksperimen bisa meningkatkan kemampuan belajar tentang gaya

petatar SDN 2 Tegalgiri, Nogosari, Boyolali. (2) Menemukan obstruksi n domestik

metode eksperimen cak bagi meningkatkan kemampuan berlatih IPA mengenai gaya.

Penerapan metode eksperimen internal pendalaman tindakan inferior ini

ditempuh kerumahtanggaan dua siklus. Setiap siklus dilaksanakan dalam 3 x pertemuan.

Didalam setiap siklus tersebut terdapat empat tahap yaitu perencanaan,

pelaksanaan tindakan, pengamatan, serta analisis dan refleksi. Tindakan penelitian

dalam setiap siklus dilakukan dengan cara kasih pembelajaran dengan

metode eksperimen, dimana siswa dibagi intern kerumunan boncel, kemudian setiap

kerubungan berbuat percobaan/eksperimen koteng sehingga siswa akan bertambah

aktif dalam menirukan pembelajaran dan diakhiri dengan belas kasih konfirmasi pengunci

siklus.

Hasil nan diperoleh sesudah dilakukan penekanan tindakan adalah: (1)

keaktifan siswa menjadi makin meningkat jikalau dibandingkan dengan sebelumnya.

(2) persentase ketuntasan belajar pada akhir siklus I sudah hingga ke 80% , tetapi

rata-rata nilai pemeriksaan ulang baru menyentuh 66 sehingga perlu tindakan perbaikan pada siklus

II. Berdasarkan pengamatan terjadi pertambahan hasil belajar pada siklus II yaitu

mencapai 90% sementara itu rata-rata nilai menjadi 76. Tentang simpulan dari

eksplorasi ini yaitu penerapan metode eksperimen dalam pelajaran IPA khusunya

dapat meningkatkan keaktifan dan kinerja murid. Oleh karena itu disarankan agar

guru dapat menerapkan metode eksperimen n domestik materi yang tepat setiap

pendedahan.

(5)

commit to user

v

KATA PENGANTAR

Segala puji hanyalah milik Allah SWT. Sholawat dan salam hendaknya cerbak

tercurah kepada Rosulullah, keluarganya, dan para sahabatnya. Alhamdulillah atas

semua karunia dan hidayah-Nya dabir dapat menyusun Skripsi Pendalaman

Tindakan Inferior ini. Dalam kesempatan yang baik ini, carik mengahaturkan rasa

syukur dan penghormatan yang setinggi-tingginya serta perkataan terima anugerah yang

setulus-tulusnya kepada:

1.

Prof. Dr. H. M Furqon Hidayatullah, M.Pd. Dekan Fakultas Keguruan dan

Pedagogi Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2.

Drs. R. Indianto, M.Pd. Pengarah Jurusan Ilmu Pendidikan Fakultas Keguruan

dan Ilmu pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

3.

Drs. H. Hadi Mulyono, M.Pd. Superior Program Studi PGSD Fakultas Keguruan

dan Guna-guna Pendidikan Institut Sebelas Maret Surakarta.

4.

Dra. Rukayah, M.Hum. Dosen Penatar yang dengan kepala dingin membimbing

dan menodongkan sebatas selesainya penelitian ini

5.

Suyadi, S.Pd, Kepala SD Negeri 2 Tegalgiri Kecamatan Nogosari Kabupaten

Boyolali yang sudah memberikan ijin buat mengadakan investigasi di SD

Negeri 2 Tegalgiri ini.

6.

Semua pihak yang mutakadim mengasihkan saran, pendapat, dan celaan pada penulis

yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Sebagai insan jamak, tentu penulis masih banyak memiliki kekurangan

dalam penyusunan Studi Tindakan Kelas ini. Makanya karena itu dengan segala

keterbukaan penulis sangat mengharapkan akuisisi, saran, dan pendapat terbit

semua pihak guna perbaikan Penelitian Tindakan Kelas ini. Kesudahannya penulis

dulu mengharapkan semoga Pendalaman Tindakan Inferior ini akan dapat

memasrahkan kontribusi nan berupa bakal pembaca demi perbaikan dur

pendidikan di kapling air tercinta ini.

Nogosari, Mei 2011

Penulis

ROMDONI

(6)

commit to user

vi

DAFTAR ISI

Pekarangan JUDUL… i

HALAMAN PERSETUJUAN … ii

HALAMAN PENGESAHAN… iii

Niskala…iv

KATA PENGANTAR …v

DAFTAR ISI … vi

DAFTAR TABEL … viii

DAFTRA GAMBAR … ix

DAFTAR LAMPIRAN … x

BAB I PENDAHULUAN … 1

A.

Rataan Belakang Penyakit … 1

B.

Perumusan Masalah … 3

C.

Tujuan Penelitian … 3

D.

Manfaat Pengkhususan … 3

Portal II TINJAUAN PUSTAKA… 4

A.

Kajian Teori … 4

1.

Tinjauan mengenai berlatih … 4

2.

Tinjauan tentang Pengajian pengkajian IPA … 6

3.

Tinjauan mengenai gaya … 8

4.

Tinjauan mengenai metode eksperimen … 9

B.

Rajah Berfikir … 17

C.

Premis Tindakan … 17

Pintu III METODE Pengkajian … 18

A.

Pendekatan Penelitian … 18

B.

Ajang dan Perian Penelitian … 19

C.

Data dan Sumber Data … 21

D.

Teknik Pengurukan Data … 21

E.

Validitas Data … 22

(7)

commit to user

vii

G.

Penunjuk Kinerja/Keberhasilan … 23

H.

Prosedur Penelitian … 23

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN TINDAKAN … 26

A.

Diskripsi dan Lokasi Penelitian …26

B.

Diskripsi Prosedur Investigasi dan Hasil Penelitian…27

1.

Tindakan Siklus 1… 27

a.

Perencanaan … 27

b.

Tindakan … 29

c.

Pengamatan … 32

d.

Refleksi … 33

2.

Tindakan Siklus 2 … 38

a.

Perencanaan … 38

b.

Tindakan … 38

c.

Pengamatan … 43

d.

Refleksi … 44

C.

Pembahasan Hasil Penelitian … 48

Gerbang V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN … 52

A.

Simpulan … 52

B.

Implikasi … 52

C.

Saran … 53

(8)

commit to user

viii

DAFTAR TABEL

Tabel 1.

Jadwal Penyelidikan … 20

Tabel 2.

Jumlah Siswa – Siswi SD N 2 Tegalgiri… 26

Diagram 3.

Angka hasil Belajar IPA Kelas V SD N 2 Tegalgiri Sebelum

dilakukan tindakan … 28

Diagram 4.

Ponten hasil Belajar IPA Kelas bawah V SD N 2 Tegalgiri Siklus 1

Pertemuan ke 1 … 34

Tabel 5.

Frekwensi Ceceran Poin Hasil Belajar Siswa dengan Kelas

Interval Siklus 1 Pertemuan ke 1 … 34

Tabel 6.

Nilai hasil Belajar IPA Kelas V SD Falak 2 Tegalgiri Siklus 1

Perjumpaan ke 2 … 35

Tabel 7.

Frekwensi Brosur Biji Hasil Belajar Pesuluh dengan Kelas

Interval Siklus 1 Pertemuan ke 2 … 35

Tabel 8.

Nilai hasil Belajar IPA Papan bawah V SD N 2 Tegalgiri Siklus 1

Pertemuan ke 3 … 36

Tabel 9.

Frekwensi Edaran Nilai Hasil Belajar Pelajar dengan Inferior

Interval Siklus 1 Perjumpaan ke3 … 36

Tabulasi 10.

Ponten hasil Belajar IPA Papan bawah V SD N 2 Tegalgiri Pertemuan

Pertama Siklus 2 … 45

Tabel 11.

Frekwensi Sebaran Nilai Hasil Berlatih Siswa dengan Kelas

Jeda Siklus2 Pertemuan ke 1 … 45

Diagram 12.

Nilai hasil Berlatih IPA Kelas V SD Falak 2 Tegalgiri Pertemuan 2

Siklus 2 … 46

Tabel 13.

Frekwensi Serakan Ponten Hasil Belajar Pelajar dengan Kelas

Interval Siklus2 Perjumpaan ke 2 … 46

Tabel 14.

Nilai hasil Membiasakan IPA Kelas V SD N 2 Tegalgiri Pertemuan 3

Siklus 2 … 47

Tabel 15.

Frekwensi Sebaran Skor Hasil Membiasakan Siswa dengan Kelas

(9)

commit to user

ix

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.

Kerangka Berfikir … 17

Gambar 2.

Pertalian Langkah Tindakan … 19

Tulangtulangan 3.

Teknik Kajian Data … 22

Gambar 4.

Prosedur Pengkhususan Siklus I dan II … 25

Rancangan 5.

Grafik tingkat ketuntasan lega siklus I … 37

(10)

commit to user

x

DAFTAR Pelengkap

Lampiran 1. RPP Siklus 1 … 56

Pelengkap 2. RPP Siklus 2 … 65

Lampiran 3. Daftar Kredit Tes Sebelum Tindakan … 84

Lampiran 4. Pendapat Siswa Sebelum Tindakan … 85

Lampiran 5. Instrumen Penilian Pelaksanaan PTK Pada Proses Pembelajaran di Kelas Siklus 1 Perjumpaan ke 1 … 86

Lampiran 6. Lawai Observasi Aktifitas Belajar Siswa Siklus 1 Perjumpaan ke 1 … 88

Pelengkap 7. Lembar Observasi Kegiatan Suhu privat Penelaahan Siklus 1 Pertemuan ke 1 … 90

Adendum 8. Lembar Observasi Aktifitas dalam pembelajaran … 91

Lampiran 9. Lembar Pengamatan Pelaksanaan PTK Siklus 1 Perjumpaan ke 1 … 92

Suplemen 10. Nilai Verifikasi Siklus 1 Perjumpaan ke 1 … 93

Lampiran 11. Pendapat Siswa Siklus 1 Perjumpaan ke 1 … 94

Lampiran 12. Perkakas Penilian Pelaksanaan PTK Lega Proses Pembelajaran di Papan bawah Siklus 1 Pertemuan ke 2 … 95

Lampiran 13. Benang Observasi Aktifitas Berlatih Siswa Siklus 1 Pertemuan ke 2 … 97

Lampiran 14. Lawe Observasi Kegiatan Guru intern Penelaahan Siklus 2 Perjumpaan ke 1 … 99

Adendum 15. Lembar Observasi Atifitas Siswa dalam Pembelajaran… 100

Komplemen 16. Benang Pengamatan Pelaksanaan PTK Siklus 1 Pertemuan ke 2 … 101

Komplemen 17. Instrumen Penilian Pelaksanaan PTK Pada Proses Pendedahan di Kelas Siklus 1 Pertemuan ke 3 … 102

Komplemen 18. Lembar Observasi Aktifitas Belajar Siswa Siklus 1 Pertemuan ke 3 … 104

Lampiran 19. Lembar Observasi Kegiatan Guru intern Pembelajaran Siklus 3 Pertemuan ke 3 … 106

Adendum 20. Lembar Observasi Aktifitas Siswa internal Penataran… 107

Lampiran 21. Lembar Pengamatan Pelaksanaan PTK Siklus 1 Pertemuan ke 3 … 108

Lampiran 22. Poin Konfirmasi Siklus 1 Pertemuan ke 3 … 109

Lampiran 23. Pendapat Siswa Siklus 1 Persuaan ke 3 … 110

Adendum 24. Perangkat Penilian Pelaksanaan PTK Pada Proses Pembelajaran di Papan bawah Siklus 2 Persuaan ke 1 … 111

(11)

commit to user

xi

Lampiran 26. Lembar Observasi Kegiatan Guru n domestik Pembelajaran Siklus 2

Pertemuan ke 1 … 115

Lampiran 27. Tali Observasi Aktifitas Pelajar … 116

Apendiks 28. Tali Pengamatan Pelaksanaan PTK Siklus 2 Pertemuan ke 1 … 117

Lampiran 29. Nilai Tes Siklus 2 Persuaan ke 1 … 118

Lampiran 30. Pendapat Pesuluh Siklus 2 Pertemuan ke 1 … 119

Lampiran 31. Hasil Penilaian sreg Siklus 2 … 120

Lampiran 32. Radas Penilian Pelaksanaan PTK Pada Proses Pengajian pengkajian di Papan bawah Siklus 2 Pertemuan ke 2 … 121

Pelengkap 33. Nilai Pengecekan Perjumpaan 2 Siklus 2 … 123

Suplemen 34. Lembar Observasi Aktifitas Belajar Siswa Siklus 2 Pertemuan ke 2 … 124

Lampiran 35. Lembar Observasi Kegiatan Guru dalam Penerimaan Siklus 2 Perjumpaan ke 2 … 126

Suplemen 36. Lembar Observasi Aktifitas Siswa … 127

Komplemen 37. Lembar Pengamatan Pelaksanaan PTK Siklus 2 Persuaan ke 2 … 128

Lampiran 38. Pendapat Murid Siklus 2 Pertemuan ke 2 … 129

Adendum 39. Alat Penilian Pelaksanaan PTK Lega Proses Pembelajaran di Kelas Siklus 2 Pertemuan ke 3 … 130

Apendiks 40. Lembar Observasi Aktifitas Belajar Murid Siklus 2 Pertemuan ke 3 … 132

Pelengkap 41. Makao Observasi Kegiatan Guru dalam Pengajian pengkajian Siklus 2 Pertemuan ke 3 … 134

Pelengkap 42. Tali Aktivitas Siswa … 135

Lampiran 43. Benang Pengamatan Pelaksanaan PTK Siklus 2 Perjumpaan ke 3 … 136

Lampiran 44. Skor Tes Siklus 2 Pertemuan ke 3 … 137

Lampiran 45. Pendapat Murid Siklus 2 Persuaan ke 3 … 138

Lampiran 46. Daftar Memoar Peneliti … 139

(12)

commit to user

1

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar Bokong Kebobrokan

Di dalam kegiatan pembelajaran berlangsung suatu proses pembelajaran

dan evaluasi kerjakan mendapat hasil belajar mengajar nan berkualitas diharapkan

kedua proses tersebut hendaknya dikelola dan dilaksanakan dengan baik dan

berjasa. Suatu proses pengajaran dikatakan berbuntut bila terjadi strukturisasi kejadian

pertukaran tingkah laku murid.

Sebagai halnya kadar intern Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun

2005 tentang Barometer Kebangsaan Pendidikan, setiap sekolah mengembangkan

Kurikulum Tingkat Rincih Pendidikan beralaskan Kriteria Kompetensi Eks

(SKL) dan Standar Isi (Sang) dan berpedoman kepada panduan yang ditetapkan maka dari itu

Badan Standar Nasional Pendidikan (KTSP) terdiri atas dua bagian, yakni putaran

pertama konkret Panduan Umum dan adegan kedua Model KTSP.

Panduan publik memuat pedoman dan tonggak-rambu nan wajib diacu,

dijabarkan bersumber bermacam-macam ketentuan-ketentuan tentang kurikulum yang terdapat

internal UU No. 20 tahun 2003 dan PP No. 19 musim 2005, serta aturan sreg

umumnya yang bertindak dalam mengembangkan kurikulum. Panduam publik

diterbitkan terpisah dari model KTSP. Ketengan pendidikan yang telah melakukan

uji coba kurikulum 2004 secara menyeluruh diperkirakan berlambak secara mandiri

mengembangkan kurikulumnya berdasar SKL, SI dan Panduan Mahajana. Sesuai

dengan peraturan pemerintah tersebut maka sekolah bertanggung jawab cak bagi

meningkatkan kualitas pendidikan menurut jenjangnya. Keadaan itu yang mewujudkan

setiap pelaku pendidikan harus merasa berkewajiban membawa perubahan yang

menuju kepada keberhasilan setiap anak didiknya.

Salah suatu mata pelajaran yang terserah di SDN 2 Tegalgiri nan wajib

ditingkatkan kualitasnya yaitu Aji-aji Pengumuman Alam ataupun Sains terutama

mengenai gaya nilainya sangat sedikit. Hal ini terlihat dari siswa nan tuntas

belajar cuma 3 siswa dari jumlah keseluruhan 10 petatar. Kriteria ketuntasan

minimum (KKM) bagi ain tutorial IPA SD Provinsi 2 Tegalgiri adalah 6,0.

(13)

commit to user

Prestasi berlatih yang demikian tentunya banyak penyebabnya, antara bukan

karena siswa kurang tertarik pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Standard sebab

bahan kajiannya banyak, karena kurangnya organ peraga dan sarana yang

kondusif, karena temperatur kurang menjajarkan pelajar, dan pula kurangnya kreatifitas

pemilihan metode dan pemanfaatan perangkat peraga, atau karena mileu

publik yang adv minim kontributif.

Mudah-mudahan siswa merasa senang dalam pembelajaran Sain maka harus dipilih

metode pembelajaran yang cocok sepatutnya menuju Pembelajaran aktif, kreatif, efektif

dan menghilangkan. Salah suatu berpangkal pembelajaran tersebut ialah menggunakan

metode eksperimen. Karena metode tersebut jika dilaksanakan secara

bersungguh-alangkah akan dapat menumbuhkan kecintaan anak-momongan terhadap pembelajaran

Aji-aji Informasi Liwa tentang gaya.

Eksperimen atau percobaan adalah suatu tuntutan dari jalan ilmu

pengetahuan dan teknologi agar menghasilkan suatu barang nan dapat dinikmati

masyarakat secara aman. Eksperimen dilakukan orang moga diketahui kebenaran

gejala dan bisa menguji dan mengembangkannya menjadi suatu teori (Mulyani

Sumantri, 2001: 135).

Berdasarkan kondisi tersebut peneliti tergerak bagi mengerjakan pendalaman

tindakan kelas bawah dengan judul Kenaikan Kemampuan Belajar Adapun Gaya

Dengan Metode Eksperimen Pada Peserta Kelas V SD Kawasan 2 Tegalgiri

Nogosari Boyolali.

B.

Perumusan Penyakit

Berdasarkan jabaran dari satah pantat masalah di atas banyak muncul

permasalahan nan ada di tanah lapang. Permasalahan yang ada dalam penelitian

dapat dirumuskan sebagai berikut:

1.

Dapatkah pembelajaran eksperimen meningkatkan kemampuan membiasakan akan halnya

gaya lega pelajar kelas V SDN 2 Tegalgiri, Nogosari, Boyolali?

2.

Adakah rintangan bagi meningkatkan kemampuan belajar adapun gaya

melintasi pembelajaran eksperimen?

(14)

commit to user

C.

Tujuan Pendalaman

Nan menjadi tujuan pelaksanaan penggalian tindakan kelas ini merupakan

meningkatkan kemampuan belajar tentang gaya melalui pembelajaran eksperimen

pada siswa kelas V SDN 2 Tegalgiri, Nogosari, Boyolali.

Mengenai secara idiosinkratis penelitian ini bertujuan bikin:

1.

Meningkatkan kemampuan membiasakan mengenai tren siswa SDN 2 Tegalgiri,

Nogosari, Boyolali.

2.

Menemukan hambatan dalam metode eksperimen untuk meningkatkan

kemampuan belajar IPA mengenai tendensi.

D.

Kemujaraban Penelitian

1.

Manfaat Teoritis

Bersumber hasil pendalaman ini diharapkan bisa memberikan manfaat umpama

berikut:

a.

Diharapkan

boleh

menyerahkan

sumbangan

bagi

jalan

pendidikan, terutama dapat meluaskan khasanah ilmu tentang

peningkatan kemampuan sparing akan halnya mode melangkahi pembelajaran

eksperimen.

b.

Diharapkan dapat menjadi bahan proporsi untuk pengkaji lain yang

terkait dengan eksplorasi ini.

2.

Manfaat Praktis

a.

Pelajar:

Meningkatnya kemampuan belajar tentang gaya dengan metode

penelaahan eksperimen.

b.

Guru:

Berkembangnya penguasaan metode penelaahan yang tepat dalam

pembelajaran tentang gaya di kelas V.

c.

Sekolah:

Laksana sempurna kerumahtanggaan meningkatkan prestasi IPA kelas bawah V SDN 2 Tegalgiri,

Nogosari, Boyolali.

(15)

commit to user

Gapura II

TINJAUAN PUSTAKA

A.

Kajian Teori

1.

Tinjauan tentang Sparing.

a.

Konotasi Belajar

Forrest W. Parkay dan Beverly Hardeastle Stanford (1992) kerumahtanggaan

Nabisi Lapono, dkk (2009: 1-14) mendefinisikan belajar sebagai kegiatan

perebusan informasi, takhlik penalaran, mengembangkan pemahaman dan

meningkatkan penundukan kecekatan dalam proses pendedahan.

Menurut Slameto (1995) dalam Ingridwati Faedah, dkk (2007: 1-3)

belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh

perubahan tingkah laris secara keseluruhan andai hasil camar duka individu

kerumahtanggaan interaksi dengan lingkungannya. Sementara Winkel (1989) kerumahtanggaan

Ingridwati Kurnia, dkk (2007: 1-3) mendefinisikan membiasakan sebagai suatu

proses kegiatan mental pada diri seseorang yang berlangsung dalam interaksi

aktif bani adam dengan lingkungannya, sehingga menghasilkan perubahan nan

nisbi bermukim/bertahan dalam kemampuan ranah kognitif, afektif, dan

psikomotorik.

Membiasakan ialah suatu proses propaganda nan dilakukan seseorang untuk

memperoleh satu persilihan tingkah larap nan hijau secara keseluruhan,

sebagai hasil pengalamannya sendiri intern interaksi dengan lingkungannya.

(http://wawan-junaidi.blogspot.com/2009/10/signifikasi-belajar.html diakses

10 Januari 2011).

Membiasakan adalah suatu aktivitas yang dilakukan secara siuman cak bagi

mendapatkan sejumlah kesan semenjak bahan yang sudah dipelajari ( Bari Djamarah,

1994: 21). Menurut James O. Wittaker belajar dapat didefinisikan ibarat

proses dimana tingkah laris ditimbulkan alias diubah menerobos latihan ataupun

camar duka. (http://membuatblog.web.id/2010/08/signifikasi-berlatih efektif.

html diakses 10 Januari 2011)

(16)

commit to user

B.F. Skinner n domestik Nabisi Lapono, dkk (2009: 1-5) berpendapat

bahwa belajar menghasilkan perubahan perilaku yang diamati, semenjana perilaku

dan belajar diubah oleh kondisi mileu. Pembelajaran bisa diartikan

sebagai upaya membuat sosok belajar, yang dirumuskan Robert W. Gagne

(1977) dalam Nabisi Lappono, dkk (2009: 1-14) sebagai pengaturan peristiwa

yang terserah di asing diri seseorang peserta didik, dan dirancang serta

dimanfaatkan bagi melincirkan proses belajar.

Delors dalam Ingridwati Kurnia, dkk (2007: 1-3) menyingkapkan

konsep belajar sepanjang hayat (

life long learning

) dan belajar bagaimana

belajar (

learning how to learn

). Konsep ini bertumpu sreg empat pilar

pembelajaran yaitu:

1.

Learning to know

(sparing mengetahui) dengan memadukan pengetahuan

umum yang sepan luas dengan kesempatan buat bekerja melalui

kemampuan membiasakan bagaimana caranya belajar sehingga diperoleh

keuntungan terbit peluang-kemungkinan pendidikan sejauh arwah nan

tersedia;

2.

Learning to do

(membiasakan berbuat) lain saja untuk memperoleh suatu

keterampilan kerja belaka sekali lagi untuk mendapatkan kompetensi berkenaan

dengan bekerja internal keramaian dan heterogen kondisi sosial nan informal;

3.

Learning to be

(belajar menjadi dirinya) dengan lebih menyadari kekuatan

dan keterbatasan dirinya, dan terus menerus melebarkan pertimbangan

berdasarkan barang bawaan jawab pribadi.

4.

Learning

to live together

(membiasakan hayat bersama) dengan cara

berekspansi signifikansi dan kemampuan bagi boleh kehidupan bersama

dan bekerjasama dengan orang lain dalam masyarakat global yang semakin

pluralistik secara damai dan harmonis, yang didasari dengan nilai-nilai

demokrasi,

perdamaian,

hak

asasi

manusia,

dan

pembangunan

berkelanjutan.

Berdasarkan pendapat di atas boleh disimpulkan bahwa membiasakan

yaitu proses berguna bagi peralihan perilaku manusia dan ia mencengam

segala sesuatu yang dipikirkan dan tergarap. Belajar memegang peranan

(17)

commit to user

signifikan di kerumahtanggaan perkembangan, adat, sikap, kenyakinan, maksud,

kepribadian dan apalagi persepsi manusia

b.

Model Pengajian pengkajian

Menurut Joyce dan Weil n domestik Soli Abimanyu dkk (2009: 2-4) Model

pendedahan adalah lembaga konseptual nan mengilustrasikan prosedur nan

sistematis n domestik mengorganisasikan pengalaman belajar buat mencapai

harapan belajar tertentu yang berfungsi sebagai pedoman bakal para ahli grafis

pendedahan dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan

aktivitas pembelajaran.

Kamil pembelajaran sebagai suatu rancangan alias pola nan digunakan

n domestik mengatur materi pembelajaran dan menjatah wahyu kepada pengajar

di kelas dalam setting indoktrinasi. Cermin penataran merupakan kerangka

cermin nan mencitrakan prosedur yang sistematis kerumahtanggaan pengorganisasian

asam garam belajar bikin mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi

perumpamaan pedoman kerjakan para perancang pendedahan dan para pengajar dalam

merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar.

(http://penddk.inyouge.com/modelpembelajaran.html. diakses 10 Januari

2011).

Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran

adalah rencana, acuan nan digunakan dalam mengatur kegiatan guru dan

peserta didik yang menunjukkan adanya interaksi antara unsur-elemen yang

terkait dalam pembelajaran.

2.

Tinjauan tentang Pembelajaran IPA

Hakikat IPA Galakan kepingin senggang telah terpelajar secara kodrati

mendorong turunan mengherani dan mempercayai adanya keterampilan pada

alam. Hal ini memurukkan munculnya sekelompok orang berfikir. Pemikiran

dilakukan secara terpola sehingga dipahami maka dari itu orang lain. Dorongan cak hendak tahu

meningkat kerjakan mencari kepuasan dan penggunaannya. Penciptaan yang dapat

diuji kebenarannya makanya manusia lain dapat dituruti secara mondial. Dengan

demikian terbit embaran akan berkembang menjadi ilmu pengetahuan.

Perolehan yang didapat melalui percobaan, didukung oleh fakta menggunakan

(18)

commit to user

metode berfikir secara sistematis bisa diterima sebagai ilmu amanat yang

selanjutnya disebut produk, sementara itu anju-langkah dilakukan ialah

satu proses. Persiapan-awalan atau proses ditempuh dalam mengembangkan ilmu

menjadi cara atau metode memungkinkan berkembangnya pengetahuan. Ada

hubungan antara fakta dan gagasan. Konseptual membereskan masalah dengan

menggunakan metode ilmiah dianut basyar secara mahajana. Anak adam yang terbiasa

menggunakan metode ilmiah berarti mempunyai sikap ilmiah. (Wahyana, 1977:

291-293)

Menurut Hendro Darmodjo dan Kaligis (1991: 3-5) IPA dapat dipandang

sebagai satu proses semenjak upaya manusia kerjakan memahami bermacam ragam gejala alam.

Kerjakan itu diperlukan cara tertentu yang sifatnya analisis, gemi, arketipe dan

mencantumkan gejala alam yang satu dengan gejala alam yang lain. IPA bisa

dipandang sebagai suatu komoditas berpokok upaya manusia memahami berbagai gejala

pan-ji-panji. IPA dapat pula dipandang sebagai fakta nan menyebabkan sikap dan

pandangan nan mitologis menjadi sudut pandang ilmiah. Ain pelajaran IPA

merupakan acara lakukan menanamkan dan mengembangkan keterangan,

ketrampilan, sikap dan nilai ilmiah pada siswa serta rasa menganakemaskan dan

menghargai keluhuran Tuhan Yang Maha Esa. Pelajaran IPA tidak semata-mata

memberi pengumuman tentang IPA pada pesuluh, tetapi juga ikut membina

fiil anak. Mata kursus IPA berfungsi bikin:

a.

Memberi pengetahuan tentang berbagai spesies dan mileu alam dan

lingkungan internal kaitan dengan manfaatnya cak bagi kehidupan sehari-waktu.

b.

Mengembangkan keterampilan proses.

c.

Meluaskan wawasan sikap dan skor yang penting untuk murid buat

meningkatkan kualitas umur sehari-hari.

d.

Mengembangkan kesadaran adapun adanya persaudaraan yang ubah

mempengaruhi antara kemajuan IPA dan teknologi.

e.

Meluaskan kemampuan untuk menerapkan pengetahuan dan teknologi

(IPTEK) serta keterampilan yang berfaedah dalam atma sehari-hari

ataupun kerjakan melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih janjang.

(Depdikbud, 1997: 87) Keadaan nan penting diperhatikan guru privat

(19)

commit to user

pembelajaran IPA adalah berusaha agar peserta masuk aktif privat proses

pembelajaran.

3.

Tinjauan tentang Gaya

a.

Pengertian Gaya

Gaya atau kuku merupakan apapun yang dapat menyebabkan sebuah

benda

bermassa

mengalami

percepatan

(http://id.wikipedia.org/wiki/

gaya_(fisika) diakses 10 Januari 2011).

Kecondongan adalah tarikan dan dorongan (Depdikbud, 1995: 82), dalam mata

pelajaran IPA kelas bawah V semester 2 plong kompetensi sumber akar 5.1 mendeskripsikan

pertautan antara gaya menggisil, gerak dan energi melalui percobaan (gaya

gravitasi, tren gesek, gaya magnet). Berdasarkan pengertian gaya di atas

dalam penelitian ini, tendensi yaitu keadaan apapun yang dapat menyebabkan

sebuah benda bermassa mengalami percepatan yang berupa gaya besi sembrani, kecenderungan

gravitasi dan gaya rabaan

b.

Diversifikasi-variasi Gaya

Menurut Haryanto (2004: 109) bahwa kecondongan dibagi menjadi tiga jenis,

yaitu gaya magnet, tren gaya berat, dan gaya rabaan.

1.

Gaya Magnet

Gaya besi berani menurut Haryanto (2004: 109) adalah gaya nan

ditimbulkan oleh voltase atau dorongan besi sembrani. Gaya besi sembrani bisa

menembus bendan nonmagnetis. Kekuatan mode tarik magnet dipengaruhi

maka itu (a) ketebalan benda nan menjadi pengempang antara magnet dengan

benda magnetis, dan (b) jarak magnet dengan benda magnetis.

Distrik tertentu disekitar magnet nan dipengaruhi oleh kecenderungan tarik

magnet disebut bekas magnet. Palagan inilah nan menyebabkan

terbentuknya arketipe tertentu. Ideal tersebut disebut garis-garis mode magnet.

Garis-garis tersebut saling bersabung di ujung kedua kutub besi sembrani. Gaya

tarik magnet nan paling kuat terdapat di bagian kutubnya. Magnet

memiliki dua kutub, yaitu oponen paksina dan inversi kidul. Dua kutub

magnet yang senama akan dorong-menolak. Dua kutub magnet yang lain

senama akan tarik menarik.

(20)

commit to user

2.

Gaya Gaya tarik bumi

Apa benda boleh jebluk mendekati bumi katena bumi menarik benda

tersebut. Gaya tarik bumi dinamakan gaya gravitasi. Mode inilah yang

menarik semua benda jatuh menuju manjapada. Gerak drop disebabkan oleh

tendensi gravitasi disebut gerak roboh independen.

3.

Kecenderungan Gesekan

Kecenderungan gesekan merupakan rintangan yang terjadi ketika dua permukaan

benda ubah bersentuhan (Haryanto, 2004: 109). Manfaat mode gesekan:

(1) Membantu benda bergerak tanpa terlulur, (2) Cak bagi menghentikan

benda yang menengah bergerak, (3) Menahan benda-benda agar lain

mengesot.

Ketakberuntungan mode sentuhan adalah membancang gerakan, mengerok

permukaan dan memboroskan energi. Kerjakan mengurangi kerugian nan

ditimbulkan, gaya gesekan dapat diperkecil dengan menggunakan sepeda,

bantalan peluru, pelumasan, serta menghaluskan permukaan benda.

Berdasarkan tinjauan tentang gaya di atas disimpulkan bahwa mode

yaitu keadaan apapun nan dapat menyebabkan sebuah benda bermassa

mengalami percepatan yang berupa gaya besi berani, tendensi gaya berat dan gaya

senggolan. Gaya sekali lagi bermanfaat dalam arwah basyar sehari-hari.

4.

Tinjauan tentang Metode Eksperimen

a.

Pengertian Metode Eksperimen

Metode Eksperimen atau percobaan adalah metode karunia kesempatan

kepada anak jaga perorangan atau kelompok, untuk dilatih mengerjakan suatu

proses atau percobaan. Menurut Mulyani Sumantri (2001: 135) Eksperimen

ataupun percobaan merupakan suatu tuntutan berpunca kronologi ilmu kabar

dan teknologi agar menghasilkan suatu produk nan dapat dinikmati

awam secara kesatuan hati. Eksperimen dilakukan sosok agar diketahui

kebenaran gejala dan dapat menguji dan mengembangkannya menjadi suatu

teori.

(21)

commit to user

Syaiful Bahri Djamarah, (2000) Metode percobaan yaitu suatu metode

mengajar nan menggunakan tertentu dan dilakukan bertambah dari suatu bisa jadi.

Misalnya di Laboratorium. Menurut Roestiyah (2001:80) Metode eksperimen

adalah suatu cara mengajar, di mana murid melakukan suatu percobaan mengenai

sesuatu hal, mengamati prosesnya serta menuliskan hasil percobaannya,

kemudian hasil pengamatan itu disampaikan ke kelas dan dievaluasi maka dari itu guru.

(http://www.nilaieka.blogspot.com diakses 9 Januari 2011).

Menurut Schoenherr (1996) yang dikutip oleh Palendeng (2003:81)

metode eksperimen adalah metode yang sesuai bikin pendedahan sains,

karena metode eksprimen mampu memberikan kondisi belajar yang dapat

mengembangkan kemampuan berfikir dan kreativitas secara optimal. Siswa

diberi kesempatan untuk menyusun koteng konsep-konsep dalam struktur

kognitifnya, selanjutnya dapat diaplikasikan privat kehidupannya.

(http://www.nilaieka.blogspot.com diakses 9 Januari 2011).

Metode eksperimen menurut Djamarah (2002:95) merupakan cara pengutaraan

pelajaran, di mana siswa melakukan percobaan dengan mengalami sendiri

sesuatu nan dipelajari. Dalam proses berlatih mengajar, dengan metode

eksperimen, murid diberi kesempatan untuk mengalami seorang atau

mengerjakan sendiri, mengikuti satu proses, mengamati suatu obyek, keadaan

atau proses sesuatu. Dengan demikian, siswa dituntut bakal mengalami

sendiri, mencari keabsahan, maupun mencoba mencari suatu hukum atau dalil, dan

menarik kesimpulan dari proses yang dialaminya itu.

(http://www.nilaieka.blogspot.com diakses 9 Januari 2011).

Metode Eksperimen menurut Al-farisi (2005:2) adalah metode yang

bertitik n sogokan dari suatu masalah nan hendak dipecahkan dan dalam prosedur

kerjanya

berpegang

lega

prinsip

metode

ilmiah.

(http://www.nilaieka.blogspot.com diakses 9 Januari 2011).

Adapun menurut Sagala, Sumantri dan Permana dalam (Soli Abimanyu,

2009: 7-17) eksperimen adalah percobaan untuk membuktikan satu

pertanyaan atau hipotesis. Kegiatan eksperimen nan dilakukan murid didik

usia sekolah bawah merupakan kesempatan meneliti nan dapat menolak

(22)

commit to user

mereka mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri, berfikir ilmiah dan

rasional serta lebih lanjut pengalamannya itu bisa berkembang di masa cak bertengger.

Metode eksperimen alias percobaan diartikan sebagai cara sparing mengajar

yang mengikutsertakan petatar bimbing dengan mengalami dan membuktikan sendiri

proses dan hasil percobaan itu.

Jadi metode eksperimen adalah mandu membiasakan mengajar di mana anak

membuktikan atau berburu jawaban semenjak soal atau premis dengan

membuktikan sendiri melangkahi percobaan atau eksperimen.

b.

Tujuan Metode Eksperimen

Pemanfaatan teknik ini mempunyai tujuan agar pesuluh subur berburu

dan menemukan sendiri berbagai jawaban atau persoalan-persoalan yang

dihadapinya dengan mengadakan percobaan sendiri. Kembali pelajar boleh terdidik

dalam cara berfikir nan ilmiah. Dengan eksperimn siswa menemukan bukti

kebenaran berusul teori sesuatu nan sedang dipelajarinya.

Menurut Mulyani Sumantri (2001: 135), tujuan pecah metode

eksperimen ini ialah:

1) Hendaknya siswa didik mampu menyimpulkan fakta-fakta, informasi ataupun data

yang diperoleh.

2) Melatih pesuluh didik merancang, mempersiapkan, melaksanakan dan

melaporkan percobaan.

3) Melatih peserta pelihara menunggangi ilmu mantik berfikir induktif untuk menarik

penali bersumber fakta, informasi atau data yang terpumpun melampaui

percobaan.

c.

Tahap-tahap Metode Eksperimen

Pembelajaran dengan metode eksperimen menurut Palendeng (2003:

82) membentangi tahap-tahap andai berikut

(http://nilaieka.blogspot.com

diakses

9 Januari 2011)

:

1) Percobaan tadinya, pembelajaran diawali dengan melakukan percobaan yang

didemonstrasikan guru maupun dengan menuding fenomena alam.

Protes ini menampilkan masalah-masalah yang berkaitan dengan

materi fisika yang akan dipelajari.

(23)

commit to user

2) Pengamatan, merupakan kegiatan peserta momen guru berbuat percobaan.

Siswa diharapkan bakal mengamati dan mengingat-ingat peristiwa tersebut.

3) Hipoteis mulanya, siswa dapat merumuskan hipotesis sementara berdasarkan

hasil pengamatannya.

4) Pengecekan, kegiatan buat membuktikan kebenaran berpokok hipotesis awal yang

sudah lalu dirumuskan dan dilakukan melangkahi kerja kelompok. Murid diharapkan

merumuskan hasil percobaan dan menciptakan menjadikan kesimpulan, selanjutnya dapat

dilaporkan balasannya.

5) Aplikasi konsep, sehabis siswa merumuskan dan menemukan konsep,

hasilnya diaplikasikan kerumahtanggaan kehidupannya. Kegiatan ini merupakan

penstabilan konsep yang telah dipelajari.

6) Evaluasi, merupakan kegiatan akhir setelah selesai satu konsep.

Penerapan pembelajaran dengan metode eksperimen akan kontributif

siswa buat memahami konsep. Kognisi konsep dapat diketahui apabila

murid mampu mencadangkan secara lisan, tulisan, maupun tuntutan dalam

kehidupannya. Dengan pembukaan lain, peserta memiliki kemampuan untuk

mengklarifikasi, menamakan, memasrahkan hipotetis, dan menerapkan konsep

terkait dengan kancing bahasan.

Agar penggunaan metode eksperimen itu efisien dan efektif, maka

perlu diperhatikan keadaan-hal andai berikut:

1)

Internal eksperimen setiap siswa harus mengadakan percobaan, maka

jumlah perkakas dan target atau materi percobaan harus layak bagi tiap siswa.

2)

Agar eksperimen itu tidak gagal dan siswa menemukan bukti yang

meyakinkan, maupun kelihatannya hasilnya tidak membahayakan, maka kondisi

alat dan mutu bahan percobaan nan digunakan harus baik dan nirmala.

3)

N domestik eksperimen peserta wajib teliti dan pemusatan dalam mengamati

proses percobaan, maka perlu adanya tahun yang memadai lama, sehingga

mereka menemukan testimoni validitas berpangkal teori yang dipelajari itu.

4)

Petatar dalam eksperimen merupakan sedang belajar dan berlatih , maka perlu

diberi nubuat nan jelas, sebab mereka disamping memperoleh

pengetahuan, asam garam serta ketrampilan, pun kedewasaan jiwa dan

(24)

commit to user

sikap mesti diperhitungkan oleh guru dalam memintal obyek eksperimen

itu.

5)

Tak semua ki kesulitan boleh dieksperimenkan, begitu juga masalah mengenai

rohaniah, beberapa segi kehidupan social dan keimanan manusia.

Kemungkinan lain karena sangat terbatasnya suatu perlengkapan, sehingga masalah

itu enggak bias diadakan percobaan karena alatnya belum ada.

(http://nilaieka.blogspot.com diakses 9 Januari 2011).

d.

Alasan Pemanfaatan Metode Eksperimen

Terserah beberapa alasan pemakaian eksperimen adalah (Soli Abimanyu,

dkk, 2009: 17):

1)

Dapat menumbuhkan cara nanang sensibel dan ilmiah.

2)

Dapat memungkinkan siswa belajar secara aktif dan mandiri.

3)

Boleh mengembangkan sikap dan perilaku kritis, tidak mudah percaya

sebelum suka-suka bukti-bukti maujud.

Mulyani Sumantri (2001: 136) mengemukakan harapan penggunaan

metode eksperimen adalah:

a.

Metode eksperimen diberikan untuk member kesempatan kepada peserta

didik agar dapat mengalami sendiri ataupun mengamalkan sendiri, mengikuti

suatu proses, memaki satu target, menganalisis, membuktikan dan

menarik kesimpulan sendiri tentang suatu objek, kejadian atau proses

sesuatu.

b.

Metode eksperimen dapat menumbuhkan cara berfikir rasional dan

ilmiah.

Prosedur

eksperimen

menurut

Roestiyah

(2001:81)

yaitu

(http://www.nilaieka.blogspot.com diakses 9 Januari 2011):

1)

Perlu dijelaskan kepada siswa tentang maksud eksprimen, mereka harus

mengarifi masalah yang akan dibuktikan melampaui eksprimen.

2)

memberi penjelasan kepada siswa tentang alat-alat serta bahan-bahan

yang akan dipergunakan n domestik eksperimen, situasi-situasi yang harus dikontrol

dengan eklektik, bujuk eksperimen, hal-hal yang perlu dicatat.

(25)

commit to user

3)

Sepanjang eksperimen berlanjut temperatur harus mengawasi pencahanan siswa.

Bila perlu memberi saran atau pertanyaan yang menunjang kesempurnaan

jalannya eksperimen.

4)

Setelah eksperimen selesai guru harus mengumpulkan hasil pendalaman

murid, mendiskusikan di kelas, dan mengevaluasi dengan tes atau cak bertanya

jawab.

e.

Kekuatan dan keterbatasan metode eksperimen

Menurut Mulyani Sumantri (2001: 136) kekuatan dan keterbatasan

metode eksperimen adalah sebagai berikut:

1)

Kelebihan:

a)

Membuat pesuluh didik percaya pada kebenaran kesimpulan

percobaannya sendiri dari pada sekadar menyepakati introduksi guru atau buku.

b)

Peserta pelihara aktif terlibat mengumpulkan fakta, pengumuman atau data

yang diperlukan melampaui percobaan yang dilakukannya.

c)

Dapat menggunakan dan melaksanakan prosedur metode ilmiah dan

berfikir ilmiah.

d)

Memperkaya dengan hal-hal yang berperangai objektif, realities dan

menghilangkan verbalisme.

e)

Hasil belajar menjadi kepemilikan peserta didik yang bertalian lama.

Menurut Syaiful Bahri Djamarah, (2000) kelebihan metode

eksperimen adalah:

a)

Metode ini dapat mewujudkan anak didik lebih percaya atas kebenaran

maupun kesimpulan berdasarkan percobaannya sendiri tinimbang hanya

menyepakati kata hawa atau kiat.

b)

Anak didik dapat mengembangkan sikap bagi mengadakan studi

eksplorasi (menjelajahi) mengenai mantra dan teknologi.

c)

Dengan metode ini akan terbina manusia yang bisa membawa

terobosan-terobosan baru dengan kreasi bak hasil percobaan

yang diharapkan boleh bermanfaat bagi kesejahteraan jiwa manusia.

(http://nilaieka.blogspot.com diakses 9 Januari 2011).

(26)

commit to user

2)

Keterbatasan metode eksperimen:

a)

Memerlukan peralatan percobaan yang komplit

b)

Dapat hadang laju pembelajaran dalam penelitian yang

memerlukan masa yang lama

c)

Menimbulkan kesulitan kerjakan suhu dan peserta didik apabila adv minim

berpengalaman dalam penajaman

d)

Kegagalan dan kesalahan dalam bereksperimen akan berakibat pada

kesalahan menyingkat.

Menurut Syaiful Bahri Djamarah, (2000) Kekurangan metode

percobaan sebagai berikut:

a)

Tidak cukupnya gawai-alat mengakibatkan tak setiap anak didik

berkesempatan mengadakan ekperimen.

b)

Jika eksperimen memerlukan jangka musim yang lama, anak asuh tuntun

harus menanti bakal melanjutkan cak bimbingan.

c)

Metode ini lebih sesuai buat menyajikan bidang-parasan ilmu dan

teknologi (http://nilaieka.blogspot.com diakses 9 Januari 2011).

Dalam metode eksperimen, hawa bisa mengembangkan keterlibatan

fisik dan mental, serta emosional siswa. Siswa mendapat kesempatan lakukan

melatih ketrampilan proses kiranya memperoleh hasil membiasakan yang maksimal.

Pengalaman nan dialami secara serta merta dapat tertanam internal ingatannya.

Keterlibatan jasad dan mental serta emosional siswa diharapkan dapat

diperkenalkan puas suatu cara atau kondisi pembelajaran yang bisa

menumbuhkan rasa berkeyakinan diri dan juga perilaku nan inovatif dan kreatif.

Pengajian pengkajian dengan metode eksperimen melatih dan mengajar siswa

untuk belajar konsep fisika selaras halnya dengan seorang ilmuwan fisika.

Siswa belajar secara aktif dengan menirukan tahap-tahap pembelajarannya.

Dengan demikian, siswa akan menemukan koteng konsep sesuai dengan hasil

yang diperoleh selama pengajian pengkajian.

Metode eksperimen dapat dikembangkan kecekatan-keterampilan

seperti: ketrampilan mengamati, menghitung, mengukur, membentuk pola,

membuat postulat, merencanakan eksperimen, memintasi laur,

(27)

commit to user

mengintrespresikan data, membuat kesimpulan sementara, meramal,

menerapkan, mengkomunikasikan dan mengajukan pertanyaan. (Bahan

Pembelajaran CBSA, 1991: 119).

Eksperimen adalah bagian nan musykil dipisahkan dari ilmu pengetahuan

alam, bisa dilakukan di laboratorium maupun di alam terbuka. Metode ini

mempunyai khasiat terdepan karena memberi camar duka praktis nan bisa

menciptakan menjadikan persamaan dan kemauan anak.

Hal-keadaan yang diperhatikan dalam eksperimen adalah melakukan peristiwa-kejadian

praktis dan bermanfaat internal kehidupan sehari-hari, membagi signifikasi

sejelas-jelasnya tentang landasan teori yang akan dieksperimenkan. Metode

eksperimen dalam pembelajaran IPA mempunyai keuntungan antara lain : siswa

aktif melakukan kegiatan, memberi kesempatan mengggunakan seluruh lima

indra, melatih intelektual anak asuh, siswa boleh berbuat kegiatan sesuai metode

ilmiah dan dapat menemukan sendiri temuan yang baru.

Keadaan yang harus diperhatikan oleh guru antara enggak : guru harus melatih

buat melaksanakan metode ilmiah, mesti perencanaan yang matang sebelum

mengerjakan eksperimen, memerlukan peralatan nan harus dipersiapkan

terlebih dahulu, eksperimen menjadi gagal apabila kondisi peralatan tidak

cocok sehingga kesimpulan salah.

Berlandaskan uraian di atas disimpulkan bahwa, Ilmu Pengetahuan

Umbul-umbul dapat berkembang pesat berkat metode ilmiah. Proses pembelajaran IPA

menuntut keterlibatan siswa secara aktif dalam proses pengajian pengkajian. Dengan

metode eksperimen kerumahtanggaan proses pembelajaran dapat melatih siswa

mengembangkan ketrampilan intelektualnya. Diharapkan metode eksperimen

privat proses pembelajaran IPA akan dapat meningkatkan pengajuan berlatih

dan vitalitas belajar secara aktif pada siswa

(28)

commit to user

B.

Kerangka Berfikir

Kerangka berfikir dari penerimaan metode eksperimen boleh

meningkatkan kemampuan belajar IPA merupakan sebaga berikut:

Gambar 1 : Kerangka Berfikirr

C.

Postulat Tindakan

Hipotesis tindakan dalam penelitian ini ialah eksploitasi metode

eksperimen dapat meningkatkan kemampuan belajar tentang gaya pada petatar

kelas V SDN 2 Tegalgiri, Nogosari, Boyolali.



Kondisi Awal

1. Hawa belum menggunakan metode eksperimen.

2. Siswa kelesa belajar

3. Siswa tekor aktif

4. Hasil berlatih IPA rendah

Tindakan

Siklus 1

1. Pendedahan dengan metode eksperimen

2. Siswa tertarik belajar IPA

3. Siswa aktif

4. Hasil belajar IPA meningkat

Siklus 2

1. Pembelajaran menyenangkan

2. Siswa bersemangat

3. Siswa aktif

4. Hasil membiasakan meningkat

Kondisi Akhir

1. Prosentase ketuntasan naik

2. Rata-rata kelas menaiki

3. Harapan tercapai

4. Pendedahan berdampak

(29)

commit to user

BAB III

METODE Penelitian

A.

Pendekatan Pengkhususan

Penelitian pada hakikatnya merupakan suatu usaha bagi menemukan,

mengembangkan,

dan

menguji

validitas

satu

amanat

dengan

menggunakan metode-metode ilmiah. Penelitian merupakan upaya untuk

melebarkan pengetahuan, meluaskan dan menguji teori. N domestik

kaitannya dengan upaya ekspansi pengetahuan, Welberg (1986) dalam

Aunurrahman, dkk (2009: 1-3) mencadangkan lima langkah pengetahuan menerobos

penajaman, yakni: (1) mengidentifikasi masalah penelitian, (2) melakukan studi

empiris, (3) menyatukan dan mereview, dan (4) menunggangi dan mengevaluasi

(McMillan dan Schumacher, (2001) dalam Aunurrahman, dkk (2010: 1-3).

Penelitian tindakan ialah satu bentuk riset yang bersifat

reflektif nan dilakukan oleh pegiat dalam masyarakat social dan berniat untuk

memperbaiki pekerjaannya, mengetahui tiang penghidupan ini serta situasi di mana

pekerjaan ini dilakukan (Kemmis dan Carr, dalam Aunurrahman, dkk, 2010: 3-5).

Berdasarkan kedua pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa, metode

merupakan suatu cara lakukan memperoleh suatu kebenaran. Dengan demikian intern

pemisahan suatu problem dipilih metode yang tepat sehingga hasilnya bisa

dipertanggung jawabkan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif

karena pendekatan kualitatif mengarah kepada keadaan individu secara holistik

(utuh), yang didasarkan atas pertimbangan bahwa penelitian ini bermaksud untuk

mendiskripsikan karakteristik subyek adapun minat belajar Ilmu Pengetahuan

Alam melalui penerimaan dengan penerapan metode eksperimen. Pendalaman

tindakan inferior yaitu penelitian praktis yang dimaksudkan untuk mengoreksi

penerimaan di inferior. Upaya perbaikan ini dilakukan dengan melaksanakan

tindakan bikin berburu jawaban atas persoalan yang diangkat berusul kegiatan

tugas sehari-waktu di papan bawah.

(30)

commit to user

Perencanaan Perencanaan Perencanaan

Refleksi Aksi Refleksi Aksi Refleksi Aksi

Obsevasi Observasi Observasi

Gambar 2 : Rangkaian Persiapan dan Tindakan

Dari definisi di atas maka boleh disimpulkan bahwa penyelidikan tindakan

papan bawah adalah penajaman tindakan dalam rataan pendidikan yang dilaksanakan

dalam daerah kelas dengan tujuan bakal memperbaiki dan ataupun meningkatkan

kualitas pembelajaran. Makanya karena itu pendekatan yang digunakan dalam

penelitian tindakan kelas ini adalah pendekatan kualitatif karena pendekatan

kualitatif condong kepada keadaan individu secara holistik (utuh), yang

didasarkan atas pertimbangan bahwa eksplorasi ini bertujuan untuk

mendiskripsikan karakteristik subyek tentang minat membiasakan Ilmu Pengetahuan

Alam menerobos penataran dengan penerapan metode eksperimen

B.

Tempat dan Waktu Penelitian

1.

Kancah

Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 2 Tegalgiri, Nogosari,

Boyolali. Alasan pemilihan medan ini karena sekolah ini sebagai tempat

mengajar penyelidik sehingga dengan pertimbangan tempat mengajar dan

data-data yang diperlukan mudah didapatkan serta penyelidik dapat secara langsung

menggunakan data-data yang terserah sebagai pertimbangan untuk awalan maupun

tindakan selanjutnya. Dipilih kelas V karena pemeriksa mematamatai bahwa

pembelajaran IPA di kelas bawah V siswanya belum terlibat secara serempak

mengalami dan membuktikan sendiri proses hasil percobaan yang dilakukan

sehingga siswa tekor bersemangat kerumahtanggaan mengajuk kegiatan sparing

mengajar. Adapun siswa inferior V berjumlah 10 terdiri dari 8 murid putra dan 2

siswa putri.

2.

Masa

Penelitian ini dilaksanakan plong wulan Januari sampai Juni 2011

(semester genap tahun tanzil 2010/2011).

(31)

Adapun jadwal penelitian dilampirkan sebagai berikut:

JADWAL Studi

N

udara murni Jenis Kegiatan

Alokasi masa

Januari Februari Maret April Mei Juni

1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 Anju penelitian

1. Menyusun proposal

x x

2. Penguatan proposisi x 3. Pembuatan perkakas x x

2 Pelaksanaan Tindakan x

1. Siklus I x

a. Action dan pengambilan data x

b. Pengolahan data X x

c. Interpretasi data X

2. Siklus II x x x

a. Action dan pengambilan data x x

b. Pengolahan data x x

c. Tafsiran data x

3 Pelaporan

a. Perencanaan manifesto x

b. Penyempurnaan rancangan x

c. Penyusunan butir-butir x

d. Penyerahan laporan

(32)

commit to user

C.

Data dan Sumber Data

Diversifikasi data nan digunakan ada tiga, adalah data yang berhubungan dengan

proses, dampak tindakan yang dilakukan, dan data yang digunakan sebagai pangkal

menilai kesuksesan tindakan yang akan dilakukan. Data yang berbimbing dengan

proses berupa data mengenai peningkatan kemampuan berlatih IPA melalui

penerimaan eksperimen.

Sumber data intern penelitian ini dibedakan menjadi dua ialah: perigi data

primer dan perigi data sekunder. Perigi data primer yang diperlukan dalam

penekanan ini pecah dari pelajar, master kelas V, kepala sekolah ataupun pihak tak yang

berhubungan. Data yang diperoleh pecah pesuluh bermaksud lakukan mengetahui

kemampuan sparing IPA puas petatar kelas V. Sedangkan sendang data sekunder privat

penekanan ini berasal dari dokumentasi, tes hasil membiasakan, observasi dan referensi

wawanrembuk.

D.

Teknik Pengurukan Data

Penetapan metode pengumpulan data berdasarkan sreg tujuan investigasi yang

akan dicapai lagi berdasar pada kebutuhan dan sumber data. Metode digunakan

internal penekanan ini yakni:

1.

Mencatat dokumen, teknik ini digunakan untuk mengumpulkan data yang berupa

data-data tertulis, ialah hasil ulangan surat kabar.

2.

Observasi nan dilaksanakan penelitian ini adalah observasi langsung nan

disebut dengan observasi langsung dolan pasif nan dilakukan bagi

mengamati aktivitas sejauh proses pembelajaran IPA.

3.

Wawancara teknik penelitian ini adalah mengumpulkan data yang mengharuskan

seorang peneliti mengadakan pertautan bertepatan secara lisan, ataupun tatap tampang

dengan sendang sosi, baik dalam peristiwa sebenarnya maupun dalam peristiwa sengaja

dibuat untuk keperluan tersebut.

(33)

commit to user

4.

Tes

Tes adalah suatu kaidah digunakan untuk mencari data dengan mengajukan

tanya kepada siswa secara termaktub.

E.

Validitas Data

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau

kesahihan suatu instrument. Suatu instrument nan kurang valid atau kurang halal

memiliki validitas rendah (Arikunto, 1998: 160 privat Aunurrahman, dkk (2010 ).

Dalam penelitian ini buat menjamin kesahihan data dan mengembangkan

validitas data yang dikumpulkan dalam pengkajian ini yakni trianggulasi data yaitu

mengumpulkan data sejenis berpangkal beberapa sumber data yang berbeda misalnya, data

yang kasatmata makrifat dibandingkan dengan arsip ataupun dokumen, dan proses

pembelajaran. Sebelum diadakan tindakan 70% nilai pelajar di bawah KKM 6,0 pada

pembelajaran tentang gaya. Pasca- diadakan tindakan diharapkan siswa yang

memperoleh poin menunaikan janji KKM 80% dari jumlah peserta.

F.

Teknik Analisis Data

Menurut Huberman (2007: 19-20) “Analisis n kepunyaan tiga kegiatan yaitu

:1) Potongan harga data, 2) Penyampaian data dan 3) penarikan penali ataupun verifikasi.

Analisis bak sesuatu nan jalin menjalin pada momen sebelum, selama dan pasca-

pengumpulan data internal gambar nan ekuivalen untuk membangun wawasan umum.

Tiga diversifikasi kegiatan analisis dan kegiatan pengumpulan data merupakan proses siklus

dan interaktif. (

http://nilaieka.blogspot.com

diakses 9 Januari 2011).

Penyajian data

Analisis Penarikan kesimpulan

Reduksi data

(34)

commit to user

G.

Penanda Kinerja/Keberhasilan

Indikator keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas ini yakni pemerolehan

nilai pesuluh menyempurnakan KKM, kemampuan belajar dan hasil belajar pelajar

dibandingkan dengan sebelumnya. Keadaan ini ditunjukkan dengan adanya kemenangan

pelajar yang dapat memintasi materi pelajaran mengenai gaya melalui metode

eksperimen.

Proses bikin memperoleh indicator keberuntungan penelitian tindakan dengan

melakukan observasi terhadap pesuluh kerumahtanggaan kegiatan penelaahan, mengadakan

evaluasi hasil pembelajaran, dan menganalisis hasil evaluasi siswa.

Kerjakan mengukur hasil ketercapaian tujuan penelitian, plong siklus terakhir

sedikitnya:

1.

80% peserta menunjukkan keaktifan intern dan kesungguhan dalam mengerjakan

percobaan untuk mendapatkan denotasi mengenai gaya lega penerimaan IPA

kelas V SD.

2.

80 % pesuluh berharta menjawab pertanyaan-pertanyaan akan halnya gaya.

3.

80 % siswa mencapai ketuntasan nan akan dicapai adalah memperoleh nilai

minimal menunaikan janji KKM yaitu 6,0.

H.

Prosedur Eksplorasi

Riset ini diharapkan dapat menghasilkan cara-cara meningkatkan

aktivitas pesuluh sehingga dapat kejedot keberhasilan petatar. Oleh karena itu hawa

IPA, Kepala Sekolah serta penyelidik dilibatkan sejak:

a.

Perencanaan tindakan

b.

Pelaksanaan tindakan

c.

Observasi dan monitoring

d.

Refleksi

e.

Evaluasi

Sedangkan langkah-langkah untuk setiap siklus perlakuan penelaahan IPA adalah

seumpama berikut:

(35)

commit to user

a.

Siklus I

1) Perencanaan Tindakan

a)

Guru menciptakan menjadikan Rancangan Pelaksanaan Penelaahan (RPP) dengan

menggunakan metode eksperimen.

b)

Meluangkan kendaraan pendedahan bikin melakukan eksperimen.

c)

Membuat instrumen observasi.

d)

Membuat lembar evaluasi pembelajaran

2) Pelaksanaan Tindakan

a)

Guru menerapkan rang pembelajaran dengan menggunakan metode

eksperimen pada konsep kecenderungan.

b)

Siswa

belajar

IPA

pada

konsep

gaya

dengan

melakukan

percobaan/eksperimen.

3) Observasi

Pelaksanaan observasi maka dari itu suhu papan bawah 5 (pengkaji) bersama pengontrol. Tugas

penilik yaitu mengamati kegiatan hawa dan petatar selama proses

pembelajaran berlangsung.

4) Evaluasi dan Refleksi

Temperatur melakukan evaluasi dan refleksi dari kegiatan perencanaan,

pelaksanaan, dan observasi yang dikolaborasikan dengan guru pembimbing

penelitia (supervisor). Jika hasil evaluasi dan refleksi siklus I belum terjadi

kenaikan kemampuan siswa, maka dapat dilanjutkan ke siklus II, namun

jika telah terjadi peningkatan, maka tidak wajib dilanjutkan ke siklus II dan

siklus seterusnya.

(36)

commit to user

b.

Siklus II

1)

Perencanaan Tindakan

Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I, pemeriksa mengadakan perbaikan

Rencana Pelaksanaan Penerimaan terutama pada penerapan metode

eksperimen.

2)

Pelaksanaan Tindakan.

a)

Master menerapkan rencana pembelajaran dengan menggunakan metode

eksperimen plong kecondongan makin ditingkatkan lagi.

b)

Pesuluh belajar IPA tentang gaya dengan melakukan eksperimen/

percobaan.

3) Observasi

Pelaksanaan observasi hampir sama denga siklus I, yaitu guru kelas V

(Pemeriksa) bersama pengontrol mengkritik kegiatan guru dan peserta selama

proses pembelajaran berlangsung.

4)

Evaluasi dan refleksi dari kegiatan perencanaan pelaksanaan, dan observasi

yang dikolaborasikan dengan guru pembimbing studi (ahli nujum). Jika

hasil evaluasi dan refleksi siklus II belum memenuhi indikator kenerja

penelitian, maka dapat dilanjutkan ke siklus III, belaka jika sudah memenuhi

indicator kinerja penelitian, maka bisa diakhiri puas siklus II.

Beralaskan prosedur studi tersebut di atas, Penelitian Tindakan Inferior

yang akan dilaksanakan dapat digambarkan sebagaimana kerangka di bawah ini :

Perencanaan 1 Perencanaan 2 Perencanaan 3

Refleksi Gerakan Refleksi Aksi

Obsevasi Observasi

Rangka 4 : Siklus I dan II

Siklus

I

rekomen dasi

Siklus

II

(37)

commit to user

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.

Diskripsi Lokasi Investigasi

Penelitian dilaksanakan di Sekolah Pangkal Negeri 2 Tegalgiri, UPT Dikdas dan

LS. Kecamatan Nogosari, Kabupaten Boyolali. Sekolah sumber akar Kewedanan 2 Tegalgiri

tepatnya terletak di dukuh Kecik Rt 05/04, desa Tegalgiri, kecamatan Nogosari,

kabupaten Boyolali, provinsi Jawa Paruh. Sekolah Dasar Negeri 2 Tegalgiri

dipimpin oleh seorang atasan sekolah, medium staf pembimbing terdiri dari 6 orang guru

papan bawah yang semuanya berstatus Fungsionaris Kewedanan Sipil dan seorang hawa agama yang

sekali lagi berstatus pegawai area sipil. Selain PNS, lagi terletak koteng temperatur wiyata

bhakti nan mengajar mata cak bimbingan pendidikan tubuh olahraga dan kesehatan.

Selain itu masih ada seorang karya bhakti/penjaga dan dua orang tenaga

perpustakaan.

Total siswa di Sekolah Dasar Negeri 2 Tegalgiri tergolong sedikit, yakni

dengan rincian ibarat berikut:

Grafik 2 Jumlah Petatar Siswi SDN 2 Tegalgiri

No

Kelas

Suami-suami

Cewek

Total

1

I

7

9

16

2

II

6

7

13

3

III

7

6

13

4

IV

5

5

10

5

V

8

2

10

6

VI

4

7

11

Jumlah

37

36

73

Dilihat dari diagram tersebut di atas menunjukan bahwa kuantitas murid di Sekolah

Dasar Negeri 2 Tegalgiri terperingkatkan sedikit. Hal ini disebabkan oleh luas wilayah desa

(38)

commit to user

Tegalgiri yang semata-mata sedikit dan dalam satu desa terletak catur sekolah. Selain itu

juga disebabkan banyaknya pasangan atma kaya yang merantau.

Dengan jumlah murid yang sekadar 73 anak asuh dengan galibnya per kelas terdiri

berpunca 12 anak asuh, memungkinkan pembelajaran yang kian efektif. Pembelajaran di

Sekolah Bawah Daerah 2 Tegalgiri saat ini memperalat kurikulum tingkat runcitruncit

pendidikan. Tetapi pengetahuan yang ada meskipun total siswa kelas V nan hanya

terdiri dari 10 anak, internal pembelajaran IPA khusunya puas kompetensi asal gaya

belum memperoleh nilai maksimal sesuai dengan KKM yang telah ditentukan plong

tadinya tahun tutorial. Makanya karena itu peneliti mengadakan penelitian dengan

memperalat metode pembelajaran eksperimen bikin meningkatkan prestasi hasil

belajar siswa.

B.

Diskripsi Prosedur Penelitian dan Hasil Penelitian

1.

Kegiatan Siklus I

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan 2 siklus, yakni siklus satu dan 2.

Kegiatan dalam siklus 1 dilaksanakan dalam 3 kali pertemuan 6 X 35 menit.

Pelaksanaan siklus 1 puas terlepas 7 Februari 2011, 21 Februari 2011, dan 23

Februari 2011. Akan halnya tahapan siklus 1 merupakan seumpama berikut:

a.

Tahap Perencanaan

Perencanaan disusun berdasarkan hasil ulangan awal dan hasil pengamatan

refleks yang dilakukan maka itu peneliti pada pembelajaran IPA kelas V materi kecenderungan

ternyata masih terwalak beberapa kehilangan. Situasi ini dapat dilihat berasal hasil tesawal.

Sedangkan bagan soal jabaran nan terdiri bersumber 10 soal nan sudah diujikan

validitasnya kerjakan dapat dipergunakan sebagai alat testimoni manifestasi. Tes tersebut diberikan

kepada anak sebelum melaksanakan tindakan. Hasil tes tersebut digunakan bak

target pertimbangan untuk langkah pada pertemuan ke 2 dan kesannya digunakan

sebagai alamat perbandingan dengan hasil pada pertemuan ke dua nantinya dan

persuaan berikutnya.

(39)

commit to user

Dari hasil pengecekan awal nan dilaksanakan sebelum berbuat tindakan

menunjukan bahwa berasal 10 soal nan diberikan sekadar ada 3 anak (30%) yang

memperoleh poin di atas KKM (60) atau tuntas. Sedangkan 7 anak (70%) yang bukan

mendapat nilai tekor semenjak KKM maupun belum tuntas. Begitu pula dengan rata-rata

inferior sekadar mencapai 48. Untuk bertambah jelasnya hasil tes mulanya/sebelum tindakan dapat

dilihat dalam grafik berikut:

Tabel 3 Kredit hasil Belajar IPA Kelas V SD N 2 Tegalgiri Materi Gaya Sebelum

dilakukan tindakan

No. Nama

KKM

Biji

Pengumuman

1

60

60

Tuntas

2

60

40

Bukan Tuntas

3

60

70

Tuntas

4

60

50

Lain Tuntas

5

60

50

Tidak Tuntas

6

60

40

Bukan Tuntas

7

60

60

Tuntas

8

60

30

Tak Tuntas

9

60

40

Lain Tuntas

10

60

40

Tidak Tuntas

Jumlah

480

Biasanya

48

Di dalam melaksanakan tindakan ini dilakukan dengan menunggangi metode

eksperimen/percobaan. Kegiatan pada pertemuan 1 diadakan pengamatan yang

dilakukan makanya teman sejawat. Dari hasil pengamatan observer/teman sejawat tersebut

kemudian dilakukan interviu cak bagi menemukan pokok permasalahan yang

kesudahannya digunakan sebagai karier pelaksanaan tindakan restorasi seterusnya.

Langkah-langkah tindakan puas persuaan ke 2, direncanakan secara teliti

oleh peneliti nan selalu berkonsultasi dengan jodoh sejawat. Puas pertemuan ke 2

ini peneliti menyiapkan pelaksanaan pembelajaran dengan mengefektifkan dan

memaksimalkan penggunaan metode eksperimen/percobaan.

(40)

commit to user

Materi yang dipilih sengaja dibedakan dengan materi sreg persuaan

pertama, sahaja masih dalam ranah kecondongan. Peristiwa ini dilkukan peneliti agar materi yang

diajarkan tidak dihafalkan pelajar makin terlampau karena diajarkan iteratif-ulang.

Sehingga efektifitas penerapan metode eksperimen keberhasilannya dapat jujur.

Begitu juga dengan tindakan sreg persuaan ke 3.

b.

Kegiatan Tindakan

1)

Perjumpaan 1

Pada pertemuan pertama ini master menyampaikan materi tendensi dengan parameter

sebagai berikut :

5.1.1 Membandingkan kecepatan jatuh dua benda (yang berbeda selit belit, bentuk, dan

ukuran) dari ketinggian tertentu.

5.1.2 Menyimpulkan bahwa kecenderungan gravitasi menetapkan benda bersirkulasi ke sumber akar.

Suhu mengawali penerimaan dengan kegiatan sebagai berikut :

a)

Berdo’a

b)

Mengabsen eksistensi siswa

c)

Mempersiapkan alat/ media pembelajaran

d)

Apersepsi dengan mengajukan beberapa pertanyaan.

Misalnya:

(1)

Siapa yang memiliki magnet?

(2)

Mungkin nan sepedanya terserah magnetnya?

(3)

Bakal apa magnet pada sepeda itu?

e)

Membentangkan maksud penelaahan.

Setelah itu turut pada kegiatan inti yang terdiri dari 3 tahapan. Panjang-tahapan

dalam kegiatan inti adalah sebagai berikut:

a)

Pengkajian

Dalam tahap ini guru mengasihkan penjelasan ringkas akan halnya materi yang akan

dipelajari, kemudian pesuluh dibentuk privat kelompok-gerombolan untuk melaksanakan

percobaan/eksperimen.

(41)

commit to user

b)

Tahap Elaborasi

Kegiatan puas tahap elaborasi adalah setiap kelompok yang diwakili maka itu riuk

satu mulai sejak anggota kelompok lakukan mempresentasikan hasil kerja gerombolan.

Sedangkan kerumunan yang lain menanggapi.

c)

Tahap Pembenaran

Tahap konfirmasi guru bersama peserta mewujudkan hasil kesimpulan semenjak kegiatan

nan mutakadim dilakukan. Selain itu n domestik tahap ini temperatur pun memberikan pujian dan

penghargaan terhadap hasil kerja siswa.

Setelah semua tahapan dilalui kemudian masuk plong kegiatan penghabisan. Sreg

kegitan akhir ini digunakan guru untuk mendapatkan umpan balik atas keberuntungan

pembelajaran nan sudah lalu dilakukan dengan mengadakan evaluasi.

2)

Pertemuan ke 2

Pada pertemuan ke 2 ini materi nan diajarkan tetap dalam sunyi yang setolok

merupakan mengenai gaya namun dengan indikator yang berlainan. Parameter yang

digunakan privat pertemuan ke 2 ini ialah tendensi menggosok

Pada dasarnya kegiatan pada pertemuan ke 2 ini hampir sebabat dengan kegiatan

plong pertemuan ke 1, akan tetapi plong pertemuan ke 2 lebih ditingkatkan lagi, dengan

menyibuk hasil pengamatan dan konsultasi dengan teman sepekerjaan.

Guru mengawali penerimaan dengan kegiatan bagaikan berikut :

a)

Berdo’a

b)

Mengabsen kesanggupan siswa

c)

Mempersiapkan alat/media pengajian pengkajian

d)

Apersepsi dengan mengajukan beberapa pertanyaan.

Misalnya :

(1)

Jelaskan tentang gaya gesek?

(2)

Berilah contoh bahwa gaya gesek dapat terjadi karena sentuhan 2 parasan

benda yang ubah bersengketa?

(42)

commit to user

Pasca- itu masuk pada kegiatan inti yang terdiri dari 3 tahapan.

Tahapan-tahapan dalam kegiatan inti yaitu sebagai berikut:

a) Eksplorasi

Dalam tahap ini guru mengasihkan penjelasan singkat tentang materi gaya

gesek, kemudian pesuluh dibentuk dalam kerubungan-kerumunan kerjakan melaksanakan

percobaan/eksperimen

b) Tahap Elaborasi

Kegiatan pada tahap elaborasi adalah setiap gerombolan yang diwakili oleh salah

satu dari anggota kerubungan lakukan mempresentasikan hasil kerja kerubungan.

Sedangkan kerubungan nan lain menanggapi.

c) Tahap Konfirmasi

Tahap konfirmasi hawa bersama siswa membuat hasil kesimpulan berusul kegiatan

yang sudah lalu dilakukan. Selain itu dalam tahap ini hawa juga memberikan pujian dan

penghargaan terhadap hasil kerja siswa.

Privat kegiatan penghabisan peserta dengan arahan guru mewujudkan inferensi.

Kemudian diadakan evaluasi dan guru memasrahkan tindak lanjut.

3)

Pertemuan ke 3

Guru mengawali pembelajaran dengan kegiatan seumpama berikut :

a)

Berdo’a

b)

Mengabsen kesediaan siswa

c)

Mempersiapkan alat/kendaraan pendedahan

d)

Apersepsi dengan mengajukan sejumlah pertanyaan.

Misalnya:

(1)

Apakah yang kamu ketahui tentang kecondongan gesek?

(2)

Bagaimana prinsip memperkecil gaya menggosok?

(3)

Bagaimana cara menaikan drum nan bersisi aspal ke dalam truk agar lebih

ringan?

(4)

Pernahkah kamu ke rangkaian gunung?

(1)

commit to user

Begitu lagi dengan pertemuan ke 3, dalam pertemuan ini tetapi ada rendah

peningkatan baik pada ketuntasan maupun sreg biasanya inferior. Dapat kita ketahui

pada ketuntasan tidak terjadi peningkatan ialah dari 80% konsisten 80% pada perjumpaan

ke 3. Padahal pada poin rata-rata cuma sedikit peningkatanya yaitu berusul 66

menjadi 67. Nilai tersebut masih di asal ketuntasan sekolah yaitu 7,5.

Perkembangan hasil belajar siswa pada siklus I digambarkan sebagai berikut:

a.

Kronologi hasil belajar afektif siswa sebagai berikut:

1)

Pelajar lebih siap mengikuti pembelajaran dan mampu menjawab pertanyaan

apersepsi yang diberikan guru

2)

Peserta makin gagah mencadangkan pendapat, karena kegiatan dikontrol secara

rutin makanya master.

3)

Dalam menjawab pertanyaan, siswa lebih berani dan cak hendak menjawab

soal utamanya bila siswa mengalami kesulitan dan kerumahtanggaan menyusun

kesimpulan.

4)

Siswa kelihatan makin bersemangat mengikuti penataran, karena proses

penataran begitu menyejukkan.

b.

Kronologi hasil belajar psikomotorik murid sebagai berikut:

1)

Tidak ada peserta nan tertinggal ikut kelas

2)

Menyiapkan kebutuhan belajar tanpa disuruh

3)

Mau mencatat dan merangkum mangsa pelajaran dengan baik.

4)

Siswa sudah nekat bertanya dan menunangi saran kepada hawa akan halnya bahan

les yang masih belum jelas.

5)

Banyak siswa nan menyanggang tangan mengajukan pertanyaan

6)

Segera membentuk keramaian diskusi

7)

Akrab dan mau berkomunikasi dengan guru.

c.

Perkembangan hasil belajar kognitif siswa

Sreg siklus I pasca- diadakan tes kemampuan awal dilanjutkan dengan

pelajar memufakati materi gaya. Proses pendedahan pada setiap pertemuan yaitu

pertemuan 1 sebatas dengan pertemuan 3 disampaikan dengan kebijakan dan

(2)

commit to user

terencana dimulai dari kegiatan awal, inti, dan penghabisan. Kegiatan ini terfokus

mengaktifkan siswa menginjak dari memperhatikan penjelasan, mengamalkan

pengamatan dan percobaan untuk memperoleh kesimpulan, mendemonstrasikan,

tugas keramaian, berdiskusi, tugas solo nan diakhiri dengan evaluasi.

Sesudah dilaksanakan siklus I dan dievaluasi boleh dilihat bahwa tingkat

kesuksesan berdasarkan kenaikan baik rata-rata kelas ataupun tingkat ketuntasan

ternyata penerapan metode eksperimen pada Pelajaran IPA dengan materi gaya di

SD N 2 Tegalgiri belum maksimal. Oleh karena itu mesti diadakan tindakan

lanjutan untuk siklus ke 2 untuk memahami efektifitas penerapan metode

eksperimen terhadap kemajuan membiasakan siswa papan bawah V.

2.

Siklus II

Hasil siklus 2 pertemuan 1 nilai lazimnya sebesar 65 nan menunjukkan terjadi

penurunan bila dibandingkan dengan siklus 1 pertemuan 3 adalah 67. Hal ini dapat

ditolerir karena pada perjumpaan ke 1 siklus ke 2 ini terjadi selang musim. Cuma

penurunan itu tidak signifikan. Sedangkan tingkat ketuntasan lagi ambruk dari 80 %

pertemuan ke 3 siklus 1 menjadi 70 % perjumpaan 1 siklus 2. Akan tetapi penyebaran

nilai bertambah merata. Plong pertemuan 2 siklus dua sudah lalu cak semau peningkatan yang

signifikan. Bermula rata-rata papan bawah perjumpaan 1 siklus 2 merupakan 65 menjadi 69 sedangkan

ketuntasan dari 70% menjadi 90%. Hasil siklus ke 2 persuaan ke 3 ini akan

digunakan sebagai tolok ukur untuk mengukur keberhasilan penerapan metode

eksperimen dalam les IPA SD Negeri 2 Tegalgiri dengan materi gaya dengan

membandingkan dengan hasil pengecekan pada sediakala sebelum dilakukan tindakan. Hasil

pertemuan 3 siklus II terjadi kenaikan yang berguna dari umumnya pra tindakan 48

menjadi 76 pasca tindakan semenjana dari ketutasan bermula 30% menjadi 90%.

Perkembangan hasil belajar murid pada siklus I dapat digambarkan sebagai

berikut:

a.

Perkembangan hasil belajar afektif siswa bagaikan berikut:

1)

Petatar lebih siap mengikuti pembelajaran dan mampu menjawab pertanyaan

apersepsi yang diberikan guru

(3)

commit to user

2)

Siswa kian berani menampilkan pendapat, karena kegiatan dikontrol secara

rutin maka itu guru.

3)

Dalam menjawab cak bertanya, siswa kian berani dan mau menjawab

pertanyaan utamanya bila pelajar mengalami kesulitan dan kerumahtanggaan menyusun

kesimpulan.

4)

Siswa terlihat kian bersemangat menirukan penataran, karena proses

penelaahan seperti itu menyenangkan.

b.

Perkembangan hasil berlatih psikomotorik siswa bagaikan berikut:

1)

Tidak suka-suka murid yang tertinggal masuk kelas

2)

Menyiapkan kebutuhan belajar tanpa disuruh

3)

Kepingin mencatat dan menyingkat bahan pelajaran dengan baik dan berstruktur.

4)

Pelajar sudah dakar bertanya dan meminta saran kepada guru adapun incaran

tuntunan yang masih belum jelas.

5)

Banyak siswa yang mengangkat tangan mengajukan pertanyaan

6)

Segera membentuk kelompok diskusi

7)

Akrab dan mau berkomunikasi dengan temperatur.

c.

Jalan hasil belajar psikologis siswa

Siklus II ialah lanjutan dari siklus I bakal memantapkan dan bisa

membuktikan apakah pembelajaran metode eksperimen dalam pendedahan IPA

dapat meningkatkan hasil belajar pesuluh. Materi yang dipilih sengaja dibedakan

dengan materi pada setiap pertemuan, tetapi masih dalam nyenyat gaya. Hal ini

dilkukan peneliti agar materi yang diajarkan tidak dihafalkan siswa lebih dahulu

karena diajarkan berulang-ulang. Sehingga efektifitas penerapan metode

eksperimen keberhasilannya bisa andal. Hasil siklus II menunjukkan

peningkatan hasil sparing petatar yakni hasil persuaan 3 siklus II terjadi peningkatan

yang berharga mulai sejak rata-rata pra tindakan 48 menjadi 76 pasca tindakan menengah

bermula ketutasan dari 30% menjadi 90%. Dengan nilai tersebut menunjukan bahwa

penerapan metode eksperimen privat riset ini berhasil karena sudah sesuai

dengan indikator kemenangan

(4)

commit to user

Gerbang V

SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN

A.

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian penerapan metode eksperimen puas siswa kelas

V SD Kewedanan 2 Tegalgiri perian tuntunan 2010/2011 setelah dilakukan analisis dapat

diambil konklusi andai berikut:

1.

Hasil belajar pelajar SD Negeri 2 Tegalgiri pada materi gaya dengan menerapkan

metode eksperimen meningkat. Baik dari segi nilai maupun keaktifan dan

vitalitas belajar. Hal ini boleh dilihat berasal pemerolehan nilai pra tindakan dengan

pasca tindakan ialah dari biasanya pra tindakan 48 menjadi 76 pasca tindakan

medium berpokok ketutasan dari 30 % menjadi 90 %.

2.

Obstruksi nan ditemukan dalam penajaman ini adalah perian yang digunakan

sayang tidak sesuai dengan yang direncanakan, karena siswa kepingin mengulang

percobaannya.

3.

Kaidah mengatasi hambatan ini ialah dengan memantau setiap kegiatan dalam

ekeperimen dan membatasi waktu hendaknya boleh lebih tepat sesuai dengan jadwal

yang ditentukan.

B.

Implikasi

Penerapan pengajian pengkajian prosedur dengan metode eksperimen internal

pelaksanaan penataran IPA. Model yang dipakai dalam penelitian ini ialah

acuan siklus. Investigasi dilaksanakan dalam 2 siklus dan setiap siklus dilaksanakan

sejauh 3 bisa jadi peretemuan.

Siklus 1 dilaksanakan pada rontok 14 Februari 2011, 21 Februari 2011, dan

23 Februari 2011. Siklus ke 2 pada terlepas 04 April 2011, 06 April 2011, dan 20

April 2011. Materi yang diajarkan dalam setiap persuaan selalu berbeda lakukan

menyingkir siswa hafal karena adanya pengulangan. Hal ini digunakan cak bagi

memperoleh data yang lebih obyektif.

(5)

commit to user

Dari hasil penelitian menunjukan bahwa pendedahan dengan metode

eksperimen dapat meningkatkan prestasi dan semangat berlatih petatar. Selain itu papan bawah

akan lebih efektif dan menyenangkan. Secara awam telah terjadi perubahan nan

signifikan seperti nan telah diuraikan di atas.

Dalam pelaksanaan metode eksperimen juga mengalami bilang kendala

terutama nan berhubungan dengan alat, bahan dan kendaraan pembelajaran. Jika sekolah

belum memiliki fasilitas nan lebih maka dalam materi tertentu penerapan metode

eksperimen ini akan sulit dilaksanakan. Maka dari itu karena itu kemampuan temperatur dalam

menyiapkan perencanaan suntuk penting.

C.

Saran

Dengan menyibuk hasil penggalian di atas ternyata metode eksperimen dapat

meningkatkan prestasi berlatih siswa Kelas V SD Kewedanan 2 Tegalgiri. Oleh karena itu

metode eksperimen ini bisa diterapkan di kelas lain khususnya SD Distrik 2

Tegalgiri dan SD enggak yang punya karakteristik yang sekelas. Maka saran – saran

yang boleh diberikan peneliti untuk sumbangan peningkatan mutu pendidikan adalah

ibarat berikut:

a.

Cak bagi sekolah

Penelitian Tindakan Kelas bawah merupakan pelecok satu cara cak bagi meningkatkan mutu

sekolah.

b.

Bagi Temperatur

1)

Untuk meningkatkan pengejawantahan belajar pesuluh pada indra penglihatan les IPA

khususnya materi gaya dapat menggunakan metode eksperimen.

2)

Bakal memperoleh data yang valid gunakan materi yang berlainan

3)

Selalu berkonsultasi dengan kepala sekolah maupun padanan seprofesi bikin

menghadapi persoalan nan hinggap.

(6)

commit to user

c.

Bagi pesuluh

1)

Siswa kiranya selalu aktif dalam pembelajaran tidak doang didominasi

oleh suhu. Dan tidak mengirik bertanya dan mengeluarkan pendapat.

2)

Siswa dapat menerapkan hasil membiasakan dalam masyarakat sesuai dengan

harapan yang tercantum dalam dampak pengiring.

Source: https://text-id.123dok.com/document/1y9vedlq-peningkatan-kemampuan-belajar-ipa-tentang-gaya-dengan-metode-eksperimen-pada-siswa-kelas-v-sd-negeri-2-tegalgiri-nogosari-boyolali-tahun-ajaran-2010-2011.html

Posted by: likeaudience.com